MAKALAH SEJARAH
JEJAK SEJARAH, WARISAN BUDAYA
Di Wilayah PEKALONGAN-BATANG
Disusun
oleh:
Adib
Ahkami
TAHUN 2026
ABSTRAK
Wilayah
Pekalongan dan Batang merupakan kawasan penting dalam sejarah Jawa Tengah.
Letaknya di pesisir utara Jawa menjadikan kedua wilayah tersebut memiliki
hubungan dengan jalur perdagangan, pelayaran, pertukaran budaya, serta
perkembangan berbagai kekuasaan politik sejak masa lampau. Sejarah kawasan ini
tidak hanya berkaitan dengan masa kerajaan Islam, tetapi juga memiliki jejak
kuat dari masa Hindu-Buddha.
Salah satu
bukti paling penting terdapat di Kabupaten Batang, yaitu Prasasti Sojomerto
yang menyebut nama Dapunta Selendra beserta nama keluarganya. Prasasti tersebut
diperkirakan berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-7 Masehi dan menjadi
salah satu sumber penting dalam pembahasan mengenai asal-usul Wangsa
Syailendra.
Dalam
perkembangan berikutnya, kawasan Pekalongan dan Batang berada dalam lingkungan
sejarah Mataram Kuno, kemudian mengalami pengaruh kerajaan-kerajaan Islam
seperti Demak, Pajang, dan Mataram Islam. Pada masa Mataram Islam, Pekalongan
dan Batang mempunyai arti strategis sebagai kawasan pesisir dan jalur menuju
wilayah barat Jawa.
Makalah ini
bertujuan menguraikan perjalanan sejarah Pekalongan dan Batang dari masa
kerajaan Hindu-Buddha, perkembangan Islam, masa Mataram Islam, masa kolonial,
hingga terbentuknya pemerintahan daerah modern.
Kata
kunci: Pekalongan, Batang, Kalingga, Syailendra,
Mataram Kuno, Demak, Pajang, Mataram Islam.
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang
berjudul “Kerajaan yang Berdiri dan Berkembang di Wilayah Pekalongan dan Batang
dari Masa ke Masa” dapat diselesaikan.
Pekalongan dan
Batang merupakan wilayah yang mempunyai perjalanan sejarah panjang. Letaknya di
pesisir utara Jawa menjadikan kawasan tersebut sejak masa lampau berhubungan
dengan berbagai pusat kekuasaan, jalur perdagangan, agama, dan kebudayaan.
Salah satu
peninggalan yang sangat penting adalah Prasasti Sojomerto di Kecamatan Reban,
Kabupaten Batang. Prasasti tersebut menyebut nama Dapunta Selendra dan menjadi
salah satu sumber penting dalam pembahasan mengenai perkembangan Wangsa
Syailendra.
Sejarah wilayah
Pekalongan dan Batang kemudian terus berkembang. Setelah masa Hindu-Buddha,
kawasan pesisir utara Jawa mengalami proses Islamisasi dan masuk dalam jaringan
kekuasaan Demak, Pajang, serta Mataram Islam.
Penulis
menyadari bahwa sejarah lokal merupakan bidang yang masih terus dikaji. Oleh
karena itu, beberapa bagian dalam makalah ini menggunakan istilah seperti
“diduga”, “diperkirakan”, atau “dikaitkan dengan” ketika bukti sejarah belum
memungkinkan adanya kesimpulan mutlak.
Semoga makalah
ini dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai sejarah lokal dan mendorong
generasi muda untuk menjaga peninggalan sejarah yang terdapat di Pekalongan dan
Batang.
Pekalongan/Batang,
2026
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK
i
KATA PENGANTAR
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I PENDAHULUAN
1
BAB II KONDISI GEOGRAFIS DAN STRATEGIS 4
BAB III MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA 6
BAB IV PERKEMBANGAN KERAJAAN ISLAM 11
BAB V PEKALONGAN DAN BATANG PADA MASA
KOLONIAL 15
BAB VI PENINGGALAN SEJARAH 18
BAB VII MENUJU DAERAH MODERN 21
BAB VIII ANALISIS PERKEMBANGAN
KEKUASAAN 24
BAB IX PENUTUP
28
DAFTAR PUSTAKA
30
LAMPIRAN
32
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah
Indonesia merupakan sejarah panjang yang terbentuk melalui interaksi antara
berbagai masyarakat, kerajaan, agama, kebudayaan, perdagangan, dan kekuasaan
politik. Sejarah tersebut tidak hanya berlangsung di pusat-pusat kerajaan
besar, tetapi juga berkembang di wilayah pesisir.
Pekalongan dan
Batang merupakan dua wilayah yang berada di pesisir utara Jawa Tengah. Letaknya
pada jalur Pantai Utara Jawa menjadikan kedua wilayah ini memiliki posisi
strategis dalam hubungan perdagangan dan komunikasi antara daerah pesisir
dengan pedalaman.
Bukti sejarah
tertua yang sangat penting di kawasan Batang adalah Prasasti Sojomerto.
Prasasti tersebut ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten
Batang. Prasasti menggunakan bahasa Melayu Kuno dan diperkirakan berasal dari
pertengahan hingga akhir abad ke-7 Masehi.
Prasasti
tersebut menyebut seorang tokoh bernama Dapunta Selendra beserta keluarganya.
Nama tersebut penting karena dikaitkan dengan Wangsa Syailendra yang kemudian
mempunyai peranan besar dalam sejarah Mataram Kuno.
Sejarah
Pekalongan dan Batang kemudian berlanjut hingga masa kerajaan Islam. Kawasan
pesisir utara Jawa menjadi salah satu daerah penting dalam penyebaran Islam dan
jaringan perdagangan. Demak, Pajang, dan Mataram Islam memberikan pengaruh
terhadap kawasan tersebut.
Pada masa
Sultan Agung, Pekalongan mempunyai hubungan administratif yang kuat dengan
Mataram Islam. Tahun 1622 dikaitkan dengan pengangkatan Pangeran Mandurorejo
sebagai bupati pertama Pekalongan oleh Sultan Agung.
Sejarah Batang
juga memiliki hubungan erat dengan Mataram Islam. Pada masa berikutnya,
struktur pemerintahan berubah akibat kolonialisme, hingga akhirnya Pekalongan
dan Batang menjadi daerah administratif Republik Indonesia.
B. Identifikasi Masalah
Belum banyak
masyarakat mengetahui sejarah kerajaan yang berkaitan dengan Pekalongan dan
Batang.
Sejarah lokal
sering kali hanya dipelajari melalui cerita rakyat tanpa membandingkannya
dengan sumber tertulis dan arkeologis.
Beberapa
kerajaan yang dikaitkan dengan wilayah ini memiliki bukti dengan tingkat
kekuatan yang berbeda.
Peninggalan
sejarah belum sepenuhnya dikenal oleh generasi muda.
C. Rumusan Masalah
Bagaimana
kondisi geografis yang memengaruhi perkembangan sejarah Pekalongan dan Batang?
Bagaimana
hubungan wilayah tersebut dengan Kalingga?
Apa arti
penting Prasasti Sojomerto?
Bagaimana
hubungan Dapunta Selendra dengan Wangsa Syailendra?
Bagaimana
pengaruh Mataram Kuno?
Bagaimana
proses masuknya Islam?
Bagaimana
pengaruh Demak, Pajang, dan Mataram Islam?
Bagaimana
perkembangan pemerintahan pada masa kolonial?
Apa saja
peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan?
D. Tujuan Penulisan
Menjelaskan
sejarah Pekalongan dan Batang secara kronologis.
Menjelaskan
hubungan kawasan tersebut dengan kerajaan Hindu-Buddha.
Mengkaji arti
penting Prasasti Sojomerto.
Menjelaskan
perkembangan Wangsa Syailendra dan Mataram Kuno.
Menguraikan
perkembangan kerajaan Islam.
Mengetahui
perkembangan pemerintahan pada masa kolonial.
Mengidentifikasi
peninggalan sejarah.
Meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap pelestarian sejarah lokal.
E. Manfaat Penulisan
Bagi pelajar:
memberikan pengetahuan mengenai sejarah daerah sendiri.
Bagi
masyarakat: menumbuhkan kesadaran terhadap warisan sejarah.
Bagi pemerintah
daerah: menjadi bahan pendukung pendidikan sejarah lokal dan wisata sejarah.
Bagi peneliti:
menjadi bahan awal untuk penelitian lebih lanjut.
F. Metode Penulisan
Makalah ini
menggunakan metode studi pustaka dan pendekatan sejarah. Sumber yang digunakan
meliputi situs resmi pemerintah daerah, publikasi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, jurnal dan kajian arkeologi, data mengenai prasasti, serta
literatur sejarah Indonesia.
BAB II
KONDISI GEOGRAFIS DAN STRATEGIS PEKALONGAN-BATANG
A. Letak Geografis
Pekalongan dan
Batang berada di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Kota Pekalongan berbatasan
dengan Laut Jawa di sebelah utara dan Kabupaten Batang di sebelah timur. Posisi
tersebut menempatkan kawasan ini pada jalur Pantura yang penting.
B. Pesisir Utara Jawa sebagai
Jalur Perdagangan
Pantai utara
Jawa sejak masa lampau merupakan kawasan penting bagi perdagangan. Pedagang
dapat menggunakan jalur laut untuk mencapai pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Dari
pantai, jalur perdagangan berhubungan dengan daerah pedalaman yang menghasilkan
beras, hasil perkebunan, kayu, kerajinan, dan hasil pertanian lainnya.
C. Hubungan Pesisir dan Pedalaman
Pekalongan dan
Batang menjadi penghubung antara laut dan daerah pedalaman. Hubungan ini
menciptakan jaringan ekonomi yang saling melengkapi: pantai menyediakan jalur
perdagangan, sedangkan pedalaman menghasilkan berbagai komoditas.
BAB III
MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA
A. Kondisi Awal Masyarakat
Sebelum
munculnya kerajaan besar, masyarakat Jawa telah mengenal permukiman, pertanian,
kepercayaan, dan perdagangan. Pengaruh budaya India masuk melalui hubungan
perdagangan dan kontak budaya, kemudian diolah sesuai kebudayaan lokal.
B. Kalingga/Holing
Kalingga atau
Holing merupakan salah satu kerajaan yang sering dikaitkan dengan sejarah Jawa
Tengah bagian utara. Kerajaan ini diperkirakan berkembang sekitar abad ke-6
hingga ke-7 Masehi. Informasi mengenai Kalingga antara lain berasal dari berita
Tiongkok. Lokasi pusat kerajaan masih menjadi perdebatan sehingga tidak tepat
menyatakan secara mutlak bahwa pusat Kalingga berada di Pekalongan atau Batang.
C. Ratu Shima
Ratu Shima
merupakan tokoh terkenal dalam tradisi sejarah Kalingga. Ia dikenal sebagai
penguasa yang tegas dalam menegakkan hukum. Kisahnya perlu dibaca dengan
membandingkan berbagai sumber karena tidak seluruh detail cerita memiliki bukti
arkeologis langsung.
D. Prasasti Sojomerto
Prasasti
Sojomerto merupakan salah satu peninggalan sejarah paling penting di Kabupaten
Batang. Lokasinya berada di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban. Prasasti
menggunakan bahasa Melayu Kuno dan diperkirakan berasal dari pertengahan hingga
akhir abad ke-7 Masehi. Prasasti menyebut Dapunta Selendra, Santanu,
Bhadrawati, dan Sampula serta berkaitan dengan penghormatan kepada Siwa.
E. Dapunta Selendra dan Wangsa
Syailendra
Nama Dapunta
Selendra sangat penting dalam kajian sejarah Jawa. Sejumlah sejarawan
menghubungkan tokoh ini dengan asal-usul Wangsa Syailendra. Pendapat tersebut
menjadikan Prasasti Sojomerto sebagai bukti penting bahwa nama Selendra telah
dikenal di kawasan Batang pada masa awal.
F. Batang sebagai Kawasan Awal
Perkembangan Politik
Kajian
arkeologi mengenai Batang menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam sejarah awal
Jawa Tengah. Berdasarkan Prasasti Sojomerto, diperkirakan bahwa pada awal abad
ke-7 Masehi di pantai utara Jawa Tengah telah terdapat cikal bakal institusi
politik kerajaan.
G. Mataram Kuno
Mataram Kuno
atau Medang merupakan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Jawa Tengah.
Kerajaan ini berkembang sejak sekitar abad ke-8 Masehi dan menghasilkan banyak
prasasti serta bangunan keagamaan. Pekalongan dan Batang bukan pusat utama
Mataram Kuno, tetapi memiliki bukti dan hubungan penting dengan perkembangan
politik dan kebudayaan Mataram.
H. Kehidupan Masyarakat
Hindu-Buddha
Masyarakat masa
Hindu-Buddha menjalankan kehidupan melalui pertanian, perdagangan, keagamaan,
hubungan antarkelompok, pelayaran, dan pemerintahan. Daerah pedalaman bertumpu
pada pertanian, sedangkan pesisir memiliki peranan besar dalam perdagangan dan
pelayaran.
BAB IV
PERKEMBANGAN KERAJAAN ISLAM
A. Islamisasi Pesisir Utara Jawa
Memasuki abad
ke-15 dan ke-16, Islam berkembang semakin kuat di kawasan pesisir utara Jawa
melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dakwah ulama, hubungan
antarkerajaan, dan jaringan pesantren.
B. Kesultanan Demak
Demak merupakan
salah satu kerajaan Islam penting di Jawa. Kekuasaannya berkembang di pesisir
utara dan mempunyai hubungan dengan berbagai daerah melalui perdagangan dan
politik. Pekalongan dan Batang berada dalam lingkungan jaringan tersebut,
tetapi bukan pusat utama Kesultanan Demak.
C. Pajang
Setelah Demak
mengalami perubahan politik, muncul Kesultanan Pajang. Pajang berada di
pedalaman tetapi mempunyai hubungan dengan wilayah pesisir. Pekalongan dan
Batang menjadi penting karena berada pada jalur penghubung pantai dan
pedalaman.
D. Mataram Islam
Mataram Islam
berkembang menjadi kekuatan politik besar di Jawa. Pada masa Sultan Agung,
Mataram memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah, termasuk kawasan pesisir
utara.
E. Sultan Agung
Sultan Agung
merupakan salah satu penguasa terbesar Mataram Islam. Pada 1628 dan 1629
Mataram menyerang Batavia. Dalam persiapan tersebut, daerah pesisir utara
mempunyai peranan penting sebagai jalur logistik dan mobilisasi.
F. Pangeran Mandurorejo dan
Pekalongan
Sejarah
administratif Kabupaten Pekalongan secara resmi mengaitkan tahun 1622 dengan
pengangkatan Pangeran Mandurorejo sebagai bupati pertama Pekalongan oleh Sultan
Agung. Momentum ini digunakan sebagai dasar Hari Jadi Kabupaten Pekalongan.
G. Tumenggung Bahureksa dan
Kawasan Batang-Pekalongan
Nama Tumenggung
Bahureksa sangat terkenal dalam sejarah lokal Pekalongan dan Batang. Ia
dikaitkan dengan pemerintahan wilayah pesisir dan persiapan Mataram menghadapi
Batavia. Kisah mengenai Bahureksa perlu dibedakan antara unsur yang didukung
sumber sejarah dan unsur legenda masyarakat.
H. Perubahan Politik dan Ekonomi
Masa Mataram
Islam membawa perubahan besar. Wilayah pesisir berfungsi sebagai sumber pangan,
jalur perdagangan, transportasi, tempat pengumpulan hasil bumi, pusat
pemerintahan lokal, dan jalur mobilisasi pasukan.
BAB V
PEKALONGAN DAN BATANG PADA MASA KOLONIAL
A. Masuknya VOC
Pada abad ke-17
VOC semakin kuat di Jawa. VOC berusaha menguasai perdagangan dan memperoleh
monopoli atas berbagai komoditas. Persaingan antara Mataram dan VOC memengaruhi
wilayah pesisir utara Jawa.
B. Perubahan Struktur
Pemerintahan
Pada masa
kolonial, sistem pemerintahan tradisional disusun ulang. VOC dan kemudian
pemerintah Hindia Belanda menggunakan pejabat pribumi seperti bupati untuk
menjalankan pemerintahan lokal dalam struktur kolonial.
C. Pekalongan sebagai Karesidenan
Pada masa
Hindia Belanda, Pekalongan menjadi salah satu pusat administrasi penting.
Karesidenan Pekalongan mencakup beberapa daerah, termasuk Pekalongan dan
Batang.
D. Batang dalam Pemerintahan
Kolonial
Batang
mengalami perubahan administratif selama masa kolonial. Status Kabupaten Batang
pernah dihapus dan wilayahnya kemudian bergabung dengan Kabupaten Pekalongan.
E. Penggabungan Batang dengan
Pekalongan
Menurut sejarah
resmi Kabupaten Batang, status Kabupaten Batang dihapus pada 1 Januari 1936.
Sejak saat itu sampai 8 April 1966, Batang tergabung dengan Kabupaten
Pekalongan.
F. Perkembangan Ekonomi dan
Perdagangan
Pekalongan
berkembang sebagai kawasan perdagangan dan industri. Batik menjadi salah satu
identitas ekonomi dan budaya yang kuat. Perkembangan batik dipengaruhi oleh
interaksi masyarakat lokal dengan berbagai budaya.
BAB VI
PENINGGALAN SEJARAH
A. Prasasti Sojomerto
Prasasti
Sojomerto merupakan peninggalan terpenting yang berkaitan dengan sejarah awal
Batang. Lokasinya di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban. Prasasti menggunakan
bahasa Melayu Kuno dan menyebut Dapunta Selendra beserta keluarganya.
B. Peninggalan Arkeologis Batang
Selain Prasasti
Sojomerto, penelitian menunjukkan adanya berbagai tinggalan arkeologis seperti
yoni dan arca yang berkaitan dengan perkembangan keagamaan Hindu-Buddha. Temuan
tersebut memperkuat pentingnya Batang dalam sejarah awal Jawa Tengah.
C. Peninggalan Islam
Peninggalan
masa Islam meliputi masjid kuno, makam tokoh agama, kompleks makam, tradisi
keagamaan, pesantren, naskah keagamaan, dan tradisi masyarakat pesisir.
D. Tradisi dan Kebudayaan
Pekalongan
Pekalongan
memiliki tradisi yang berkembang dari interaksi panjang berbagai kebudayaan.
Tradisi Syawalan dan budaya batik merupakan bagian penting dari identitas
masyarakat.
E. Nilai Penting Cagar Budaya
Peninggalan
sejarah memiliki nilai pendidikan, budaya, ilmiah, ekonomi, dan sosial. Karena
itu, pelestarian situs dan benda bersejarah perlu melibatkan pemerintah,
sekolah, peneliti, dan masyarakat.
BAB VII
PERKEMBANGAN MENUJU DAERAH MODERN
A. Masa Pendudukan Jepang
Pada 1942
kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Jepang mengambil alih pemerintahan.
Masyarakat Pekalongan dan Batang mengalami berbagai kesulitan akibat perang dan
kebijakan pendudukan.
B. Perjuangan Kemerdekaan
Setelah
Proklamasi 17 Agustus 1945, masyarakat di berbagai daerah berusaha mengambil
alih pemerintahan dari Jepang. Pekalongan mengalami peristiwa penting pada 3
Oktober 1945 yang dikenal sebagai Pertempuran 3 Oktober 1945.
C. Pekalongan Setelah Kemerdekaan
Pemerintah Kota
Pekalongan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950. Pekalongan
berkembang sebagai kota perdagangan, industri, jasa, dan budaya dengan batik
sebagai salah satu identitas utama.
D. Kabupaten Pekalongan
Kabupaten
Pekalongan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950. Dalam
perkembangannya pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan dipindahkan ke Kajen.
E. Kembalinya Kabupaten Batang
Setelah
bergabung dengan Kabupaten Pekalongan sejak 1936, Kabupaten Batang kembali
berdiri pada 8 April 1966. Tanggal tersebut menjadi bagian penting dalam
sejarah pemerintahan Batang.
BAB VIII
ANALISIS PERKEMBANGAN KEKUASAAN
A. Masa Hindu-Buddha
Pada masa awal,
kekuasaan politik berkembang bersama agama Hindu-Buddha. Batang menunjukkan
bukti adanya masyarakat yang telah mengenal tradisi keagamaan dan tulisan.
Prasasti Sojomerto merupakan bukti paling kuat.
B. Masa Kalingga
Kalingga
merupakan bagian penting dalam sejarah Jawa Tengah bagian utara. Akan tetapi,
lokasi pusat kerajaan belum dapat dipastikan sehingga hubungan Pekalongan dan
Batang sebaiknya dipahami sebagai hubungan kawasan.
C. Masa Syailendra
Masa Syailendra
sangat penting bagi Batang. Nama Dapunta Selendra dalam Prasasti Sojomerto
menunjukkan hubungan kawasan dengan tokoh yang dikaitkan dengan perkembangan
Wangsa Syailendra.
D. Masa Mataram Kuno
Hubungan daerah
pedalaman dan pesisir semakin penting. Pesisir menyediakan akses perdagangan,
sedangkan pedalaman menghasilkan komoditas pertanian.
E. Masa Demak dan Pajang
Islam
berkembang kuat di pesisir. Perubahan agama diikuti perubahan politik dan
kebudayaan.
F. Masa Mataram Islam
Mataram Islam
menghubungkan kekuatan pedalaman dan pesisir. Pekalongan dan Batang mempunyai
arti strategis sebagai jalur transportasi dan logistik.
G. Masa Kolonial
Kekuasaan
kerajaan semakin terbatas. VOC dan pemerintah Belanda mengatur perdagangan
serta administrasi. Pekalongan berkembang sebagai pusat administratif dan
ekonomi.
H. Masa Republik Indonesia
Setelah
kemerdekaan, sistem kerajaan dan kolonial digantikan oleh pemerintahan Republik
Indonesia. Pekalongan dan Batang berkembang sebagai daerah administratif
modern.
BAB IX
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pekalongan dan
Batang merupakan kawasan yang mempunyai sejarah panjang dan penting dalam
perjalanan sejarah Jawa Tengah.
Sejarah kawasan
tersebut telah berlangsung sejak masa Hindu-Buddha. Salah satu bukti paling
penting adalah Prasasti Sojomerto di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten
Batang.
Prasasti
Sojomerto menjadi sangat penting karena nama Selendra kemudian dikaitkan dengan
Wangsa Syailendra. Pada masa berikutnya, kawasan ini berada dalam lingkungan
perkembangan Mataram Kuno.
Memasuki masa
Islam, wilayah pesisir utara Jawa menjadi salah satu pusat perkembangan Islam.
Demak, Pajang, dan Mataram Islam memberikan pengaruh terhadap kawasan tersebut.
Pada masa
Sultan Agung, hubungan Pekalongan dan Batang dengan Mataram Islam semakin kuat.
Tahun 1622 menjadi momentum penting bagi sejarah administratif Kabupaten
Pekalongan.
Pada masa
kolonial terjadi perubahan besar. Batang pernah bergabung dengan Kabupaten
Pekalongan dari 1936 sampai 1966. Setelah kemerdekaan, keduanya berkembang
sebagai daerah administratif Republik Indonesia.
Dengan
demikian, sejarah Pekalongan dan Batang merupakan rangkaian panjang
perkembangan masyarakat, kerajaan, perdagangan, agama, kebudayaan,
pemerintahan, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, dan pembentukan
pemerintahan modern.
B. Saran
Generasi muda
perlu meningkatkan perhatian terhadap sejarah lokal Pekalongan dan Batang.
Pemerintah, sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi perlu bekerja sama untuk
melakukan penelitian sejarah lokal, menjaga situs dan benda cagar budaya,
membuat dokumentasi digital, mengembangkan wisata sejarah, memasukkan sejarah
lokal dalam pembelajaran, dan mendokumentasikan cerita rakyat.
LAMPIRAN A
TIMELINE SEJARAH PEKALONGAN-BATANG
|
Periode |
Peristiwa |
|
Abad VI–VII |
Perkembangan kerajaan awal di Jawa Tengah
bagian utara |
|
Abad VII |
Perkiraan masa Prasasti Sojomerto |
|
Abad VII |
Dapunta Selendra dikaitkan dengan
perkembangan awal Wangsa Syailendra |
|
Abad VIII–X |
Perkembangan Mataram Kuno |
|
Abad XV–XVI |
Islam berkembang kuat di pesisir utara
Jawa |
|
Abad XVI |
Perkembangan Demak dan Pajang |
|
Abad XVI–XVII |
Perkembangan Mataram Islam |
|
1622 |
Pangeran Mandurorejo dikaitkan dengan
awal pemerintahan Kabupaten Pekalongan |
|
1628–1629 |
Mataram menyerang Batavia |
|
1936 |
Kabupaten Batang dihapus dan bergabung
dengan Pekalongan |
|
1945 |
Proklamasi dan perjuangan kemerdekaan |
|
1950 |
Pembentukan daerah Kabupaten Pekalongan
secara hukum |
|
1966 |
Kabupaten Batang kembali berdiri |
|
Masa kini |
Pekalongan dan Batang menjadi daerah
administratif Jawa Tengah |
LAMPIRAN B
KERAJAAN DAN KEKUASAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEKALONGAN-BATANG
|
Kerajaan/Kekuasaan |
Periode |
Hubungan |
|
Kalingga/Holing |
± abad VI–VII |
Kawasan sejarah Jawa Tengah utara; pusat
kerajaan belum pasti |
|
Kelompok awal Syailendra |
± abad VII |
Bukti kuat melalui Prasasti Sojomerto |
|
Mataram Kuno |
± abad VIII–X |
Pengaruh politik dan budaya Jawa Tengah |
|
Demak |
± abad XV–XVI |
Jaringan Islam dan perdagangan pesisir |
|
Pajang |
abad XVI |
Peralihan kekuasaan Islam Jawa |
|
Mataram Islam |
abad XVI–XVIII |
Pengaruh kuat terhadap Pekalongan dan
Batang |
|
VOC |
abad XVII–XVIII |
Pengaruh politik dan ekonomi kolonial |
|
Hindia Belanda |
abad XIX–XX |
Administrasi kolonial |
|
Republik Indonesia |
1945–sekarang |
Pembentukan pemerintahan daerah modern |
LAMPIRAN C
TOKOH PENTING
|
Tokoh |
Periode |
Peranan |
|
Ratu Shima |
Kalingga |
Tokoh penguasa yang terkenal dalam
tradisi sejarah Kalingga |
|
Dapunta Selendra |
± abad VII |
Tokoh yang disebut dalam Prasasti
Sojomerto |
|
Sanjaya |
Mataram Kuno |
Tokoh penting sejarah awal Mataram |
|
Sultan Trenggana |
Demak |
Penguasa penting Demak |
|
Sultan Hadiwijaya |
Pajang |
Penguasa Pajang |
|
Panembahan Senopati |
Mataram Islam |
Pendiri kekuasaan Mataram Islam |
|
Sultan Agung |
Mataram Islam |
Penguasa besar Mataram |
|
Pangeran Mandurorejo |
Mataram Islam |
Dikaitkan dengan bupati pertama
Pekalongan pada 1622 |
|
Tumenggung Bahureksa |
Mataram Islam |
Tokoh yang sangat terkait dengan sejarah
lokal Pekalongan-Batang |
DAFTAR PUSTAKA
Boechari. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia.
Direktorat Pelindungan Kebudayaan. “Mataram Kuna: Agraris atau
Maritim.” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Direktorat Pelindungan Kebudayaan. “Prasasti.” Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Batang. “Sejarah Kabupaten Batang.”
Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Batang.
“Prasasti Sojomerto.”
Pemerintah Kabupaten Pekalongan. “Peringatan Hari Jadi Kabupaten
Pekalongan ke-400 Tahun.” 2022.
Pemerintah Kota Pekalongan. “Sejarah Singkat Kota Pekalongan.”
Susetyo, Sukawati. “Situs Kesuben: Suatu Bukti Peradaban
Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah.”
“Dinamika Kebudayaan dan Peradaban Batang Kuna.” Berkala Arkeologi.
CATATAN PENULIS
Makalah ini
disusun sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal. Dalam kajian sejarah,
beberapa hubungan antara kerajaan dan wilayah geografis masih menjadi bahan
penelitian. Oleh karena itu, istilah “dikaitkan”, “diperkirakan”, dan “diduga”
digunakan untuk menjaga ketepatan akademis ketika bukti yang tersedia belum
memungkinkan kesimpulan mutlak.
Sumber utama
yang perlu diperhatikan untuk penelitian lebih lanjut adalah prasasti, sumber
arkeologi, arsip pemerintahan, karya ilmiah, serta sumber resmi pemerintah
daerah.

No comments:
Post a Comment