Friday, April 11, 2014

UNSUR INTRINSIK NOVEL DAN FILM



PERBEDAAN UNSUR-UNSUR INTRINSIK DALAM NOVEL DAN FILM KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG
Oleh
ADIB AHKAMI


Identitas Buku

Judul                         : Kehormatan di Balik Kerudung
Pengarang                 : Ma’mun Affany
Penerbit                     : Sofia Publishing House
Halaman                    : 359 halaman
ISBN                        : 978-602-99860-0-6

Identitas Film

Judul                          : Kehormatan di Balik Kerudung
Sutradara                   : Tya  Subiakto Satrio
Produser                    : Fiaz Servia, Reza Servia, dan  Chand Prwez Servia
Produksi                    : PT. Kharisma Starvision Plus
Penulis                       : Amalia Putri dan Aurelia Amany,
Musik                         :  Tya Subiakto Satrio
Rilis                           : 27 Oktober 2011
Durasi                        : 105 menit
Bahasa                       : Bahasa Indonesia
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa secara tersusun. Namun, jalan ceritanya dapat menjadi suatu pengalaman hidup yang nyata, dan lebih dalam lagi novel mempunyai tugas mendidik pengalaman batin pembaca atau pengalaman manusia. Novel lahir dan berkembang dengan sendirinya sebagai sebuah genre pada cerita atau menceritakan sejarah dan fenomena sosial. Karya sastra termasuk novel mempunyai fungsi dulce et utile yang artinya menyenangkan dan bermanfaat bagi pembaca melalui penggambaran kehidupan nyata. Sebagai karya cerita fiksi, novel sarat akan pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan. Oleh karena itu, novel harus tetap merupakan cerita menarik yang mempunyai bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai tujuan estetik. Dengan adanya unsur-unsur estetik, baik unsur bahasa maupun unsur makna, dunia fiksi lebih banyak memuat berbagai kemungkinan dibandingkan dengan yang ada di dunia nyata. Semakin tinggi nilai estetik sebuah karya fiksi, secara otomatis akan mempengaruhi pikiran dan perasaan pembaca. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang di dalamnya memuat nilai-nilai estetika dan nilai-nilai pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan.
Novel kehormatan di balik kerudung karya Ma’mun Affany diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama, yang dibintangi oleh Donita, Andika Pratama dan Ussy Sulistiawati ini menceritakan tentang pengorbanan cinta antara Syahdu, Ifand, dan Sofia. Novel kehormatan di balik kerudung merupakan novel yang bertemakan religi. Disini pengarang menceritakan ada seorang gadis bernama Syahdu (Donita), Syahdu adalah wanita yang berhati mulia namun keras hati. Syahdu tinggal bersama ibunya (Erlin Sarintan) serta adik perempuannya, Ratih (Nadya Almira). Suatu ketika Syahdu berniat mengunjungi kakeknya. Dalam perjalanan, Syahdu bertemu Ifand Abdussalam (Andhika Pratama). Ifand adalah pemuda soleh namun berpikiran terbuka, dan cerdas. Syahdu ternyata satu tujuan dengan Ifand. Bukan hanya itu, ternyata rumah Ifand dan rumah kakeknya Syahdu (HS Abdullah Ali) berjarak tak terlampau jauh. Di sini, Ifand dan Syahdu pun berkenalan lebih akrab, yang pada akhirnya menumbuhkan benih cinta di hati mereka.
            Sofia (Ussy Sulistiawaty), gadis sekampung dengan Ifand, yang jatuh hati pula pada Ifand, namun Ifand tak pernah menanggapi serius. Sementara kakek Syahdu yang tahu keakraban Syahdu dengan Ifand, merasa tak nyaman. Banyak gunjingan warga. Kakek Syahdu meminta Syahdu meninggalkan desa agar tidak menjadi fitnah.
            Sekembalinya di rumah, Syahdu dihadapkan kenyataan pahit. Ibunya dirawat di rumah sakit, dan harus menjalani operasi. Biayanya sungguh besar. Dalam situasi genting itu, mantan kekasih Syahdu, Nazmi (Iwa Rasya) yang masih berusaha mendapatkan kembali cinta Syahdu, menawarkan bantuan dana guna membiayai operasi ibunya. Dengan satu syarat, Syahdu harus bersedia menikah dengannya.
            Mantan kekasihnya yang sah jadi suaminya, ternyata berbuat kasar. Syahdu diusir suaminya pada malam pernikahannya, karena syahdu berterusterang bahwa ia mencintai pria lain selain dirinya. Mengetahui Syahdu sudah menikah, Ifand kecewa. Ifand kemudian menikah dengan Sofia, gadis yang diam-diam selalu mencintainya. Pada kenyataannya, Ifand merasa beruntung. Sofia menunjukkan ketulusan cintanya melalui pengabdiannya sebagai seorang istri, sedangkan syahdu memilih bercerai dan menjadi seperti orang stres, mudah sakit, sering melamun, menyendiri dan pendiam. Adiknya, Ratih iba pada Syahdu. Diam-diam Ratih berkirim surat pada Ifand. Menceritakan tentang keadaan Syahdu, kakaknya. Dengan segala keikhlasan hati, Sofia meminta suaminya untuk menjenguk Syahdu.
            Sofia, yang kemudian membaca surat Ratih, terenyuh mengetahui penderitaan bathin dan fisik Syahdu. Sofia meminta Ifand membawa Syahdu untuk merawatnnya, bahkan Sofia rela jika Ifand menikahi Syahdu apabila Ifand menghendakinya. Ifand akhirnya memutuskan menikahi Syahdu untuk menghindari pergunjingan. Ifand, Syahdu dan Sofia pun tinggal serumah. Di sinilah konflik sebenarnya terjadi. Syahdu yang awalnya bahagia bisa bersama Ifand merasa bersalah dengan Sofia yang selalu baik padanya. Perasaannya semakin galau ketika melihat kelebihan-kelebihan Sofia yang tidak dimilikinya.
            Novel dan film kehormatan di balik kerudung ini bertemakan cinta dan poligami dalam konteks religi. Bertemakan cinta karena dalam kisah cinta, setiap pecinta bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Hal ini dapat terlihat dari tokoh utama pada film ini yaitu Syahdu yang diperankan oleh Donita dan Ifand yang diperankan oleh Andhika Pratama. Walaupun melalui pertemuan singkat namun pertemuan itu sudah membekas begitu dalam, keduanya sudah saling tertarik, bahkan jiwa mereka sudah saling mengisi.
Novel dan film kehormatan di balik kerudung mempunyai banyak perbedaan pada latar atau setting, adanya tokoh yang dihilangkan dan adanya perbedaan karakter pada awal ceritanya serta ending ceritanya pun berbeda. Pada bagian pertama novel dan filmnya sudah nampak jelas perbedaan setting tersebut, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini.
Tabel Perbedaan antara film dan novel Kehormatan di Balik Kerudung
Perbedaan novel dan film
Novel
Film
Rumah syahdu
Di Bangka

Di Bromo, karena panorama bromolah yang muncul.
Saat berbicara dengan ratih ingin pergi ke Pekalongan
Malam hari bertiup angin kencang di kamar

Siang hari di luar rumah


Perbedaan novel dan film

Novel

Film
Cara berjilbab syahdu

Jilbab segitiga yang dijepit di bawah dagu

Memakai syal (rambutnya masih kelihatan)
Transportasi ke Pekalongan
Kapal levina, kemudian menggunakan bus
Kereta api

Pertemuan pertama ifand dan syahdu
Duduk bersebelahan waktu berada di kapal
Duduk bersebelahan di taman saat menunggu kereta api

Mobil nazmi saat mengantar syahdu

Mobil Honda jazz hitam yang lewat di jalan raya
Mobil jib yang lewat di gurun pasir yang gersang
Makanan cemilan

Syahdu memakan kacang atom kesukaannya di kapal
Ifand memakan roti saat menunggu kereta

Jemputan syahdu di pekalongan

Di jemput andi dengan menggunakan motor
Di jemput andi dengan menggunakan sepeda ontel
Pakean  andi
Berjaket abu-abu
Berjaket hitam

Melihat ifand pertama kali di pekalongan

Naik motor
Jalan kaki
syahdu bertanya kepada andi nama pemuda itu
Di pantai
Duduk di halaman dekat dengan rumah
Selain setting tempat yang banyak perbedaannya, setting waktu yang digunakan pun berbeda, karena dalam novel kehormatan di balik kerudung menceritakan kisahnya itu pada saat bulan suci ramadhan. Sedangkan dalam filmnya tidak tergambar bahwa itu pada saat bulan suci ramadhan, karena tampak dengan jelas saat ifand menawari roti yang dimakannya kepada syahdu.
Perbedaan yang terjadi di dalam setting tempat dan alat transportasi antara novel dan film kehormatan di balik kerudung adalah sutradara memakai provinsi jawa timur sebagai tempat tinggal syahdu, tepatnya daerah sekitar gunung bromo, bukan Bangka yang di pakai sebagai tempat tinggal syahdu seperti yang terdapat dalam novelnya. Karena Bromo masih berada dalam satu pulau dengan kota Pekalongan yaitu berada di Pulau Jawa. Sehingga perbedaan budayanya tidak terlalu jauh. Hal tersebut secara otomatis juga mempengaruhi alat transportasi yang digunakan oleh syahdu untuk menuju ke Pekalongan, karena bromo dan pekalongan masih dalam satu pulau, maka syahdu menggunakan alat transportasi kereta api, sedangkan dalam novel syahdu bertempat tinggal di Bangka maka ia menggunakan kapal levina, dan bus untuk sampai di Pekalongan.
 Tidak hanya setting dari novel itu yang berbeda dengan filmnya karena dalam film kehormatan di balik kerudung ada tokoh yang dihilangkan yaitu tokoh syifa, syifa adalah salah satu tokoh dalam novel yang mencintai ifand. Syifa merupakan adik kelas ifand dulu waktu mereka duduk di sekolah dasar. Syifa pun merupakan gadis yang pertama dikenal oleh syahdu di kota pekalongan. Tiga tahun pun ia rela lewati demi menunggu cintanya terbalas oleh ifand. Namun di dalam film kehormatan di balik kerudung tokoh syifa tidak ada, gadis yang dikenal oleh syahdu pertama kali di pekalongan adalah sofiya, yang nantinya dia menjadi istri pertama ifand. Tidak dihadirkannya tokoh syifa dalam filmya karena mungkin tokoh syifa tidak dianggap penting, sehingga dapat digantikan langsung oleh sofiya. Tetapi jika seseorang sudah pernah membaca novel kehormatan di balik kerudung terlebih dahulu sebelum ia menonton filmnya, ia akan merasakan pemenggalan-pemenggalan yang terjadi antara novel dan filmnya tersebut, sehingga dapat dirasakan perbedaan antara novel dan filmnya.
Perbedaan karekter pun dapat dijumpai bagi seseorang yang sudah pernah membaca novel dan menonton film kehormatan di balik kerudung, yaitu dapat di lihat pada tokoh ifand dan syahdu yang terdapat pada bagian awal novel dan film kehormatan di balik kerudung. Di dalam novelnya syahdu lebih agresif ingin berkenalan dengan ifand, tetapi ifand menanggapinya dengan acuh tak acuh, hal itu terlihat saat ifand duduk di sebelah syahdu. Ifand hanya sibuk dengan bukunya sendiri. Tetapi di dalam filmnya ifand lebih agresif untuk berkenalan dengan syahdu, ifand duduk disamping syahdu di sebuah taman ketika mereka sedang menunggu kereta api datang. Kemudian ia menggoda syahdu yang berada di sampingnya dengan  cara memuji kecantikannya dan ingin memotret syahdu.   
Disamping perbedaan setting tempat dan waktu, adanya tokoh yang dihilangkan, adanya perbedaan karakter antara novel dan filmnya, ending dalam cerita di dalam novel dan filmnya pun berbeda. Pada novel kehormatan di balik kerudung ceritanya berakhir dengan happy ending, yaitu bersatunya kembali cinta antara ifand, sofiya dan syahdu. Mereka akhirnya hidup bersama dalam satu keluarga untuk membesarkan ifand kecil. Tetapi di dalam filmnya ceritanya berakhir dengan sad ending, karena tokoh syahdu meninggal dunia karena penyakit kanker rahim yang ia derita, dan akhirnya sofiya dan ifand membawa ifand kecil ke pekalongan.
Penokohan dan perwatakan dalam novel maupun film kehormatan di balik kerudung, antara lain:
a.    Tokoh utama
1.   Syahdu adalah wanita yang berhati mulia namun keras hati. Berparas cantik, baik dan ia akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan.
2.   Ifand adalah tokoh yang mampu membuat hati para wanita berdetak kencang. Tidak hanya parasnya saja yang tampan, tetapi ia juga rajin beribadah. Berhati mulia, baik dan suka menolong.
3.   Sofia adalah tokoh yang diam-diam mencintai ifand, walaupun tak mendapat balasan cinta dari ifand. Ia wanita yang berhati mulia, sopan, rajin beribadah, dan pemalu.


b.   Tokoh lainnya
1.      Ibu syahdu adalah seorang yang sholekha, baik hati, penyayang dan cinta kepada anak-anaknya.
2.      Ratih adalah adik syahdu, gadis langsing, berkulit putih, berbibir mungil ini sangat dekat dengan kakaknya syahdu. Ratih mempunyai sifat yang baik dan patuh terhadap keluarganya.
3.      Nazmi adalah mantan  pacar Syahdu yang masih mengharapkan Syahdu untuk kembali padanya. Dia memanfaatkan kekurangan syahdu untuk menjadikan dia istrinya. Nazmi adalah sosok suami yang keras kepala, kasar dan mudah marah, di samping itu dia juga sombong.
4.      Kakek syahdu adalah salah satu tokoh terpandang di kampungnya. Ia memunyai sifat yang baik, penyayang dan dihormati oleh sebagian warga di tempat itu. Oleh sebab itu kakek Syahdu yang tahu keakraban Syahdu dengan Ifand, merasa tak nyaman karena banyak gunjingan warga sehingga kakek Syahdu meminta Syahdu meninggalkan desa agar tidak menjadi fitnah.
5.      Nenek syahdu adalah tokoh yang cinta dan saynga kepada cucu-cucunya. Ia berhati baik dan patuh terhadap suaminya. Sifat patuhnya itu yang membuat ia membujuk syahdu tuk meninggalkan ifand dari kampung itu, walaupun sebenarnya ia tidak tega terhadap syahdu cucu yang ia sayangi.
6.      Ibu ifand adalah seorang yang sehari-hari selalu memakai jilbab sebagai penutup auratnya, ia baik, penyayang dan tidak sombong.
7.      Andi adalah adik sepupu syahdu. Ia baik, lucu, dan suka bergurai. Selama syahdu di rumah kakeknya ia yang setia mengantarkan dan menemani syahdu kemana pun syahdu ingin pergi.
Alur yang digunakan dalam novel dan film tersebut adalah alur campuran (alur maju mundur).  Hal tersebut dapat dilihat dari cerita yang diceritakan pengarang. Novel dan film tersebut pertama-tama menceritakan perjalanan syahdu pergi ke rumah kakeknya di pekalongan. Pertemuan singkat yang terjadi antara syahdu dan ifand dalam perjalanan membuat mereka saling tertarik dan saling cinta, bahkan jiwa mereka sudah saling mengisi, walaupun syahdu belum sempat mengenal namanya. Sesampai di rumah kakeknya syahdu menginap di kamar ibunya dulu, di kamar itu syahdu pun membayangkan ibunya dulu berdandan depan cermin yang sekarang di pakainya. Di tempat itu pula syahdu melamun tentang pertemuannya dengan ifand. Tidak hanya itu, syahdu saat ini tidak lagi hidup bersama ifand dan sofiya sering melamun atau mengenang kejadian-kejadian pada waktu sofiya dan syahdu sudah sama-sama menjadi istri ifand. Syahdu merasa malu terhadap ifand karena ia tidak bisa seperti sofiya.
Klimaks yang terjadi dalam novel dan film kehormatan di balik kerudung adalah perginya syahdu, istri nomor duanya ifand dari rumah yang mereka tempati bersama ifand dan sofiya. Syahdu pergi karena ia merasa tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan sofiya yang memiliki segalanya. Ia iri terhadap sofiya yang berhati mulia, sabar, ikhlas, tegar dalam menghadapi segala sesuatu yang menimpa dirinya dan keluarganya. Disamping itu syahdu pergi karena adanya pertengkaran dengan ifand, ia ingin memiliki ifand seutuhnya. Syahdu pergi menuju rumah orang tuanya, tetapi dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan.
Penggunaan bahasa pada novel ini menggunakan bahasa yang puitis. Pengarang menggunakan pemilihan kata yang santun tetapi mampu membuat emosi pembaca ikut dalam cerita yang disajikan. Jika pembaca mampu menikmati ceritanaya ia akan merasakan marah, kesal, kasihan sekaligus gregetan dan bertanya-tanya bagaimana akhir dari cerita ini.
Kelebihan dari novel kehormatan di balik kerudung  adalah alur ceritanya mudah di pahami, sehingga mengajak pembaca untuk masuk dalam cerita yang disugguhkan oleh pengarang. Disamping itu temanya juga bagus, yaitu cinta dan poligami dalam konteks religi, yang mengajarkan kita untuk bisa ikhlas dalam menghadapi sesuatu, ada pengorbanan yang harus dilakukan masing-masing karakter, dan pengorbanan tersebut getir layaknya buah simalakama. Sehingga mau tidak mau pembaca ingin menuntaskan novel yang dibacanya, sedangkan kelebihan dalam filmya adalah indahnya penggambaran  konflik batin masing-masing karakter dengan perjalanan hidup masing-masing karakter tersebut serta memiliki tampilan gambar yang cukup indah atau indahnya panorama alam yang dihadirkan lewat tatanan sinematografinya.
            Kelemahan  dari film ini adalah pemakaian bahasa puitis yang berlebihan, bahasa puitis bisa digunakan dalam film untuk membuat film itu lebih menarik, tetapi jika berlebihan akan menjadi sesuatu yang biasa. Cerita yang diadaptasi dari novel Ma’mun Affany tersebut mempunyai banyak perbedaan dari novelnya. Beberapa bagian adegan atau alur dalam novel pun banyak yang dihilangkan, sehingga kemungkinan penonton yang sudah membaca novelnya kehilangan alur cerita yang sangat besar. Tidak terjelaskan pula kenapa film tersebut harus terjebak dalam rentetan adegan tangis-menangis. Seakan-akan cerita film tidak mungkin bisa berlanjut, kecuali ada salah satu karakter yang meneteskan air mata. Sehingga keimanan masing-masing karakter pun terlihat lenyap begitu saja.
            Jika dilihat dari judulnya novel kehormatan di balik kerudung merupakan novel yang menarik untuk dibaca, pasti banyak dari mereka yang tertarik tentang apa yang akan disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Disini sebenarnya penulis ingin menyampaikan amanat atau pesan yang berupa pengorbanan seorang wanita (sofiya) yang dengan ikhlas membiarkan suaminya menikahi wanita lain demi menyelamatkan nyawa wanita yang sakit kritis karena cinta.
Unsur Ekstrinsik dalam novel dan film kehormatan di balik kerudung adalah Ma’mun Affany, lahir di Tegal pada tanggal 21 september 1986, menamatkan KMI di Gontor 2004, Institut Studi Islam Darussalam (ISID), 2008, Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor. Novel pertamanya Adzan Subuh Menghempas Cinta, novel keduanya Kehormatan di Balik Kerudung, novel ketiganya 29 Juz Harga Wanita, dan sedang mengerjakan Satu Wasiat Istri untuk Lelaki. Disamping itu unsur ekstrinsiknya yaitu berupa norma -norma dan nilai-nilai agama dan kekeluargaan, yaitu:
a.       Norma agama yaitu norma mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sanksinya mendapat dosa.
Contoh dalam novel tersebut yaitu penulis menggambarkan setting bulan puasa, maka penulis atau pengarang menggambarkan para tokoh tersebut mengerjakan ibadah puasa, mengerjakan ibadah sholat dan mengaji.      
b.      Norma kesusilaan yaitu petunjuk hidup yang berasal dari akhlak atau dari hati nurani sendiri tentang apa yang lebih baik dan buruk, sanksinya dikucilkan warga.
Contoh dalam novel tersebut penulis menggambarkan syahdu saat dia mulai akrab dengan ifand, tetangganya banyak yang menggunjing dan mengucilkannya. Sehingga kakeknya menyuruh syahdu untuk menjauhi ifand, tetapi syahdu merasa apa yang ia lakukan tidak salah dan sebagai sesuatu yang wajar karena syahdu mencintai ifand dan ifand pun mencintai syahdu.
c.       Norma kesopanan yaitu petunjuk hidup yang mengantur bagaimana seseorang harus bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, sanksinya akan dicemooh oleh masyarakat dalam pergaulan.
Contoh dalam novel tersebut semua orang di desa bertanya kepada kakek syahdu atas sikap syahdu yang mendekati ifand dan merayunya, karena dalam novel tersebut bersettingkan di Pekalongan, yang masyarakatnya jarang melihat wanita mendekati laki-laki terlebih dahulu jadi syahdu dianggap kurang sopan, apalagi ia baru tinggal di desa tersebut, disamping itu semua orang juga tahu bahwa sofiya telah mencintai ifand sejak lama.
d.      Nilai kekeluargaan yang tinggi, tergambar dari karakter tokoh syahdu, ia ikhlas dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi dan berfikir positif. Disini syahdu digambarkan sebagai gadis yang keras kepala tetapi mempunyai hati yang mulia. Dia juga sangat menyayangi keluarganya, terbukti dengan mengorbankan kebahagiannya untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Begitu pula dengan ifand, ifand adalah pemuda yang taat beribadah dan baik hati, sedangkan sofiya adalah gadis yang ikhlas dalam menghadapi seuatu yang menimpanya. Ia ikhlas di madu demi menyelamatkan nyawa syahdu.

DASAR GERAKAN PRAMUKA


KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR  036 TAHUN 1979
DASADARMA PRAMUKA

                                    Ketua Kwartir Naasional Gerakan Pramuka

Menimbang                    : 1. bahwa dalam memorandum Musyawarah Nasional   Tahun 
                                             1978 telah dilimpahkan kepada Kwartir Nasional Gerakan Pramuka    
                                              untuk memperbaiki dan menyempurnakan formulasi Dasardarma
                                              Pramuka yang tercantum dalam Keputusan  Kwartir Nasional
                                              Gerakan Pramuka  No. 123/KN/78 Tahun 1978 sehingga sistematis,
                                              enak didengar, dan mudah dihafal;
                                         2. bahwa berkenaan dengann itu perlu segera dikeluarkan suraat keputusan tentang perbaikan dan penyempurnaan formulasi Dasadarma Pramuka;

Mengingat                     : 1. Keputusan Presiden Republlik Indonesia No. 238 Tahun 1961, juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 1971;    
                                        2. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan No. 045/KN/74 Tahun 1974 tentang Anggaaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka;
                                        3. Lampiran III Keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka No. 123/KN/78 Tahun 1978;

Memperhatikan          : Keputusan Rapat Kwartir Nasional terbatas tentang Dasadarma   Pramuka tanggal 24 Januari 1979;


MEMUTUSKAN

Menetapkan
Pertama                         : Mencabut Dasadarma Pramuka sebagaimana tercantum dalam  Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 123/KN/78 tahun 1978.
Kedua                           :  Mengesahkan Dasadarma Pramuka beserta penjelasannyasebagaimana tercantum damalam lapiran I dan lampiran II keputusan ini.
Ketiga                           :  Hal-hal lain tentang Dasadarma Pramuka, yang berhubungan dengan paearubahan pasal-pasal Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka yang lain, akan ditentukan kemudian oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan memperhatikan keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka yang berhubungan dengan hal ini.

                                          Apabila ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan pembentulan sebagaimana mestinya.
                                          Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.

                                                                                                Ditetapkan di Jakarta
                                                                                       Pada tanggal 28 Februari 1979
                                                                                    Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
                                                                                                            Ketua,


                                                                                                                      Ttd.
                                                      
         Letjen TNI (Purn) Mashudi















LAMPIRAN II SURAT KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR  036 TAHUN 1979
PENJELASAN DASADARMA PRAMUKA


A.     Umum
1.     Dasadarma adalah ketentuan moral untuk setiap anggota Gerakan Pramuka sehingga merupakan suatu tuntunan sikap dan lakkkuk yang berisi nilai-nilai yang harus menjadi tolak ukur manusia yang diidamkan.

2.     Bagi anggota Gerakan Pramuka yang tidak mematuhinya akan menimbulkan rasa kurang dan salah sehingga dalam dirinya timbul kesadaran bahwa ia melanggar sesuatu, meskipun tidak diatur dengan ketentuan-ketentuan sanksi.

3.     Dalam suatu proses belajar, seseorang akan menerima pengertian mengembangkan otoidentifikasi (tahu diri pribadi) dan melaksanakan ototransformasi (mengembangkan diri pribadi). Sejak awal, proses ini dimantapkan dengan mengulang-ulang tuntunan melalui bimbingan dan teladan dari orang dewasa, Dariniat meniru ke tingkat identifikasi sampai tingkat pemillihan itu, anak didik memerlukan dan mencari penuntun.

4.     Usaha pendidikan dalam Gerakan   Pramuka akan lebih bertepat guna apabila anak didik memperoleh tuntunan, teladan , dan personifikasi identifikasi (tokoh yang diidamkan) dari lingkungannya, lingkungan yang palling baik dan dekat adalah pembinanya, kemudian andalannya.

5.     Karena itu Dasadarma Pramuka Indonesia juga harus dihayati dan diamalkan oleh orang dewasa, Pembina, dan andalam. Untuk Pramuka Penggalang, Dasadarma perlu dijabarkan, dijelaskan, dan diallihkan dalam bentuk yang sederhana. Untuk Pramuka Penegak/Pandega dan orang dewasa, perlu terus-menerus ditanamkan melalui pemikiran dan pengertian yang lebih mendalam.

B.    Pokok-pokok Pengertian
1.     Dasadarma adalah ketentuan moral. Karena itu, Dasadarma memuat pokok-pokok moral yang harus ditanamkan kepada anggota Pramuka agar mereka dapat berkembang menjadi manusia berwatak, warga Negara Republik Indonesia yang setia, dan sekaligus mampu menghargai dan mencintai sesame manusia dan alam ciptaan Tuhan Yang Mahaesa.
2.     Republlik Indonesia adalah Negara hokum yang berdasarkan falsafah Pancasila, Karena itu, rumusan Dasadarma Pramuka berisi penjabaran dari Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari.
3.     Dasadarma yang berarti sepuluh tuntunan tingkah laku adalah sarana untuk melaksanakan satya (janji, ikar, ungkapan kata haaati). Dengan demikian, maka Dasadarma Pramuka pertama-tama adalah ketentuan pengamalan dari Trisatya dan kemudian dilengkapi dengan nilai-nilai luhur yang bermanfaat dalam tata kehidupan.

C.    Penjelasan masing-masing Darma
1.                     Darma pertama: Takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa
1.     Pendahuluan
Apa yang  tercantum di dalam Trisatya tentang menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan yang terdapat dalam Dasadarma pertama sudah harus sedikit dibedakan bahwa:
Di dalam Trisatya, ungkapan itu merupakan janji (ikrar) seseorang yang diresapkan dalam hati atau dirinya sedangkan dalam hati atau dirinya sedngkan yang ada  di dalam Dasadarma pertama adalah perwujudannya secara kongret dalam tingkah laku ataupun sikapnya,
Atau dengan kaata lain yang ada di dalam Trisatya itu merupakan sesuatu yang ada di dalam batin dan yang terdapat di dalam darma adalah yang tampak lahiriah. Oleh karena itu yang terdapat di dalam Dasadarma bukanlah suatu pengulangan, tetapi penekan

2.     Pengertian
1. Takwa
1.     Pengertian takwa adalah bermacam-macam, antara lain: bertahan, luhur, berbakti,  mengerjakan yang utama dan meninggalakan yang tercela, hati-hati, terpelihara, dan lain-lain.
2.     Pada hakekatnya takwa adalah usaha dan kegiatan seseorang yang sangat utama dalam perkembangan hidupnya. Bagi bangsa Indonesia yang berketuhanan Yang Mahaesa, yang menjadi tujuan hidupnya adalah keselamatan, perdamaian, persatuan dan kesatuan baik didunia maupun dikhirat, Tujuan hidup ini hanya dapat dicapai semata-mata dengan takwa kepada Tuhan Ynag Mahaesa, yaitu:
1.     Bertahan terhadap godaan-godaan hidup, berkubu dan berperisal untuk memelihara diri dari dorongan hawa nafsu.
2.     Taat melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, mengerjakan yang baik dan berguna serta menjauhi segala yang buruk dan yang tidak berguna bagi dirinya maupun bagi masyarakat serta seluruh umat manusia.
3.     Mengembalikan, menyerahkan kepada Tuhan segala darma bakti dan amal usahanya untuk mendapatkan penilaian; sebagaimana Tuhan menghendaki sikap ini merupakan sikap seseorang kepada pribadi lain yang dianggap mengatasi dirinya, bahkan mengatasi segala-galanya, sehingga seseorang menyatakan hormat dan baktinya, serta memuji, meluhurkan dan lain-lain terhadap pribadi lain yang dianggap Mahaagung itu,




2.     Tuhan
Di sini kita dapat mencoba memahami pengertian kita tentang Tuhan baaik berpangkal dari kemanusiaan yang antara lain dianugerahi akal budi, maupun dari wahyu Tuhan sendiri yang terdapat dalam kitab suci yang diturunkan kepada kita melalui para Nabi/ Rosul.
1.     Dari segi kemanusiaan (akal budi), Tuhan adalah zat yang ada secara mutlak yang ada dengan. Zat yang menjadi sumber atau sebab adanya segala sesuatu di dalam alam semesta (couse prima atau sebab pertama).
      Karena itu, Dia tidak dapat disamakan atau dibandingkan dengan apa saja yang ada. Dia mengatasi, melewati, dan menembus segala-galanya.

2.     Dari wahyu Tuhan sendiri yang dianugerahkan kepada kita melalui firman atau sabdaNya di dalam Kitab suci, kita dapat mengetahui bahwa Dia adalah pencipta Yang Maha Kuasa, Maha Murah, lagi Maha Penyayang Tuhan menjadikan alam semesta termasuk manusia tanpa mengambil suatu bahan atau menggunakan alat. Hanya kaarena afirman-Nya, alam semesta ini menjadi ada. Yang semula tidak ada menjadi ada, dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi dan luhur. Dari yang tiada bernyawa kepada yang bernyawa dan berjiwa, Dari hasil karya Tuhan itu, kita dapat mengenal segala macam sifat Tuhan yang melebihi dan mengatasi apa yang terdapat di dalam alam semesta ini, terutama dari wahyu Tuhan sendiri. Kita juga dapat memahami kegaiban Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak dapat membandingkan zat kodrat sifat Ilahi dengan yang ada dalam ala mini. Hal ini juga termasuk dengan sifat Tuhan Yang Mahaesa. Namun sebagai insane manusia, kita akan berusaha memahami apa arti esa pada Tuhan itu.
3.     Esa= satu/tunggal.
Maksudnya bukanlah “satu” yang dapat dihitung. Satu yang dapat dihitung adalah satu yang dapat dibagi atau disbanding-bandingkan. Maka, satu atau esa pada Tuhan adalah mutlak. Satu/tunggal yang tidak dapat dibagi-bagi dan dibandingkan.
“Tiada Tuhan selain Allah”.

3.     Berbicara  tentang pengertian taakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa tidak dapat dipisahkan daari pengertian moral, budi pekerti, dan akhlak.
Moral, budi pekerti atau akhlak adalah sikap yang digerakan oleh jiwa yang menimbulkan tindakan dan perbuatan manusia terhadap Tuhan, terhadap sesamamanusia, sesame makhluk, dan terhadap diri sendir. Akhlak terhadap Tuhan Yang Mahaesa meliputi  cinta, takut, harap, syukur, taubat, ikhlas terhadap Tuhan, mencintai atau membenci kare Tuhan. Akhlak terhadap Tuhan Yang Mahaesa mengandung unsure-unsur takwa, berimankepada Tuhan Yang Mahaesa, dan berbudi pekerti yang luhur.
Akhlak terhadap sesame manusia atau terhadap masyarakat mencakup berbakti kepada orang tua, hubungan baik antara sesame, malu, jujur, ramah, tolong menolong, harga menghargai, memberi maaf, memelihara kekeluargaan, dan lain-lainnya. Akhalakterhadap sesame manusia mengandung unsur hubungan kemanusia mengandung unsure hubungan kemanusiaan yang baik akhlak terhadap sesama akhluk Tuhan yang hidup ataupun benda mati mencakup belas kasih, suka memelihara, beradab, dan sebagainya,
                        Akhlak terhadap sesame makhluk Tuhan mengandung unsure peri kemanusiaan. 
                        Akhlak terhadap diri sendiri meliputi: memelihara harga diri, berani membela hak, rajin tanggungjawab, menjauhkan diri dari takabur, sifat-sifat bermuka dua sifat pengecut, dengki, loba, tamak, lekas putus asa, dan sebagainya.
                        Akhlak terhadap diri sendiri mengandung unsure budi pekerti yang luhur, berani mawas diri, dan mampu menyesuaikan diri.
                       
3.     Pelaksanaan
1.     Sesuai dengan tujuan Gerakan Pramuka yang mengarahkan anak didik menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur, dan juga karena falsafah hidup bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila, maka sudahseharusnyalah iman kepada Tuhan dari masing-masing anak didik itu diperdalama dan diperkuat.iman anak didik kepada Tuhan itu bellum cukup kalau hanya kita berikan pengajaran lisan/tertullis tanpa ada perwujudan kongkret dalam tingkah lakkku kehidupan anak didik.
Maka, apa yang diimani dari agama dan kepercayaan tentang Tuhan haruslah dijabarkan dalam sikap hidupnya yang nyata dan dapat dirasakan  oleh llingkungannya, karena itu akan terdapat kepicangan apabila Gerakan   Pramuka hanya dapat mengemukakan ajaran tentang takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa ini, tetapi kurang memberikan bimbingan dan kesempatan kepada peserta didik untuk melaksanakan darmanya yang pertama ini. Untuk mewujudkan cita-cita Gerakan Pramuka, dalam hal ini banyak caran dan metode yang dapat dilaksanakan, sesuai dengan tingkat umur dan kemampuan anak didik dan kepercayaan masing-masing.
Cara atau metode dapaat berlainan, tetapi tujuannya kiranya hanya satu, ialah terciptanya manusia Indonesia yang utuh dan sempurna (Pancasilais).
Segala macam ketentuan moral/kebaikan yang tersimpan dalamajaran agama (seperti tertera dalam darma-darma yang berikut)seharusnyalah dikembangkan dalam sikap hidup anak didik. Darma-darma itu merupakan bentuk-bentuk perwujudan kongret dari takwanya kepada Tuhan di samping doa, sembahyang, dan bentuk peribadatan lain.

Sebagai Contoh.
                        Sikap cinta dan kasih saying, etia, patuh, adil, jujur, suci,dan lain-lain adalah merupakan pengejawantahan dan perwujudan dari ketakwaan seseorang kepada Tuhan. Sulit untuk mengatakan bahwa sebenarnya tidak jujur orang mengarahkan dia itu takwa kepada Tuhan, tetapi dalamhidupnya dia bertindak dan bersikap membenci, curang, tidak adil, dan sebagainya terhadap sesamanya.

2.     Maka dari itu, dalam prakteknya, mengembangan ketakwaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dalam segala kegiatan kepramukaan mulai dari bermain dampai kepada bekerja sama dan hidup bersama.
Dalam kegiatan permainan, kita sudah dapat menamkan sifat-sifat jujur, patuh, setia dan tabah.
Kalau anak sudah dibiasakan bermaian seperti itu, maka dia akan berkembang menjadi pribadi yang baik, berwatak luhur dan berkepribadian.
Akhirnya, akan berguna bagi sesame manusia, masyarakat, bangsa dan negaranya. Semua ini tiada lain didasarkan pada takwanya kepada Tuhan.

3.     Menuntun anak untuk melaksanakan ibadah,

4.     Menyelenggarakan peringatan-peringatan hari besar agama.

5.     Menghormati orang beragama lain.

6.     Menyelenggarakan cermah keagamaan.

7.     Menghormati orang tua.

2. Darma kedua: Cinta alam dan kasih saying sesama manusia
a. Pengertian
   
1.     Tuhan Yang Mahaesa telah menciptakan seluruh alam semesta yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuhan-tumbuhan, dan benda-benda alam.
Bumi, alam, hewan, dan tumbuh-tumbuhan tersebut diciptakan Allah bagi kesejahteraan manusia.Karena itu, sudah selayaknya pemberian Allah ini dikelola, dimanfaatkan, dan dibangun.
Sebagai makhluk Tuhan yang lengkap dengan akal budi, rasa, karsa dan karya, serta dengan kelima inderia manusia patut mengetahui makna seluruh ciptaana-NYa.
Wajar dan pantaslah Pramuka, secara alamiah, melimpahkan cinta kepada alam sekitarnya (benda alam, satwa, dan tumbuh-tumbuhan), kasih sayang kepada sesama manusia dan sesama hidup serta menjaga kelestariannya.
Kelestarian benda alam, satwa, dan tumbuh-tumbuhan perlu dijaga dan dipelihara kaarena hutan tanah,  pantai, fauna, dan flora serta laut merupakan sumber alam yang perlu dikembangan untuk menunjang kehidupan generasi kini dan dipelihara kelestariannya untuk kehidupan generasi mendatang.
Di samping itu, sebagai Negara kepulauan pemanfaatan wilayah pesisir dan lautan yang sekaligus memelihara kelestarian sumber ala mini dengan menanggulangi pencemaran laut, perawatan hutan, hutan bakau dan hutan payau, serta pengembangan budi daya laut menduduki tempat yang penting pula.

2.     Yang dimaksud dengan cinta dan kasih saying apabila manusia dapat ikut merasakan suka dan derita alam sekitarnya khususnya manusia. Kelompok-kelompok manusia ini merupakan bangsa-bangsa dari Negara yang terdapat di dunia ini. Bila kita ingindan mau mengerti dan bergaul dengan bangsa lain maka rasa kasih sayanglah yang dapat mendekatkan kita dengan siapa pun. Dengan demikian, akan terciptalah perdamaian dan persahabatan antar manusia maupun antar bangsa.
Khususnya sebagai seorang Pramuka menganggap Pramuka lainnya baik dan Indonesia maupun dari bangsa lain sebagai saudaranya kaarena masing-masing mempunyai satya dan darma sebagai ketntuan moral. Pramuka Indonesia yang bertujuan menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur sudah sepantasnyalah jika ia berusaha meninggalkan watak yang dapat menjauhkan ia dengan ciptaan Tuhan lainnya dengan memiliki sifat-sifat yang penuh rasa cinta dan kasih saying.

3.     Darma ini adalah tuntunan untuk mengamalkan sila kedua dari Pancasila   

b. Pelaksanaan dalam hidup sehari-hari.
    1) Membawa peserta didik kea lam bebas kebun raya agar mengetahui dan mengenal berbagai jenis tumbuhn-tumbuhan, Anjurkanlah kepada meereka memelihara tenaman di rumah masing-masing. Hal ini dapat dijadikan persyaratan untuk mencapai tanda kecakapan khusus.

    2) Begitu pula halnya sikap kita terhadap binatang, perkenalakan peserta didik dengan sifat masing-masing jenis binatang untuk mengetahui manfaatnya. Anjurkan juga memelihara dengan baik binatang yang mereka meliki.
 
1.     Kasih saying sesama manusia tidak lepas dari perwujudan kerendahan diri manusia sebagai makhluk terhadap keagungan pencipta-Nya. Ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Mahaesa wajib dihayati sepanjang hidup. Di samping  itu, perlu membangun watak utama antara lain, tidak mementingkan diri pribadi, menghargai orang lain meskipun tidak sebangsa dan seagama. Demikian pula, bersaudara dengan Pramuka sedunia.

2.     Siapa pun yang kita kenal dan kita dekaaaaati lambaat-laun akan timbul rasa cinta alam dan kasih saying sesama manusia. Rasa inilah yang dapat menggugah rasa dekat dengan Alkhalik, karena tidak terhalang oleh rasa benci, marah dan sifat-sifat yang tidak terpuji, dengan demikian, kita menyadari keagungan Tuhan Yang Mahaesa.

3.  Darma Ketiga : Patriot yang sopan dan ksatria

      a. Pengertian
1.     Patriot berarti putra tanah air, sebagai seorang warga Negara Reoublik Indonesia, seorang Pramuka adalah putra yang baik, berbakti, setia dan siap siaga membela tanah airnya.

2.     Sopan adalah tingkah laku yang halus dan menghormati orang lain. Orang yang sopan bersikap ramah tamah dan bersahabat bukan pembenci dan selalu disukai orang lain.

3.     Ksatria adalah orang yang gagah berani dan jujur. Ksatria juga mengandung arti kepahlawanan, sifat gagah berani dan jujur. Jadi, kata ksatria mengandung makna keberanian, kejujuran, dan kepahlawanan.

4.     Seorang Pramuka yang mematuhi darma ini, bersma-sama dengan warga Negara yang lain mempunyai satu kata hati dan satu sikap mempertahankan tanah airnya, menjunjung tinggi martabat bangsanya.

5.     Darma ini adlah tuntunan untuk mengamalkan Pancasila ketiga.

b. Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari
1.     Membiasakan dan mendorong anggota Pramuka untuk:
1.     menghormati dan memahami serta menghayati lambing Negara, bendera sang Merah Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
2.     mengenal  nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sepeerti kekeluaargaan, gotong-royong, rmah tamah, religious, dan lain-lain.
3.     Mencintai bahasa, seni budaya, dan sejarah Indonesia.
4.     Mengerti, menghayaati, mengamalkan dan mengamankan Pancasila.

2.     Mengenal adapt-istiadat suku-suku bangsa di Indonesia.

3.     Mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan diri pribadi. Selalu membantu dan membela yang lemah dan yang benar.

4.     Membiasakan diri berani mengakui kesalah dan membenaarkan yang benar.

5.     Menghormati orng tua, guru dan pemimpin.

4.  Darma keempaat: Patuh dan suka bermusyawarah.
     
1.     Pengertian
    1. Patuh berarti setia dan bersedia melakukan sesuaaatu yang sudah disepakati dan ditentukan.
    2. Musyawarah adalah laku utama seorang democrat yang menghormati pendapat orang lain. Orang yang suka bermusyawarah terhindar dari sikap yang otoriter dan semau sendiri. Dalam setiap gerak dan tindakan yang menyangkut orang lain, seorang lain baik dengan orang-orang yang terikat dalam pekerjaan atau dalam bentuk-bentuk organisasi.
    3. Darma adalah tuntunan untuk mengamalkan Pancasila keempat.

2.     Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari
    1. Membiasakan diri untuk menepati janji, mematuhi peraturan yang ditetapkan di gugusdepan dan mematuhui peraaaaturan di RT/RK, kampung dan desa, sekolah dan peratur perundang-undangan yang berlaku.
      Misalnya, setia mengikuti latihan membayar iuran, menaati peraturan lalu llintas dan lain-lain.
    1. Belajar mendengar pendapat orang, menghargai gagasan orang lain.
    2. Membiasakan untuk merumuskan kesepakatan dengan memperhaaatikan kepentingan orang banyak
    3. Membiasakan diri untuk bermusyawarah sebelum melaksanakan suatu kegiatan (misalnya akan berkemah, widyawisata dan lain-lain.

5.  Darma kelima: Rela menolong dan tabah 
a.  Pengertian
1.     Rela atau ikhlas adalah perbuatan yang dilakukan tanpa memperhitungkan untung dan rugi (tanpa pamrih). Rela menolong berarti melakukan perbuatan baik untuk kepentingan orang lain yang kurang mampu. Dengan maksud, agar orang yang ditolong itu dapat menyelesaikan maksudnya atau kemudian mampu merampungkan masalah seta tantangan yang dihadapi.

2.     Tabah atau ulet adalah suatu sikap jiwa tahan uji. Meskipun seseorang mengetahui bahwa menjalankan tugasnya akan menghadapi kesulitan, tetapi ia tidak mundur dan tidak ragu.

3.     Darma ini adalah tuntunan untuk mengamalkan Pancasila sila kelima.

             b.  Pelaksanaan dalam Hidup sehari-hari
1.     Membiasakan diri cepat menolong kecelakaan tanpa diminta
2.     Membantu menyeberang jalan untuk orang tua, wanita.
3.     Memberi tempat di tempat umum kepada orang tua dan wanita.
4.     Membiasakan secara bertahap untuk mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari di rumah, dan dimasyarakat..

6.  Darma keenam : Rajin, terampil, dan gembira
            a. Pengertian
1.     Rajin
Manusia dibedakan dengan makhluk hidup yang lain kaarena ia diciptakan mempunyai akal budi. Dengan demikian harus mengmbangkan diri dengan membaca, menulis, dan belajar, Dengan perkataan lain, ia menjalani proses kodrati dalam mendidik diri.
Lebih-lebih lagi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melejit demikian cepat, maka menjadi kewajiban kita semua untuk mendorong anak didik (juga orang dewasa) untuk selalu rajin belajar, selalu berusaha dengan tekun, senantiasa tetap mengembangkan dirinya, dan selalu tertib melaksanakan tugas.

2.     Terampil
Setiap manusia haarus beeerupaya untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri. Untuk hal itu, yang menjadi syarat utama adalah keahlian dan keterampilan serta dapat mengerjakan suatu tugas dengan cepat dan tepat dengan hasil yang baik.

3.     Gembira
Manusia itu hidup dan menghidupi dengan mencari jalan bagaimana hidup yang baik. Untuk itu ia harus bekerja mencari nafkah, dan bersama-sama dengan orang lain ia bekerja sama.
Banyak kesulitan, rintangan, dan hambatan yang dihadapi. Dan tantangan ini akan diatasi dengan dorongan motivasi yang kuat. Suatu upaya untuk mendapat motivasi ini adalah manusia harus dapat berfikir cerah, berjiwa tenang, dan seimbang.
Hal ini dapat dicapai bila manusia selalu mencari hal-hal yang positip dan optimistis.
Sikap ppositip, optimis ini diperoleh dengan laku yang riang sehingga menimbulkan suasana gembira. Kegembiraan adalah perasaan senang dan bangga yang menimbulkan kegiatan dan bahkan rasa keberanian.

4.     Rajin, terampil, dan gembira perlu selalu diterapkan dalam setiap usaha dan kegiatan.

b. Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-haari
                1) Rajin
1. Biasakan membaca buku yang baik.
2. Biasakan untuk membuaat karya tulis.
3. Selenggarakan diskusi-diskusi untuk belajar; mengolah pikiran, mengemukakan pendapat.
4. Tentukan jadwal harian yang tetap untuk belajar.
Belajar selama dua jam sehari adalah layak.
5. Atur kegiatan dengan menyesuaikan dengan kegiatan di sekolah, di rumah dan Gerakan Pramuka.
6. Membiasakan untuk menyusun jadwal kegiatan sehari-hari.

                 2) Bekerja
1.     Jelaskan bahwa dibalik kesulitan, kegagalan, dan kekewaan selalu   terdapat hal-hal yang baik dan berguna.
2.     Biasakan bekerja menurut manfaat dan disesuaikan dengan kemampuan.
3.     Jangan terlula cepat menegur, mengkertik atau menyalahkan orang lain.
4.     Hargai dan atonjolkan suatu prestasi kerja.
5.     Berikan beban dan tugas yang terus berkembang.
6.     Berusaha untuk bekerja dengan rencana.
7.     Bergembiralah dalam tiap usaha.
8.     Selesaikan setiap tugas pekerja, jangan tunda sampai esok hari.

 3) Terampil
1.     Pilihlah suatu jenis kemahiran dan keahlian yang sesuai dengan bakat.
2.     Latih terus-menerus.
3.     Jangan cepat puas setelah selesai mengerjakan sesuatu.
4.     Mintalah tuntunan dari orang yang lebih berpengalaman.
5.     Jangan menolak tugas pekeerjaan apa pun yang diberikan pada Saudara.
Laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan  kemampuan yang ada.

7. Darma ketujuh: Hermat, cermat, dan bersahaja
     a. Pengertiam
1) Hemat
1.     Hemat bukan beraaati “kikir” tetapi lebih terarah kepada dapatnya seorang Pramuka melakukan dan mengunakan suatu secara tepat menurut kegunaannya.
2.     Secara rohaniah, dapat berarti suatu usaha memerangi hawa nad\fsu manusia dari keinginan berlebihan yang merugikan diri sendiri dan orang lain; (uang, mendisiplinkan diri sendiri).
Menghemat bukan berarti a social tapi untuk lebih memungkinkan dalam memberi kemungkinan usaha social ke pihak lain, (luang, tenaga, waktu dan sebagainya) yang lebih menguntungkan.
3.     Secara material, dapat berarti memanfaaatkan sesua(materi) menurut keperluan sehingga usaha tidak berguna dapat dibendung sehingga dapat berguna bagi dia sendiri dan ornag lain.

   2) Cermat
        Cermat lebih berarti “ teliti” sikap lakku seorang Pramuka harus senantiasa teliti baik terhadap dirinya sendiri (introspeksi) maupun yang datangnya dari laur dirinya sehingga ia senantiasa waspada.
         Hal ini dapat dilakukan melalui proses berfikir, mengitung, dan mempertimbangkan segala sesuatu, untuk berbuat. Seorang Pramuka harus cerdas, terampil agar ia senantiasa terhindar dari kekeliruan dan kesalahan.
         Ia harus berusaha untuk berbuat sesuatu dengan terencana dan yang bermanfaat.

    3) Bersahaja
         Hal ini lebih berarti, sederhana kesederhanaan yang wajar dan tidak berlebih-lebihan sehingga dapat memberi kemungkinan penggambaran jiwa untuk (penampilan diri) dan menimbulkan kemampuan untuk hidup dengan apa yang didapat secaara halal tanpa merugikan diri sendiri dan ornag lain. Ia harus dapat menyerasikan antara keinginkan dan kemampuan, Bersahaja juga dapat berarti keberanian untuk menyatakan sesuatu yang sebenarnya.
           
 b.  Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari
    1. Menggunakan waktu dengan tepat ke sekolah, tidur, makan, latihan dan sebagainya.
    2. Tidak ceroboh.
    3. Bertindak dengan teliti pada waktu yang tepat agar ia tidak dirusakkan oleh keinginan jahat dari luar.
    4. Sadar akan dirinya sebagai suatu pribadi.
    5. Berpakaian yang sederhana tanpa perhiasan yang berlebihan-lebihan
    6. Meneliti sahulu sebellllum berbuat sesuaatu agar terjadi ketepatan di dalam pelaksanaannya.
    7. Penggunaan listrik (siang hari dimatikan).
    8. Pengguna air tidak terbuang percuma.
    9. Memeriksa pekerjaan sebellllum diserahkan kepada Pembina.
    10. Menggunakan uang jajaan dengan hemat.
    11. Membiasakan anak belanja kewarung dan pasar dengan teratur.
    12. Memberi anak tanggung jawab untuk tugs di rumah dan lain=lain.
    13. Membiasakan untuk menabung
    14. Bekerja berdasarkan manfaat dan rencana
.
8. Darma kedelapan: Disiplin,  berani dan  Setia
     a. Pengertian
1.      Disiplin dalam pengertian yang luas berarti paaaaaatuh dan mengikuti pemimpin dan atau ketentuan dan peraturan.
2.      Dalam pengertian yang lebih khusus, disiplin berti mengekang dan mengendalikan diri.
3.      Berani adalah suatu sikap mental untuk bersedia menghadapi dan mengatasi suatu masalah dan tantangan.
4.      Setia berarti tetap pada suatu pendirian dan ketentuan.
5.      Dengan demikian, maka berdisiplin tidak secara membabi buta melaksanakan perintah, ketnetuan dan peraturan, sebagai manusia ciptaan Tuhan,  seseorang harus berani berbuaaaat berdasarkan pertimbangan dan nilai yang lebih tinggi.
b. Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-haaaari
1.     Berusaha untuk mengendalikan     dan mengaaaatur diri (self disiplin).
2.     Mentaati peraaturan.
3.     Menjalani ajaran dari ibadah agama,
4.     Belajaaar untuk menilai kenyataan, bukti dan kebenaran suatu keterangan (informasi).
5.     Patuh dengan pertimbangan dan keyakinan.


9.  Darma kesembilan: Bertanggungjawab dan dapat dipercaya,                     
a.  Pengertian dan Pelaksanaan dalan Hidup sehari-hari.

1. Yang dimaksud dengan bertanggungjawab ialah:
Pramuka itu bertanggungjawab atas segala sesuatu yang diperbuat baik atas perinnntah maupun tidak, terutama secara pribadi bertanggungjawab terhadap Negara, bangsa, masyarakat dan keluarga misalnya :
1.     Segala sesuatu yng diperintahkan kepadanya, harus dilakukan dengan penuh rasa tanggungjawab.
2.     Segala sesuatu yang dilakukan atas kehendak sendiri dilakukan  dengan penuh rasa tanggungjawab.
3.     Pramuka harus berani bertanggungjawab atas suatu tindakan yang diambil, di luar perintah yang diberikan kepadanya karena perintah tersebut tidak dapat atau sulit dilaksanakannya,
4.     Seorang Pramuka tidak akan mengelakkan suaatu tanggungjawab dengan suatu alasan yang dicari-cari,

Tujuannya adalah mendidik dan memasukkan suaaatu tanggungjawab yang besar kepadanya.

2.     Yang dimaksud dengan dapat dipercaya ialah: Pramuka itu dapat dipercaya, baik perkataannya maupun perbuatannya.
Misalnya:
1.     Dapat dipercaya itu berarti juga jujur, yaitu jujur terhadap diri sendiri, terhadap anak didik dan terhadap orang lai n terutama yang menyangkut uang, materi dan lain-lain.
2.     Pramuka dapat dipercaya atas kata-katannya, perbuatannya dan lain sebagainya, apa yang dikatakannya tidaklah suaaatu karangan yang dibuat-buat.
3.     Apabila ia ditugaskan untuk melaksanakan sesuatu, maka ia dapat dipercaya bahwa ia pasti akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
4.     Dalam kehidupan sehari-hari dimana dan kapan pun juga Pramuka dapat dipercaya bahwa ia tidak akan berbuat sesuatu yang tidak baik, meskipun tidak ada orang yang tahu atau yang mengawasinya.
5.     Selalu menepati waktu yang sudah ditentukan,

Tujuan adalah mendidik Pramuka menjadi oarnag yang jujur dan yang dapat dipercaya akan segalati ngkah lakunya.

10. Darma kesepuluh : Suci dalam pikiran Perkataan dan peeerbuatan
      a. Pengertian
1.     Seorang Pramuka dikatakan matang jiwanya, bila Pramuka itu dalam setiap tingkah lakunya sudah mengambarkan laku yang suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan
2.     Suci dalam pikiran berate bahwa Pramuka tersebut selalu melihat dan memikirkan sesuatu itu pada segi baiknya atau ada hikmahnya dan tidak terlintas sama sekali pemikiran ke arah yang tidak baik.
3.     Suci dalam perkataan setiap apa yang telah dikatakan itu benar, jujur seerta dapat dipercaya dengan tidak menyinggung perasaan oeng lain.
4.     Suci dalam peerbuatan sebagai akibat dari pikiran dan perkataan yang suci, maka Pramuka itu harus sanggup dan mampu berbuat yang baik dan benar untuk kepentingan Negara, bangsa, agama dan keluarga.
5.     Dengan selalu melakukan pikiran, perkataan dan perbuatan yang suci akan menimbulkan pengertian dan kesadaran menurut siratan jiwa Pramuka sehingga Pramuka itu memukan dirinya sesuai dengan tujuan Gerakan Pramuka Antaranya: “…. Menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur, tinggi metal-moral budi pekerati dan kuat keyakinan beragamanya…”       
b. Pelaksanaan dalam Hidup Sehari-hari
1.      Seorang Pramuka selalu menyumbangkan pikirannya yang baik, tidak berprasangka, dan tidak boleh mempunyai sikap-sikap yang teercela dan selalu menghargai pemikiran-pemikiran orang lain. Sehingga timbul salaing haarga menghargai sesame manusia dalam kehidupannya sehari-hari.
2.      Seorang Pramuka akan selalu berhati-hati dan berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri  aterhadap ucapannya, dan menjauhkan diri dari perkataan-perkataan yang tidak pantas dan menimbulkan ketidak percaayaan orang lain.
3.      Seorang Pramuka akan menjadi contoh pribadi dalam segala tingkah lakunya dan menjauhkan diri  dari perbuatan-perbuatan yang jelek yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
4.      Setiap Pramuka mempunyai pegangan hidup yaitu agama, jelas di sini bahwa Pramuka itu beragama bukan hanya dalam pikiran dan perkataan belaka, tetapi keberagamaan Pramuka tercermin pula dalam perbuatan yang nyata.
5.      Usaha agar Pramuka itu satu dalam kata dan perbuatannya.

Jakarta, 28 Februari 1979
                                                                                    Kwartir Nasional Gerakan Pramuka                                                                                                                     Ketua,

                                                                                                              ttd



                                                                                         Letjen TNI (Purn) Mashudi





           


                                                 













JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...