Wednesday, October 7, 2026

JEJAK SEJARAH, WARISAN BUDAYA Di Wilayah PEKALONGAN-BATANG

 


 

 

 

 

MAKALAH SEJARAH

 

 

JEJAK SEJARAH, WARISAN BUDAYA
Di Wilayah PEKALONGAN-BATANG

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Adib Ahkami

 

 

 

TAHUN 2026

ABSTRAK

Wilayah Pekalongan dan Batang merupakan kawasan penting dalam sejarah Jawa Tengah. Letaknya di pesisir utara Jawa menjadikan kedua wilayah tersebut memiliki hubungan dengan jalur perdagangan, pelayaran, pertukaran budaya, serta perkembangan berbagai kekuasaan politik sejak masa lampau. Sejarah kawasan ini tidak hanya berkaitan dengan masa kerajaan Islam, tetapi juga memiliki jejak kuat dari masa Hindu-Buddha.

Salah satu bukti paling penting terdapat di Kabupaten Batang, yaitu Prasasti Sojomerto yang menyebut nama Dapunta Selendra beserta nama keluarganya. Prasasti tersebut diperkirakan berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-7 Masehi dan menjadi salah satu sumber penting dalam pembahasan mengenai asal-usul Wangsa Syailendra.

Dalam perkembangan berikutnya, kawasan Pekalongan dan Batang berada dalam lingkungan sejarah Mataram Kuno, kemudian mengalami pengaruh kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Pajang, dan Mataram Islam. Pada masa Mataram Islam, Pekalongan dan Batang mempunyai arti strategis sebagai kawasan pesisir dan jalur menuju wilayah barat Jawa.

Makalah ini bertujuan menguraikan perjalanan sejarah Pekalongan dan Batang dari masa kerajaan Hindu-Buddha, perkembangan Islam, masa Mataram Islam, masa kolonial, hingga terbentuknya pemerintahan daerah modern.

Kata kunci: Pekalongan, Batang, Kalingga, Syailendra, Mataram Kuno, Demak, Pajang, Mataram Islam.


 

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul “Kerajaan yang Berdiri dan Berkembang di Wilayah Pekalongan dan Batang dari Masa ke Masa” dapat diselesaikan.

Pekalongan dan Batang merupakan wilayah yang mempunyai perjalanan sejarah panjang. Letaknya di pesisir utara Jawa menjadikan kawasan tersebut sejak masa lampau berhubungan dengan berbagai pusat kekuasaan, jalur perdagangan, agama, dan kebudayaan.

Salah satu peninggalan yang sangat penting adalah Prasasti Sojomerto di Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Prasasti tersebut menyebut nama Dapunta Selendra dan menjadi salah satu sumber penting dalam pembahasan mengenai perkembangan Wangsa Syailendra.

Sejarah wilayah Pekalongan dan Batang kemudian terus berkembang. Setelah masa Hindu-Buddha, kawasan pesisir utara Jawa mengalami proses Islamisasi dan masuk dalam jaringan kekuasaan Demak, Pajang, serta Mataram Islam.

Penulis menyadari bahwa sejarah lokal merupakan bidang yang masih terus dikaji. Oleh karena itu, beberapa bagian dalam makalah ini menggunakan istilah seperti “diduga”, “diperkirakan”, atau “dikaitkan dengan” ketika bukti sejarah belum memungkinkan adanya kesimpulan mutlak.

Semoga makalah ini dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai sejarah lokal dan mendorong generasi muda untuk menjaga peninggalan sejarah yang terdapat di Pekalongan dan Batang.

Pekalongan/Batang, 2026

Penulis


 

DAFTAR ISI

ABSTRAK                                                               i

KATA PENGANTAR                                                        ii

DAFTAR ISI                                                            iii

BAB I PENDAHULUAN                                                     1

BAB II KONDISI GEOGRAFIS DAN STRATEGIS                                4

BAB III MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA                                    6

BAB IV PERKEMBANGAN KERAJAAN ISLAM                                    11

BAB V PEKALONGAN DAN BATANG PADA MASA KOLONIAL                        15

BAB VI PENINGGALAN SEJARAH                                            18

BAB VII MENUJU DAERAH MODERN                                          21

BAB VIII ANALISIS PERKEMBANGAN KEKUASAAN                              24

BAB IX PENUTUP                                                        28

DAFTAR PUSTAKA                                                        30

LAMPIRAN                                                              32


 

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah Indonesia merupakan sejarah panjang yang terbentuk melalui interaksi antara berbagai masyarakat, kerajaan, agama, kebudayaan, perdagangan, dan kekuasaan politik. Sejarah tersebut tidak hanya berlangsung di pusat-pusat kerajaan besar, tetapi juga berkembang di wilayah pesisir.

Pekalongan dan Batang merupakan dua wilayah yang berada di pesisir utara Jawa Tengah. Letaknya pada jalur Pantai Utara Jawa menjadikan kedua wilayah ini memiliki posisi strategis dalam hubungan perdagangan dan komunikasi antara daerah pesisir dengan pedalaman.

Bukti sejarah tertua yang sangat penting di kawasan Batang adalah Prasasti Sojomerto. Prasasti tersebut ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Prasasti menggunakan bahasa Melayu Kuno dan diperkirakan berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-7 Masehi.

Prasasti tersebut menyebut seorang tokoh bernama Dapunta Selendra beserta keluarganya. Nama tersebut penting karena dikaitkan dengan Wangsa Syailendra yang kemudian mempunyai peranan besar dalam sejarah Mataram Kuno.

Sejarah Pekalongan dan Batang kemudian berlanjut hingga masa kerajaan Islam. Kawasan pesisir utara Jawa menjadi salah satu daerah penting dalam penyebaran Islam dan jaringan perdagangan. Demak, Pajang, dan Mataram Islam memberikan pengaruh terhadap kawasan tersebut.

Pada masa Sultan Agung, Pekalongan mempunyai hubungan administratif yang kuat dengan Mataram Islam. Tahun 1622 dikaitkan dengan pengangkatan Pangeran Mandurorejo sebagai bupati pertama Pekalongan oleh Sultan Agung.

Sejarah Batang juga memiliki hubungan erat dengan Mataram Islam. Pada masa berikutnya, struktur pemerintahan berubah akibat kolonialisme, hingga akhirnya Pekalongan dan Batang menjadi daerah administratif Republik Indonesia.

B. Identifikasi Masalah

Belum banyak masyarakat mengetahui sejarah kerajaan yang berkaitan dengan Pekalongan dan Batang.

Sejarah lokal sering kali hanya dipelajari melalui cerita rakyat tanpa membandingkannya dengan sumber tertulis dan arkeologis.

Beberapa kerajaan yang dikaitkan dengan wilayah ini memiliki bukti dengan tingkat kekuatan yang berbeda.

Peninggalan sejarah belum sepenuhnya dikenal oleh generasi muda.

C. Rumusan Masalah

Bagaimana kondisi geografis yang memengaruhi perkembangan sejarah Pekalongan dan Batang?

Bagaimana hubungan wilayah tersebut dengan Kalingga?

Apa arti penting Prasasti Sojomerto?

Bagaimana hubungan Dapunta Selendra dengan Wangsa Syailendra?

Bagaimana pengaruh Mataram Kuno?

Bagaimana proses masuknya Islam?

Bagaimana pengaruh Demak, Pajang, dan Mataram Islam?

Bagaimana perkembangan pemerintahan pada masa kolonial?

Apa saja peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan?

D. Tujuan Penulisan

Menjelaskan sejarah Pekalongan dan Batang secara kronologis.

Menjelaskan hubungan kawasan tersebut dengan kerajaan Hindu-Buddha.

Mengkaji arti penting Prasasti Sojomerto.

Menjelaskan perkembangan Wangsa Syailendra dan Mataram Kuno.

Menguraikan perkembangan kerajaan Islam.

Mengetahui perkembangan pemerintahan pada masa kolonial.

Mengidentifikasi peninggalan sejarah.

Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian sejarah lokal.

E. Manfaat Penulisan

Bagi pelajar: memberikan pengetahuan mengenai sejarah daerah sendiri.

Bagi masyarakat: menumbuhkan kesadaran terhadap warisan sejarah.

Bagi pemerintah daerah: menjadi bahan pendukung pendidikan sejarah lokal dan wisata sejarah.

Bagi peneliti: menjadi bahan awal untuk penelitian lebih lanjut.

F. Metode Penulisan

Makalah ini menggunakan metode studi pustaka dan pendekatan sejarah. Sumber yang digunakan meliputi situs resmi pemerintah daerah, publikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jurnal dan kajian arkeologi, data mengenai prasasti, serta literatur sejarah Indonesia.

BAB II
KONDISI GEOGRAFIS DAN STRATEGIS PEKALONGAN-BATANG

A. Letak Geografis

Pekalongan dan Batang berada di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Kota Pekalongan berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara dan Kabupaten Batang di sebelah timur. Posisi tersebut menempatkan kawasan ini pada jalur Pantura yang penting.

B. Pesisir Utara Jawa sebagai Jalur Perdagangan

Pantai utara Jawa sejak masa lampau merupakan kawasan penting bagi perdagangan. Pedagang dapat menggunakan jalur laut untuk mencapai pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Dari pantai, jalur perdagangan berhubungan dengan daerah pedalaman yang menghasilkan beras, hasil perkebunan, kayu, kerajinan, dan hasil pertanian lainnya.

C. Hubungan Pesisir dan Pedalaman

Pekalongan dan Batang menjadi penghubung antara laut dan daerah pedalaman. Hubungan ini menciptakan jaringan ekonomi yang saling melengkapi: pantai menyediakan jalur perdagangan, sedangkan pedalaman menghasilkan berbagai komoditas.

BAB III
MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA

A. Kondisi Awal Masyarakat

Sebelum munculnya kerajaan besar, masyarakat Jawa telah mengenal permukiman, pertanian, kepercayaan, dan perdagangan. Pengaruh budaya India masuk melalui hubungan perdagangan dan kontak budaya, kemudian diolah sesuai kebudayaan lokal.

B. Kalingga/Holing

Kalingga atau Holing merupakan salah satu kerajaan yang sering dikaitkan dengan sejarah Jawa Tengah bagian utara. Kerajaan ini diperkirakan berkembang sekitar abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Informasi mengenai Kalingga antara lain berasal dari berita Tiongkok. Lokasi pusat kerajaan masih menjadi perdebatan sehingga tidak tepat menyatakan secara mutlak bahwa pusat Kalingga berada di Pekalongan atau Batang.

C. Ratu Shima

Ratu Shima merupakan tokoh terkenal dalam tradisi sejarah Kalingga. Ia dikenal sebagai penguasa yang tegas dalam menegakkan hukum. Kisahnya perlu dibaca dengan membandingkan berbagai sumber karena tidak seluruh detail cerita memiliki bukti arkeologis langsung.

D. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto merupakan salah satu peninggalan sejarah paling penting di Kabupaten Batang. Lokasinya berada di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban. Prasasti menggunakan bahasa Melayu Kuno dan diperkirakan berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-7 Masehi. Prasasti menyebut Dapunta Selendra, Santanu, Bhadrawati, dan Sampula serta berkaitan dengan penghormatan kepada Siwa.

E. Dapunta Selendra dan Wangsa Syailendra

Nama Dapunta Selendra sangat penting dalam kajian sejarah Jawa. Sejumlah sejarawan menghubungkan tokoh ini dengan asal-usul Wangsa Syailendra. Pendapat tersebut menjadikan Prasasti Sojomerto sebagai bukti penting bahwa nama Selendra telah dikenal di kawasan Batang pada masa awal.

F. Batang sebagai Kawasan Awal Perkembangan Politik

Kajian arkeologi mengenai Batang menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam sejarah awal Jawa Tengah. Berdasarkan Prasasti Sojomerto, diperkirakan bahwa pada awal abad ke-7 Masehi di pantai utara Jawa Tengah telah terdapat cikal bakal institusi politik kerajaan.

G. Mataram Kuno

Mataram Kuno atau Medang merupakan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Jawa Tengah. Kerajaan ini berkembang sejak sekitar abad ke-8 Masehi dan menghasilkan banyak prasasti serta bangunan keagamaan. Pekalongan dan Batang bukan pusat utama Mataram Kuno, tetapi memiliki bukti dan hubungan penting dengan perkembangan politik dan kebudayaan Mataram.

H. Kehidupan Masyarakat Hindu-Buddha

Masyarakat masa Hindu-Buddha menjalankan kehidupan melalui pertanian, perdagangan, keagamaan, hubungan antarkelompok, pelayaran, dan pemerintahan. Daerah pedalaman bertumpu pada pertanian, sedangkan pesisir memiliki peranan besar dalam perdagangan dan pelayaran.

BAB IV
PERKEMBANGAN KERAJAAN ISLAM

A. Islamisasi Pesisir Utara Jawa

Memasuki abad ke-15 dan ke-16, Islam berkembang semakin kuat di kawasan pesisir utara Jawa melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dakwah ulama, hubungan antarkerajaan, dan jaringan pesantren.

B. Kesultanan Demak

Demak merupakan salah satu kerajaan Islam penting di Jawa. Kekuasaannya berkembang di pesisir utara dan mempunyai hubungan dengan berbagai daerah melalui perdagangan dan politik. Pekalongan dan Batang berada dalam lingkungan jaringan tersebut, tetapi bukan pusat utama Kesultanan Demak.

C. Pajang

Setelah Demak mengalami perubahan politik, muncul Kesultanan Pajang. Pajang berada di pedalaman tetapi mempunyai hubungan dengan wilayah pesisir. Pekalongan dan Batang menjadi penting karena berada pada jalur penghubung pantai dan pedalaman.

D. Mataram Islam

Mataram Islam berkembang menjadi kekuatan politik besar di Jawa. Pada masa Sultan Agung, Mataram memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah, termasuk kawasan pesisir utara.

E. Sultan Agung

Sultan Agung merupakan salah satu penguasa terbesar Mataram Islam. Pada 1628 dan 1629 Mataram menyerang Batavia. Dalam persiapan tersebut, daerah pesisir utara mempunyai peranan penting sebagai jalur logistik dan mobilisasi.

F. Pangeran Mandurorejo dan Pekalongan

Sejarah administratif Kabupaten Pekalongan secara resmi mengaitkan tahun 1622 dengan pengangkatan Pangeran Mandurorejo sebagai bupati pertama Pekalongan oleh Sultan Agung. Momentum ini digunakan sebagai dasar Hari Jadi Kabupaten Pekalongan.

G. Tumenggung Bahureksa dan Kawasan Batang-Pekalongan

Nama Tumenggung Bahureksa sangat terkenal dalam sejarah lokal Pekalongan dan Batang. Ia dikaitkan dengan pemerintahan wilayah pesisir dan persiapan Mataram menghadapi Batavia. Kisah mengenai Bahureksa perlu dibedakan antara unsur yang didukung sumber sejarah dan unsur legenda masyarakat.

H. Perubahan Politik dan Ekonomi

Masa Mataram Islam membawa perubahan besar. Wilayah pesisir berfungsi sebagai sumber pangan, jalur perdagangan, transportasi, tempat pengumpulan hasil bumi, pusat pemerintahan lokal, dan jalur mobilisasi pasukan.

BAB V
PEKALONGAN DAN BATANG PADA MASA KOLONIAL

A. Masuknya VOC

Pada abad ke-17 VOC semakin kuat di Jawa. VOC berusaha menguasai perdagangan dan memperoleh monopoli atas berbagai komoditas. Persaingan antara Mataram dan VOC memengaruhi wilayah pesisir utara Jawa.

B. Perubahan Struktur Pemerintahan

Pada masa kolonial, sistem pemerintahan tradisional disusun ulang. VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda menggunakan pejabat pribumi seperti bupati untuk menjalankan pemerintahan lokal dalam struktur kolonial.

C. Pekalongan sebagai Karesidenan

Pada masa Hindia Belanda, Pekalongan menjadi salah satu pusat administrasi penting. Karesidenan Pekalongan mencakup beberapa daerah, termasuk Pekalongan dan Batang.

D. Batang dalam Pemerintahan Kolonial

Batang mengalami perubahan administratif selama masa kolonial. Status Kabupaten Batang pernah dihapus dan wilayahnya kemudian bergabung dengan Kabupaten Pekalongan.

E. Penggabungan Batang dengan Pekalongan

Menurut sejarah resmi Kabupaten Batang, status Kabupaten Batang dihapus pada 1 Januari 1936. Sejak saat itu sampai 8 April 1966, Batang tergabung dengan Kabupaten Pekalongan.

F. Perkembangan Ekonomi dan Perdagangan

Pekalongan berkembang sebagai kawasan perdagangan dan industri. Batik menjadi salah satu identitas ekonomi dan budaya yang kuat. Perkembangan batik dipengaruhi oleh interaksi masyarakat lokal dengan berbagai budaya.

BAB VI
PENINGGALAN SEJARAH

A. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan terpenting yang berkaitan dengan sejarah awal Batang. Lokasinya di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban. Prasasti menggunakan bahasa Melayu Kuno dan menyebut Dapunta Selendra beserta keluarganya.

B. Peninggalan Arkeologis Batang

Selain Prasasti Sojomerto, penelitian menunjukkan adanya berbagai tinggalan arkeologis seperti yoni dan arca yang berkaitan dengan perkembangan keagamaan Hindu-Buddha. Temuan tersebut memperkuat pentingnya Batang dalam sejarah awal Jawa Tengah.

C. Peninggalan Islam

Peninggalan masa Islam meliputi masjid kuno, makam tokoh agama, kompleks makam, tradisi keagamaan, pesantren, naskah keagamaan, dan tradisi masyarakat pesisir.

D. Tradisi dan Kebudayaan Pekalongan

Pekalongan memiliki tradisi yang berkembang dari interaksi panjang berbagai kebudayaan. Tradisi Syawalan dan budaya batik merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.

E. Nilai Penting Cagar Budaya

Peninggalan sejarah memiliki nilai pendidikan, budaya, ilmiah, ekonomi, dan sosial. Karena itu, pelestarian situs dan benda bersejarah perlu melibatkan pemerintah, sekolah, peneliti, dan masyarakat.

BAB VII
PERKEMBANGAN MENUJU DAERAH MODERN

A. Masa Pendudukan Jepang

Pada 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Jepang mengambil alih pemerintahan. Masyarakat Pekalongan dan Batang mengalami berbagai kesulitan akibat perang dan kebijakan pendudukan.

B. Perjuangan Kemerdekaan

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, masyarakat di berbagai daerah berusaha mengambil alih pemerintahan dari Jepang. Pekalongan mengalami peristiwa penting pada 3 Oktober 1945 yang dikenal sebagai Pertempuran 3 Oktober 1945.

C. Pekalongan Setelah Kemerdekaan

Pemerintah Kota Pekalongan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950. Pekalongan berkembang sebagai kota perdagangan, industri, jasa, dan budaya dengan batik sebagai salah satu identitas utama.

D. Kabupaten Pekalongan

Kabupaten Pekalongan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950. Dalam perkembangannya pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan dipindahkan ke Kajen.

E. Kembalinya Kabupaten Batang

Setelah bergabung dengan Kabupaten Pekalongan sejak 1936, Kabupaten Batang kembali berdiri pada 8 April 1966. Tanggal tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah pemerintahan Batang.

BAB VIII
ANALISIS PERKEMBANGAN KEKUASAAN

A. Masa Hindu-Buddha

Pada masa awal, kekuasaan politik berkembang bersama agama Hindu-Buddha. Batang menunjukkan bukti adanya masyarakat yang telah mengenal tradisi keagamaan dan tulisan. Prasasti Sojomerto merupakan bukti paling kuat.

B. Masa Kalingga

Kalingga merupakan bagian penting dalam sejarah Jawa Tengah bagian utara. Akan tetapi, lokasi pusat kerajaan belum dapat dipastikan sehingga hubungan Pekalongan dan Batang sebaiknya dipahami sebagai hubungan kawasan.

C. Masa Syailendra

Masa Syailendra sangat penting bagi Batang. Nama Dapunta Selendra dalam Prasasti Sojomerto menunjukkan hubungan kawasan dengan tokoh yang dikaitkan dengan perkembangan Wangsa Syailendra.

D. Masa Mataram Kuno

Hubungan daerah pedalaman dan pesisir semakin penting. Pesisir menyediakan akses perdagangan, sedangkan pedalaman menghasilkan komoditas pertanian.

E. Masa Demak dan Pajang

Islam berkembang kuat di pesisir. Perubahan agama diikuti perubahan politik dan kebudayaan.

F. Masa Mataram Islam

Mataram Islam menghubungkan kekuatan pedalaman dan pesisir. Pekalongan dan Batang mempunyai arti strategis sebagai jalur transportasi dan logistik.

G. Masa Kolonial

Kekuasaan kerajaan semakin terbatas. VOC dan pemerintah Belanda mengatur perdagangan serta administrasi. Pekalongan berkembang sebagai pusat administratif dan ekonomi.

H. Masa Republik Indonesia

Setelah kemerdekaan, sistem kerajaan dan kolonial digantikan oleh pemerintahan Republik Indonesia. Pekalongan dan Batang berkembang sebagai daerah administratif modern.

BAB IX
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pekalongan dan Batang merupakan kawasan yang mempunyai sejarah panjang dan penting dalam perjalanan sejarah Jawa Tengah.

Sejarah kawasan tersebut telah berlangsung sejak masa Hindu-Buddha. Salah satu bukti paling penting adalah Prasasti Sojomerto di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang.

Prasasti Sojomerto menjadi sangat penting karena nama Selendra kemudian dikaitkan dengan Wangsa Syailendra. Pada masa berikutnya, kawasan ini berada dalam lingkungan perkembangan Mataram Kuno.

Memasuki masa Islam, wilayah pesisir utara Jawa menjadi salah satu pusat perkembangan Islam. Demak, Pajang, dan Mataram Islam memberikan pengaruh terhadap kawasan tersebut.

Pada masa Sultan Agung, hubungan Pekalongan dan Batang dengan Mataram Islam semakin kuat. Tahun 1622 menjadi momentum penting bagi sejarah administratif Kabupaten Pekalongan.

Pada masa kolonial terjadi perubahan besar. Batang pernah bergabung dengan Kabupaten Pekalongan dari 1936 sampai 1966. Setelah kemerdekaan, keduanya berkembang sebagai daerah administratif Republik Indonesia.

Dengan demikian, sejarah Pekalongan dan Batang merupakan rangkaian panjang perkembangan masyarakat, kerajaan, perdagangan, agama, kebudayaan, pemerintahan, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, dan pembentukan pemerintahan modern.

B. Saran

Generasi muda perlu meningkatkan perhatian terhadap sejarah lokal Pekalongan dan Batang. Pemerintah, sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi perlu bekerja sama untuk melakukan penelitian sejarah lokal, menjaga situs dan benda cagar budaya, membuat dokumentasi digital, mengembangkan wisata sejarah, memasukkan sejarah lokal dalam pembelajaran, dan mendokumentasikan cerita rakyat.

LAMPIRAN A
TIMELINE SEJARAH PEKALONGAN-BATANG

Periode

Peristiwa

Abad VI–VII

Perkembangan kerajaan awal di Jawa Tengah bagian utara

Abad VII

Perkiraan masa Prasasti Sojomerto

Abad VII

Dapunta Selendra dikaitkan dengan perkembangan awal Wangsa Syailendra

Abad VIII–X

Perkembangan Mataram Kuno

Abad XV–XVI

Islam berkembang kuat di pesisir utara Jawa

Abad XVI

Perkembangan Demak dan Pajang

Abad XVI–XVII

Perkembangan Mataram Islam

1622

Pangeran Mandurorejo dikaitkan dengan awal pemerintahan Kabupaten Pekalongan

1628–1629

Mataram menyerang Batavia

1936

Kabupaten Batang dihapus dan bergabung dengan Pekalongan

1945

Proklamasi dan perjuangan kemerdekaan

1950

Pembentukan daerah Kabupaten Pekalongan secara hukum

1966

Kabupaten Batang kembali berdiri

Masa kini

Pekalongan dan Batang menjadi daerah administratif Jawa Tengah

 

LAMPIRAN B
KERAJAAN DAN KEKUASAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEKALONGAN-BATANG

Kerajaan/Kekuasaan

Periode

Hubungan

Kalingga/Holing

± abad VI–VII

Kawasan sejarah Jawa Tengah utara; pusat kerajaan belum pasti

Kelompok awal Syailendra

± abad VII

Bukti kuat melalui Prasasti Sojomerto

Mataram Kuno

± abad VIII–X

Pengaruh politik dan budaya Jawa Tengah

Demak

± abad XV–XVI

Jaringan Islam dan perdagangan pesisir

Pajang

abad XVI

Peralihan kekuasaan Islam Jawa

Mataram Islam

abad XVI–XVIII

Pengaruh kuat terhadap Pekalongan dan Batang

VOC

abad XVII–XVIII

Pengaruh politik dan ekonomi kolonial

Hindia Belanda

abad XIX–XX

Administrasi kolonial

Republik Indonesia

1945–sekarang

Pembentukan pemerintahan daerah modern

 

LAMPIRAN C
TOKOH PENTING

Tokoh

Periode

Peranan

Ratu Shima

Kalingga

Tokoh penguasa yang terkenal dalam tradisi sejarah Kalingga

Dapunta Selendra

± abad VII

Tokoh yang disebut dalam Prasasti Sojomerto

Sanjaya

Mataram Kuno

Tokoh penting sejarah awal Mataram

Sultan Trenggana

Demak

Penguasa penting Demak

Sultan Hadiwijaya

Pajang

Penguasa Pajang

Panembahan Senopati

Mataram Islam

Pendiri kekuasaan Mataram Islam

Sultan Agung

Mataram Islam

Penguasa besar Mataram

Pangeran Mandurorejo

Mataram Islam

Dikaitkan dengan bupati pertama Pekalongan pada 1622

Tumenggung Bahureksa

Mataram Islam

Tokoh yang sangat terkait dengan sejarah lokal Pekalongan-Batang


 

DAFTAR PUSTAKA

Boechari. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Direktorat Pelindungan Kebudayaan. “Mataram Kuna: Agraris atau Maritim.” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Direktorat Pelindungan Kebudayaan. “Prasasti.” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Batang. “Sejarah Kabupaten Batang.”

Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Batang. “Prasasti Sojomerto.”

Pemerintah Kabupaten Pekalongan. “Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pekalongan ke-400 Tahun.” 2022.

Pemerintah Kota Pekalongan. “Sejarah Singkat Kota Pekalongan.”

Susetyo, Sukawati. “Situs Kesuben: Suatu Bukti Peradaban Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah.”

“Dinamika Kebudayaan dan Peradaban Batang Kuna.” Berkala Arkeologi.


 

CATATAN PENULIS

Makalah ini disusun sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal. Dalam kajian sejarah, beberapa hubungan antara kerajaan dan wilayah geografis masih menjadi bahan penelitian. Oleh karena itu, istilah “dikaitkan”, “diperkirakan”, dan “diduga” digunakan untuk menjaga ketepatan akademis ketika bukti yang tersedia belum memungkinkan kesimpulan mutlak.

Sumber utama yang perlu diperhatikan untuk penelitian lebih lanjut adalah prasasti, sumber arkeologi, arsip pemerintahan, karya ilmiah, serta sumber resmi pemerintah daerah.






PERISTIWA DI BELAHAN DUNIA PADA TAHUN KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW

 


MAKALAH / ARTIKEL SEJARAH

GAMBARAN PERISTIWA DUNIA PADA TAHUN 571 MASEHI

DAN KONDISI NUSANTARA, KHUSUSNYA TANAH JAWA

 

Disusun Oleh :
Adib Ahkami
sebagai ringkasan sejarah berdasarkan sumber-sumber sejarah dan kajian modern


 

ABSTRAK

Tahun 571 Masehi berada pada masa peralihan penting dalam sejarah dunia. Di berbagai kawasan berlangsung perubahan kekuasaan, konflik antarkerajaan, perkembangan perdagangan, serta perjumpaan agama dan kebudayaan. Di wilayah Jawa, sumber tertulis untuk tahun 571 Masehi sangat terbatas. Karena itu, pembahasan mengenai Jawa tidak boleh diperlakukan seolah-olah terdapat catatan langsung tentang setiap peristiwa yang terjadi tepat pada tahun tersebut. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa kawasan Jawa Barat masih berada dalam lingkungan politik dan kebudayaan Tarumanagara, sementara pusat-pusat kekuasaan di Jawa Tengah yang kelak melahirkan kerajaan-kerajaan besar belum memiliki bukti tertulis yang kuat pada tahun 571 M.

Di tingkat dunia, sekitar tahun 571 M terjadi perubahan besar di Jazirah Arab dan Yaman, persaingan Bizantium dan Sasania, perluasan bangsa Lombard di Italia, serta pergolakan politik di Tiongkok. Artikel ini menyajikan gambaran tersebut secara kronologis dan tematik, dengan penekanan pada kondisi Tanah Jawa serta keterbatasan sumber sejarah. Tujuannya adalah memberikan gambaran yang lebih rapi, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan tentang dunia pada sekitar tahun 571 M.

Kata Kunci

571 M, Tarumanagara, Jawa, Nusantara, Bizantium, Sasania, Lombard, Tiongkok, Yaman, sejarah dunia.

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tahun 571 Masehi menarik untuk dikaji karena berada di tengah abad ke-6, ketika berbagai pusat peradaban mengalami perubahan politik dan kebudayaan. Kekaisaran Bizantium dan Sasania berada dalam persaingan panjang; bangsa Lombard memperluas kekuasaan di Italia; Tiongkok terbagi ke dalam beberapa kerajaan; sementara di Jazirah Arab dan Yaman berlangsung perubahan yang berhubungan dengan persaingan antara kekuatan lokal, Aksum, dan Persia.

Bagi sejarah Indonesia, tahun 571 M juga menarik karena Jawa telah memiliki pengalaman pembentukan kerajaan dan tradisi tulis. Tarumanagara di Jawa Barat merupakan salah satu kerajaan awal yang dibuktikan melalui prasasti berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa. Namun, sebagian besar prasasti Tarumanagara yang diketahui berasal dari sekitar abad ke-5, bukan tahun 571 secara spesifik. Oleh sebab itu, pembahasan harus membedakan antara fakta yang didukung bukti langsung dan rekonstruksi berdasarkan rentang waktu.

1.2 Rumusan Masalah

• Bagaimana gambaran umum kondisi dunia sekitar tahun 571 M?

• Bagaimana kondisi politik dan kebudayaan Jawa pada masa tersebut?

• Apa saja peristiwa penting di kawasan Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika?

• Bagaimana keterbatasan sumber sejarah memengaruhi penafsiran tahun 571 M?

1.3 Tujuan

Makalah ini bertujuan menyusun gambaran sejarah sekitar tahun 571 M secara ringkas tetapi sistematis, dengan perhatian khusus pada Jawa dan Nusantara serta hubungan kondisi lokal dengan perubahan dunia.

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Jawa pada Sekitar Tahun 571 M

Pada sekitar tahun 571 M, Jawa Barat masih berada dalam rentang sejarah Tarumanagara. Tarumanagara dikenal sebagai salah satu kerajaan awal di Jawa yang berpusat di wilayah barat pulau. Sumber resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta menjelaskan bahwa prasasti-prasasti Tarumanagara menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa, serta berkaitan dengan pemerintahan Raja Purnawarman pada pertengahan abad ke-5. Prasasti Tugu juga mencatat pekerjaan penggalian saluran air yang menunjukkan kemampuan organisasi dan pengelolaan sumber daya pada masa tersebut.

Dengan demikian, ketika memasuki tahun 571 M, Tarumanagara dapat dipahami sebagai kerajaan yang masih berada dalam periode keberadaannya, meskipun tidak tersedia prasasti yang secara tegas bertanggal 571 M. Beberapa kajian menempatkan keberadaan Tarumanagara hingga abad ke-7. Temuan arkeologis di kawasan Batujaya dan Cibuaya juga menunjukkan perkembangan kebudayaan dan keagamaan di wilayah pantai utara Jawa Barat.

Penting ditegaskan bahwa tidak tepat menyatakan secara pasti siapa raja Tarumanagara pada tahun 571 M berdasarkan prasasti yang ada. Dari prasasti-prasasti Tarumanagara yang diketahui, Raja Purnawarman merupakan tokoh yang paling jelas terdokumentasi, tetapi masa pemerintahannya terutama ditempatkan pada abad ke-5. Karena itu, penyebutan nama penguasa Tarumanagara tepat pada 571 M memerlukan kehati-hatian.

2.2 Kondisi Jawa Tengah dan Jawa Bagian Lain

Jawa Tengah pada tahun 571 M belum memiliki bukti tertulis yang sekuat Tarumanagara. Prasasti Canggal tahun 732 M merupakan salah satu tonggak penting bagi sejarah politik Jawa Tengah pada periode berikutnya. Jarak waktu yang panjang antara sumber-sumber Tarumanagara dan prasasti Canggal membuat rekonstruksi sejarah Jawa pada abad ke-6 harus banyak bergantung pada arkeologi, perbandingan regional, dan penafsiran yang hati-hati.

Artinya, tidak berarti Jawa Tengah tidak memiliki kehidupan politik atau masyarakat yang terorganisasi. Justru kemungkinan terdapat komunitas agraris, pusat permukiman, jaringan perdagangan, dan tradisi keagamaan yang berkembang. Namun, untuk tahun 571 M, bukti tertulis yang dapat menyebut nama kerajaan, raja, atau peristiwa tertentu masih sangat terbatas.

2.3 Agama, Kebudayaan, dan Kehidupan Masyarakat di Jawa

Pengaruh kebudayaan India telah hadir di Nusantara sebelum abad ke-6. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa pada prasasti-prasasti kerajaan awal. Di Jawa Barat, lingkungan istana Tarumanagara memperlihatkan kuatnya unsur Hindu, khususnya pemaknaan raja yang berkaitan dengan dewa Wisnu. Pada saat yang sama, bukti arkeologis menunjukkan adanya perkembangan tradisi Buddha di kawasan tertentu.

Kehidupan ekonomi juga tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan maritim. Pantai utara Jawa memiliki posisi strategis karena menghubungkan kawasan Jawa dengan Sumatra, Semenanjung Malaya, India, dan wilayah Asia lainnya. Jaringan perdagangan tersebut memungkinkan pertukaran barang sekaligus gagasan, bahasa, teknologi, dan agama.

2.4 Jazirah Arab dan Tahun Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Sekitar tahun 570–571 M, Jazirah Arab berada dalam lingkungan politik dan perdagangan yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Kelahiran Nabi Muhammad SAW secara tradisional ditempatkan pada Tahun Gajah, yang oleh sebagian besar kronologi populer diperkirakan sekitar 570 M, sementara sebagian tradisi atau rekonstruksi menyebut sekitar 571 M. Karena terdapat perbedaan kronologi, lebih tepat menggunakan formulasi 'sekitar 570–571 M' daripada menyatakan 571 M sebagai tanggal yang sepenuhnya pasti.

2.5 Yaman dan Pengaruh Persia

Yaman merupakan wilayah strategis karena berada di jalur perdagangan Laut Merah dan Samudra Hindia. Pada paruh kedua abad ke-6, wilayah ini mengalami perubahan kekuasaan yang berkaitan dengan konflik antara Kerajaan Aksum dan Kekaisaran Sasania. Intervensi Persia di Yaman sekitar dekade 570-an memperkuat pengaruh Sasania di Arabia Selatan.

Perubahan tersebut penting bagi sejarah dunia karena Yaman merupakan penghubung antara Afrika Timur, Arabia, India, dan jalur perdagangan menuju Asia. Dengan demikian, peristiwa di Yaman tidak hanya bersifat lokal, tetapi menjadi bagian dari persaingan geopolitik yang lebih luas.

2.6 Kekaisaran Sasania dan Bizantium

Di Persia, Khosrow I (Anushirwan) merupakan penguasa penting dari Dinasti Sasania. Pada masa pemerintahannya, Sasania menjadi salah satu kekuatan besar dunia, berhadapan dengan Kekaisaran Bizantium. Persaingan kedua kekaisaran mencakup wilayah Mesopotamia, Armenia, Kaukasus, serta kepentingan strategis di kawasan Timur Dekat.

Konflik Bizantium–Sasania berdampak pada perdagangan dan hubungan antarwilayah. Selain perang, kedua kekuatan tersebut juga menggunakan diplomasi dan jaringan politik untuk mempertahankan pengaruhnya.

2.7 Tiongkok pada Tahun 571 M

Tiongkok pada tahun 571 M belum berada di bawah satu kekaisaran yang bersatu. Wilayahnya terbagi antara beberapa kekuatan, terutama Dinasti/kerajaan Zhou Utara, Qi Utara, dan Chen. Persaingan politik di antara negara-negara tersebut merupakan bagian dari periode panjang yang baru berakhir dengan penyatuan Tiongkok oleh Dinasti Sui pada akhir abad ke-6.

Pergolakan di Tiongkok penting bagi sejarah Asia karena wilayah tersebut memiliki jaringan perdagangan dan kebudayaan yang terhubung dengan Asia Tengah, Korea, Jepang, dan Asia Tenggara. Berita mengenai negeri-negeri di Asia Tenggara juga masuk ke dalam tradisi catatan Tiongkok, sehingga sumber Tiongkok menjadi salah satu bahan penting untuk memahami sejarah awal Nusantara.

2.8 Eropa: Bangsa Lombard dan Kerajaan-kerajaan Pasca-Romawi

Di Eropa, sekitar 571 M merupakan masa setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Bangsa Lombard telah memasuki Italia sejak 568 M dan memperluas wilayah kekuasaan mereka selama beberapa tahun berikutnya. Italia menjadi ruang persaingan antara Lombard dan Bizantium.

Sementara itu, kerajaan-kerajaan pasca-Romawi di Eropa Barat membangun struktur politik baru. Periode ini merupakan salah satu tahap penting dalam pembentukan tatanan politik Eropa Abad Pertengahan.

2.9 Gambaran Ringkas Dunia Sekitar 571 M

Wilayah

Kondisi sekitar 571 M

Makna Historis

Jawa Barat

Tarumanagara masih berada dalam rentang keberadaannya; bukti prasasti utama berasal dari abad ke-5.

Menunjukkan awal perkembangan kerajaan dan tradisi tulis di Jawa.

Jawa Tengah

Belum tersedia bukti tertulis langsung yang kuat untuk tahun 571 M.

Menunjukkan adanya kesenjangan sumber antara abad ke-5 dan abad ke-8.

Arabia

Masa sekitar kelahiran Nabi Muhammad SAW; kronologi umum 570–571 M.

Awal periode yang kelak membawa perubahan besar dalam sejarah dunia Islam.

Yaman

Pengaruh Sasania menguat setelah konflik Aksum–Persia.

Yaman menjadi titik penting geopolitik dan perdagangan.

Persia

Khosrow I memimpin Sasania.

Salah satu kekuatan besar dunia dan pesaing utama Bizantium.

Tiongkok

Qi Utara, Zhou Utara, dan Chen bersaing.

Masa menuju penyatuan Tiongkok oleh Dinasti Sui.

Italia

Lombard memperluas wilayah setelah memasuki Italia.

Bagian dari pembentukan tatanan politik Eropa pasca-Romawi.

BAB III. ANALISIS

3.1 Mengapa Tahun 571 M Sulit Direkonstruksi?

Kesulitan utama terletak pada sifat sumber sejarah. Di Jawa, prasasti yang masih bertahan hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh peristiwa yang pernah terjadi. Tidak adanya prasasti bertahun 571 M tidak berarti tidak ada peristiwa pada tahun tersebut; yang berarti adalah kita belum memiliki bukti tertulis langsung yang cukup untuk mengidentifikasinya.

Oleh karena itu, penelitian sejarah perlu membedakan tiga tingkat informasi: pertama, fakta yang memiliki sumber langsung; kedua, rekonstruksi yang didukung oleh beberapa bukti; dan ketiga, hipotesis yang masih perlu dibuktikan. Prinsip ini penting agar sejarah tidak berubah menjadi cerita yang terdengar meyakinkan tetapi tidak memiliki dasar sumber yang memadai.

3.2 Posisi Jawa dalam Jaringan Dunia

Meskipun sumber langsung mengenai Jawa pada 571 M terbatas, posisi geografis Nusantara menunjukkan bahwa Jawa tidak terisolasi. Jalur laut menghubungkan kepulauan Indonesia dengan India, Asia Tenggara daratan, Tiongkok, dan kawasan Timur Tengah. Perdagangan maritim memungkinkan pertukaran komoditas sekaligus teknologi, agama, bahasa, dan gagasan.

Dalam konteks tersebut, Tarumanagara dapat dipahami bukan hanya sebagai kerajaan lokal, tetapi sebagai bagian dari jaringan dunia maritim Asia. Sungai, pelabuhan, dan jalur pesisir memiliki arti ekonomi dan politik yang besar.

BAB IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Tahun 571 M merupakan masa penting dalam sejarah dunia, meskipun tidak semua wilayah memiliki catatan tahunan yang lengkap. Di Jawa Barat, Tarumanagara masih berada dalam rentang sejarahnya dan menunjukkan adanya tradisi kerajaan, agama, pertanian, perdagangan, serta budaya tulis. Namun, belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan peristiwa atau nama raja tertentu secara pasti tepat pada tahun 571 M.

Pada tingkat dunia, sekitar tahun 571 M terjadi persaingan besar antara Bizantium dan Sasania, perubahan kekuasaan di Yaman, pergolakan politik di Tiongkok, serta perluasan bangsa Lombard di Italia. Jazirah Arab juga berada pada masa yang secara tradisional dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW sekitar 570–571 M.

Dengan demikian, gambaran tahun 571 M sebaiknya dipahami sebagai potret suatu periode, bukan daftar kejadian tahunan yang semuanya dapat dibuktikan secara langsung. Pendekatan ini membuat pembahasan sejarah Jawa dan dunia menjadi lebih hati-hati sekaligus lebih dapat dipertanggungjawabkan.

DAFTAR PUSTAKA / SUMBER RUJUKAN

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta. (2023). Mengenal Jakarta Tempo Doeloe (Bagian 2: Masa Kerajaan Tarumanagara).

Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dari Kerajaan Kendan, Kemudian Galuh, Barulah Sunda.

Historia.id. (2026). Purnawarman, the Mighty King of Tarumanagara.

Historia.id. (2026). Tarumanagara Through Wangsakerta and Chinese Records.

Mahardhika, J. Y. (2026). Yupa and Tarumanagara Inscriptions as Documents of the Kalinga-Gupta Diaspora.

Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia.

Poesponegoro, M. D. & Notosusanto, N. (ed.). Sejarah Nasional Indonesia.

Encyclopaedia Iranica. Kajian mengenai Dinasti Sasania dan sejarah Iran pada masa Khosrow I.


JEJAK SEJARAH, WARISAN BUDAYA Di Wilayah PEKALONGAN-BATANG

          MAKALAH SEJARAH     JEJAK SEJARAH, WARISAN BUDAYA Di Wilayah PEKALONGAN-BATANG               Disusun...