Sunday, September 29, 2013

KALIMAT



JENIS KALIMAT
A.  Berdasarkan Pengucapan
Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kaliamt yang memberitakan bagaimana ucapan dari orang lain (orang ketiga). Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik dua (“….”) dan dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah.
Contoh:
-  Ibu berkata: “Rohan, jangan meletakkan sepatu di sembarang tempat!”
-  “Saya gembira sekali”,kata ayah,”karena kamu lulus ujian”.
2. Kalimat Tak Langsung
Kalimat tak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan  orang lain. Kalimat tak langsung tidak ditandai lagi dengan tanda petik dua dan sudah dirubah menjadi kalimat berita.
Contoh:
-  Ibu berkata bahwa dia senang sekali karena aku lulus ujian.
-  Kakak berkata bahwa buku itu harus segera dikembalikan.

B.  Berdasarkan Jumlah Frasa (Struktur Gramatikal)
Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1.  Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki satu pola (klausa) yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat. Kalimat tunggal merupakan kalimat dasar sederhana. Kalimat-kalimat yang panjang dapat dikembalikan ke dalam kalimat-kalimat dasar yang sederhana dan dapat juga ditelusuri pola-pola pembentukannya.
Contoh :
a.       KB + KK (Kata Benda + Kata Kerja)
Contoh:   Victoria bernyanyi
.                              S                  P


b.      KB + KS (Kata Benda + Kata Sifat)
Contoh:   Ika sangat rajin
.                  S          P
c.       KB + KBil (Kata Benda + Kata Bilangan)
Contoh:  Masalahnya seribu satu.
.                                S             P

2.  Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk terdiri atas dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan baik kordinasi maupun subordinasi. Kalimat majemuk dapat dibedakan atas  3 jenis, yaitu:
2.1.  Kalimat Majemuk Setara (KMS)
Kalimat ini terbentuk dari 2 atau lebih kalimat tunggal dan kedudukan tiap kalimat sederajat. Kalimat majemuk setara dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, yaitu:
a.       KMS Penggabungan. Dua atau lebih kalimat tunggal yang dihubungkan oleh kata dan atau serta.
Contoh:
-  Kami mencari bahan dan mereka meramunya.
-  Ratih dan Ratna bermain bulu tangkis di halaman rumah.
b.      KMS Pertentangan. Dua kalimat tunggal yang dihubungkan oleh kata tetapi, sedangkan, namun, melainkan. Kedua kalimat tersebut menunjukkan hubungan pertentangan.
Contoh:
-  Indonesia adalah negara berkembang, sedangkan jepang termasuk negara yang sudah maju.
-  Bukan saya memecahkan gelas itu, melainkan kakak.
c.       KMS Pemilihan. Dua atau lebih kalimat tunggal yang dihubungkan oleh kata atau.
Contoh:
-  Makalah ini harus dikumpukan besok atau minggu depan.
-  Aku atau dia yang akan kamu pilih.
d.      KMS Penguatan. Dua atau lebih kalimat tunggal dihubungkan dengan kata bahkan.
Contoh:
-  Dia tidak hanya cantik, bahkan dia juga sangat baik hati.
-  Pencuri itu tidak hanya dipukuli oleh masa, bahkan dia disiksa dengan sadis.
e.       KMS yang dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal yang dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian, untuk menandakan suatu kejadian yang berurutan.
Contoh:
-  Mula-mula disebutkan nama-nama juara melukis tingkat SD, kemudian disebutkan nama-nama juara melukis tingkat SMP.

2.2  Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB)
Kalimat majemuk setara terdiri atas satu suku kaliamat bebas dan satu suku kalimat yang tidak bebas. Kedua kalimat tersebut memiliki pola hubungan yang tidak sederajat. Bagian yang memiliki kedudukan lebih penting (inti gagasan) disebut sebagai klausa utama (induk kalimat). Bagian yang lebih rendah kedudukakannya disebut dengan klausa sematan (anak kalimat).
Ada beberapa penanda hubungan / konjungsi yang dipergunakan oleh kalimat majemuk bertingkat, yaitu:
1. Waktu : ketika, sejak
2.  Sebab: karena, Olehkarenaitu, sebab, oleh sebab itu
3.  Akibat: hingga, sehingga, maka
4.  Syarat: jika, asalkan, apabila
5.  Perlawanan: meskipun, walaupun
6.  Pengandaian: andaikata, seandainya
7.  Tujuan: agar, supaya, untukbiar
8.  Perbandingan: seperti, laksana, ibarat, seolaholah
9.  Pembatasan: kecuali, selain
10.  Alat: dengan+ katabenda:  dengan tongkat
11.  Kesertaan: dengan+ orang
Contoh:
-  Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Induk kalimat: Para hacker masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
Anak kalimat:  Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern.


2.3  Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat atau kebalikannya.
Contoh:
-   Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.
KMS:  Kami berhenti dan langsung pulang.
KMC:  Kami berhenti karena hari sudah malam.
.          Kami langsung pulang karena hari sudah malam.
 Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.
KMS:  Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja.
KMB: Mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai.

C.  Berdasarkan Isi atau Fungsinya
Kalimat dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:
1. Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Kalimat perintah biasanya diakhiri dengan tanda seru (!) dalam penulisannya. Sedangkan dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi.
Macam-macam kalimat perintah :
a.       Kalimat perintah biasa, ditandai dengan partikel lah.
Contoh : Gantilah bajumu !
b.      Kalimat larangan, ditandai dengan penggunaan kata jangan.
Contoh Jangan membuang sampah sembarangan !
c.       Kalimat ajakan, ditandai dengan kata mohon, tolong, silahkan.
Contoh : Tolong temani nenekmu di rumah !

2.  Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan sesuatu. Dalam penulisannya, biasanya diakhiri dengan tanda titik (.) dan dalam pelafalannya dilakukan dengan intonasi menurun. Kalimat ini mendorong orang untuk memberikan tanggapan.
Macam-macam kalimat berita :
a.       Kalimat berita kepastian
Contoh : Nenek akan datang dari Bandung besok pagi.
b.      Kalimat berita pengingkaran
Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu.
c.       Kalimat berita kesangsian
Contoh : Bapak mungkin akan tiba besok pagi.
d.      Kalmat berita bentuk lainnya
Contoh : Kami tidak taahu mengapa dia datang terlambat.

3.  Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang bertujuan untuk memperoleh suatu informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. Kalimat ini diakhiri dengan tanda tanya(?) dalam penulisannya dan dalam pelafalannya menggunakan intonasi menurun. Kata tanya yang dipergunakan adalah bagaimana, dimana, berapa, kapan.
Contoh:
-  Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan disainnya?
-  Kapan Becks kembali ke Inggris?

4.  Kalimat Seruan
Kalimat seruan adalah kalimat yang digunakan untuk mengungkapakan perasaa ‘yang kuat’ atau yang mendadak. Kalimat seruan biasanya ditandai dengan intonsi yang tinggi dalam pelafalannya dan menggunakan tanda seru (!) atau tanda titik (.) dalam penulisannya.
Contoh:
-  Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa.
-  Bukan main, eloknya.

D. Berdasarkan Unsur Kalimat
Kalimat dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:
1. Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap adalah kalimat yang sekurang-kurangnya terdiri dari  satu buah subyek dan satu buah predikat. Kalimat Majas termasuk ke dalam kalimat lengkap.
Contoh :
-   Mahasiswa berdiskusi di dalam kelas.
          S               P                  K

-   Ibu mengenakan kaos hijau dan celana hitam.
     S            P                              O

2. Kalimat Tidak Lengkap
Kalimat tidak lengkap adalah kalimat yang tidak sempurna karena hanya memiliki subyek saja, atau predikat saja, atau objek saja atau keterangan saja. Kalimat tidak lengkap biasanya berupa semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan dan kekaguman.
Contoh:
- Sore?
- Masuk!
- Hei, …

E.  Berdasarkan Susunan  S-P
Kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1.  Kalimat Versi
Kalimat versi adalah kalimat yang predikatnya mendahului subjeknya. Kata atau frasa tertentu yang pertama muncul akan menjadi kunci yang akan mempengaruhi makna untuk menimbulkankesan tertentu, dibandingkan jika kata atau frasa ditempatkan pada urutan kedua. Kalimat ini biasanya dipakau untuk penekanan atau ketegasan makna.
Contoh:
Ambilkan koran di atas kursi itu!
          P                       S
Sepakat kami untuk berkumpul di taman kota.
.           S           P                          K
2.  Kalimat Inversi
Kalimat inversi adalah kalimat yang susunan dari unsur-unsur kalimatnya sesuai dengan pola kalimat dasar bahasa Indonesia (S-P-O-K).
Contoh:
Penelitian ini dilakukan mereka sejak 2 bulan yang lalu.
.                   S                 P            O                     K

Aku dan dia bertemu di cafe ini.
.             S             P             K

Wednesday, December 5, 2012

Cerpen BIDAK-BIDAK CATUR


“Kenapa harus diam saja bagai sapi pera? Padahal kita bukan bidak catur yang harus mengikuti alur pemain” tanya Rian kepada penduduk kali urang yang hanya bisa ngeluh di cangkruan melihat ulah lurah yang seenaknya sendiri. Rosip yang juga merasakan hal itu, menjawab dengan pertanyaan.
“Terus kita bisa apa?’
Rian terkejut.
“Dengan kita diam, mereka anggap kita tak ada masalah dan mereka akan semakin menjadi. Sebaiknya kita adakan pembicaraan dengan membuat forum bersama.”
“Caranya?”
Rian berpikir.
“Kita mengajak semua orang untuk memahami makna kebebasan dan batasan dari sebuah kebebasan, bukan hanya diam dan tenang melihat semua yang ada. Karena ketakutannya terhadap sesuatu yang besar, yang memberikan dampak bagi semut-semut disekitarnya. Kita harus memutus belenggu itu”
“Manamungkin mereka akan dengar bingar kita?”
“itu yang membuat kita berdiam diri?”
Rian tiba-tiba berteriak.
“Kita bukan bidak catur yang selalu terbelenggu dan terpenjara!!!!!!”
“Brisik!!!”  kata pak Marto tetangga sebelah.
“Begitu saja kamu sudah terdiam, dengan kata-kata ku! Bagaimana kalau sudah dalam forum, nyalimu belum seberapa untuk mendeklarasikan hal semacam ini. Kita memang bukan bidak catur, namun kita harus cerdik bagai pemain catur yang bisa mengatur!”
“Kalau begitu maksudnya kita harus menjadi pejabat seperti mereka?”
“Bukan! Ini bukan teori ataupun pepatah yang menyatakan jika kamu ingin menjadi sesuatu maka kamu harus menguasai kaum itu! Itu hanyalah pepatah kuno yang menjadikan kita merasa terperangah dan berambisi menjadi penguasa.
Begitu”
Rian dan Rosip hanya mengangguk.
 Disisilain tekat Rian sudah bulan untuk menjadi penggerak dalam forum terbuka.
“ Kita akan tetap melaksanakan forum itu dengan segera, karena hanya dengan diskusi semua akan berjalan baik.”
“Betul. Tapi ingat pesan bapak, berpikirlah sebagai seorang pemain catur yang mampu menggerakkan tiap bidaknya dengan rapi!”
Pak martopun pergi dengan langkah kewibawaannya.
Tiba-tiba seorang anak kecil lewat sambil menangis. Wajah polosnya terlihat jelas.
“Kenapa dik?”
“Uangku diambil mereka”
Rian dan Rosip tercengang.
“Lho bukannya perampasan itu perbuatan yang salah?!”
“Ayo segera kita bantu anak itu, kita ambil kembali hak dari anak ini.”
Rengekan anak kecil itupun masih terdengar jelas, dan Rian berpikir tajam.
“Cepat, keburu mereka pergi!”
Karena Rian masih bengong, Rosip menarik Rian sambil berlari dengan anak kecil   itu.
“ Mereka yang mengambil uangku!”
“Hoe, kalian tahu tidak! Perampasan hak oranglain itu tidak boleh.”
“Mentang-mentang kalian besar bukan berarti harus sewenang-wenang melakukan penindasan pada kaum yang lemah”
“Harusnya kita yang besar memberikan contoh yang baik, bukan sebaliknya.”
“Kalian jangan ikut campur!”
“Ini urusan kami, terserah kami mau berbuat apa!”
“Tapi perbuatan kalian sungguh meresahkan bagi para kaum lemah.”
“Bukan maksud kami untuk ikut campur, sebagai sesama kita hanya bisa saling mengingatkan.”
“Betul!”
 Ketika melihat perselisihan tersebut, Para tetangga hanya melihat. Mereka anggap itu sebagai fenomena langka, karena baru kali ini masalah kecil menjadi besar. Padahal masalah besar saja warga hanya diam.
“Bubar bubar bubar!!!”
“ini bukan tontonan”
“bukannya membantu malah asik menonton.”
“pantas saja pemimpin kita semakin menjadi-jadi, karena kalian hanya bisa melihat dan diam bagai bidak catur yang mudah dipermainkan.”
Seketika semua warga diam, hanya saling menatap satu sama lain. Seolah-olah seorang guru yang sedang memberikan tugas yang sangat berat kepada siswanya sehingga siswa bingung.
Satu persatu warga mulai berbalik dan membubarkan diri sambil menggerutu. Sekelompok pemalak itupun mulai luluh.
“kami mohon maaf apabila kami salah dan telah banyak meresahkan anak-anak dikampung ini.”
“Kami hanya butuh uang untuk makan dan sekedar membeli rokok.”
“Kami janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Merekapun saling berjabat tangan, sebagai tanda pengucap maap dan pengesah perjanjian atas  apa yang mereka ucapkan.
“Rian, tak seharusnya kamu berkata seperti itu kepada warga! Semua itu bisa mengakibatkan warga jadi males melihat ataupun menyapa kita!” ujar Rosip.
“Biar!”
“Aku berbuat demikian agar mereka sadar!”
“Sadar?”
“Sadar dari penindasan sang penguasa kampung.”
“Apa kamu mau hidup selamanya dibawa kekangan aturan yang merugikan kita.”
“Pastinya tidak!”
Keesokan harinya Rian mengantarkan Undangan kekanntor kelurahan dan pada seluruh masyarakat bahwa akan dilaksanakan Forum diskusi antar warga dan pihak kelurahan.
Dengan penuh semangat pukul 08.00 WIB diskusi forumpun dilaksanakan di Balai Desa setempat. Forum itu dihadiri bukan hanya pegawai kelurahan, tapi juga melibatkan banyak pihak yaitu Rw, RT, dan warga masyarakat serta pemuda.
“Begini pak lurah!”
“Kami hanya ingin agar peraturan- peraturan yang memberatkan kami bisa dihilangkan!”
“Peraturan yang mana?”
“Kenapa minta surat rujukkan untuk membuat KTP kita harus bayar, pengajuan JAMKESMAS harus bayar???!”
“Padahal itu semua hak kami.”
“Kebersihan jalan harus bayar? Bukankah kita selalu melaksanakan gotong royong bersih lingkungan! Konsumsipun kami di jadwal!”
Pak lurah hanya diam beserta setafnya. Kepulan asap rokok menambah suasana diruangan semakin memanas.
Kemudian salah satu warga berteriak.
“Kita turunkan saja lurah ini.”
“Betul” Triak para warga yang terprofokasi.
Adu mulut tak terelakkan. Hapir dua jam berlalu tapi belum jua ada titik terang.
“Kesejahtraan warga yang bagaimana? Jika semua selalu dihargai dengan uang?’
“Uang yang kita bayarkan untuk semua itu difungsikan untuk apa?”
“Harusnya ada penjelasan secarah jelas dan gamblang! Bukan malah ditutup-tutupi.’
Ketakutan terlihat jelas dari raut wajah-wajah pegawai kelurahan. Pak lurah hanya tercengang bingung mau bicara apa? Dengan penuh keringat di dahinya.
“Banyak pejabat korupsi tapi mereka hanya santai.” Ucap lurah dalam hati.
“Pak lurah tinggal memutuskan untuk tetap menjabat atau mundur?”
“Atau mau mundur paksa?” seru warga yang lain.
Dengan suasana yang makin memanas, Rian sebagai moderator untuk istirahat bak sidang para anggota DPR-MPR.
“Berhubung sebentar lagi adzan sholat jumat, kita istirahatkan dulu forum ini. Kita lanjut pukul 13.00.”
Warga berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Sedang para pegawai kelurahan masih tetap terdiam dikursi masing-masing. Dengan sebatang rokok ditangan kiri yang megangi kepala.
Pukul 13.00 rapat forum dimulai lagi.
Sesuai dengan hasil diskusi dengan sesama anggota pegawai kelurahan, pak lurah mengeluarkan pernyataan”Dengan ini saya menyatakan pengunduran diri saya sebagai lurah dikelurahan ini.”
Pernyataan tersebut membuat warga merasa senang. Sorak kegembiraan meluap, namun Rian justru malah balik terdiam. Karena tak tahu siapa pengganti lurah berikutnya! Lebih baik atau justru memperbudak?



JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...