Thursday, April 19, 2012

SINOPSIS DAN ANALISIS CERPEN



  SRI SUMARAH DAN BAWUK

SINOPSIS

Sri Sumarah bercerita tentang seorang perempuan yang menjadi istri seorang guru yang dipanggil bu guru pijit karena dia punya keahlian memijit. Dia bernama asli Sri sumarah yang memiliki arti pasrah. Dia terbiasa pasrah menjalani hidup sejak kecil. Dia selalu di didik dengan cara jawa oleh neneknya, dia di ajarkan untuk selalu patuh terhadap suaminya apapun perintahnya. Dia di ibaratkan sebagai Subadra  isrri arjuna yang paling setia dan selalu sabar meskipun suaminya menikah berkali-kali dengan perempuan lain. Hal ini pun sedikit banyak harus pula di alami Sri ketika suaminya di anjurkan oleh camat untuk menikah lagi bahkan pak camat pun telah menyiapkan calonnya.
Sri Sumarah mengisahkan jiwa seorang Jawa yang tumbuh dalam suatu lingkungan kebudayaan Jawa, menghadapi berbagai tantangan dan perubahan jaman, dengan lukisan-lukisan alam perasaan dan alam perkembangan sastra Indonesia. Nama tokoh ini berarti Sri yang menyerah, terserah, atau pasrah. Sikap ini diajarkan oleh neneknya dan ingin diajarkannya pada anaknya pula. Sikap sumarah diterjemahkan Sri sebagai kepasrahan ketika dijodohkan neneknya dengan Mas Marto, suaminya. Juga ketika ditinggal mati suaminya, ketika harus berjuang membesarkan Tun anaknya dan mendapatinya hamil di luar nikah, dan juga ketika menghadapi kematian Yos menantunya yang dibunuh dan Tun ditahan di penjara sebab terlibat gerakan PKI.
Setelah peristiwa tragedi Yos dan Tun itu, Sri lah yang mengurus Ginuk, cucu satunya-satunya. Sikap sumarah tetap dijalankannya. Sikap itu mengiringinya selama berusaha memenuhi hidup. Ia memilih menjadi tukang pijit. Memijit dipilihnya sebagai pekerjaan setelah mendapat wisik saat bertirakat. Sejak itu ia memulai perjalanan hidup baru dengan modal memijit. Pekerjaan memijit Sri dinilai bagus oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia mendapat cukup uang untuk menghidupi dirinya, Tun, dan Ginuk. Pekerjaan ini dijalani Sri dengan biasa-biasa saja, meskipun ia harus banyak melakukan kontak fisik dengan laki-laki. Sikap bakti berperan di sini. Namun, hatinya sempat goyah ketika suatu hari harus memijit seorang pelanggan pria muda yang tampan dan gagah.
Sri menghadapi masalah setelah Tun dipenjara. Saat itu Sri benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Sawah dan rumah telah dikuasai BTI (Barisan Tani Indonesia, gerakan yang dinaungi PKI), perhiasan habis untuk mengangsur utang, dan persediaan uang semakin menipis. Apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di saat seperti seperti itu? Jawabannya terlihat dalam kutipan berikut. Uang? Menipis dan menipis. Dalam satu-dua minggu pasti habis. Lantas? Sri sumarah, sumarah. Seperti biasa dalam keadaan begitu dia akan ingat embah dan suaminya.Sri kemudian bertekad untuk tirakat, tidur kekadar di luar, malamnya. Reaksi Sri dalam menghadapi masalah itu adalah dengan sumarah. Ia tidak menyerah begitu saja, melainkan ia mengambil langkah untuk bertirakat. Caranya dengan tidur sekadarnya dan menunggu datangnya wisik. Wisik adalah pitoedoeh (wewarah) atau gaib, artinya petunjuk gaib. Wisik itu diperoleh Sri kemudian, dan ditafsirkannya sebagai petunjuk bahwa ia harus bekerja sebagai tukang pijit demi melanjutnya hidupnya.
Bawuk, putri bungsu keluarga Suryo, putri seorang 'onder,' priyayi Jawa. Sejak kecil ia telah menumbuhkan sifat-sifat kerakyatan, berbeda denga keempat kakaknya. Hal ini tampak dalam sikapnya yang menghargai para pembantunya. Hanya Bawuk seorang yang memahami kepedihan ibunya, yang terpaksa melihat suaminya tenggelam dalam pelukan ledek (penari), dalam suatu pesta di Kabupaten. Setelah dewasa, Bawuk berkenalan dengan Hassan, seorang aktivis Partai Komunis. Kemudian mereka menikah dan mempunyai seorang putri dan putra. Ketika peristiwa G 30 S meletus, Hassan ikut terlibat dan terus dikejar tentara. Maka Bawuk beserta kedua anaknya terpaksa pindah dari satu kota ke kota lain, untuk mengikuti suaminya yang terpaksa terus melarikan diri dari kejaran tentara. Akhirnya, bawuk mengambil keputusan. Ia datang ke kota tempat tinggal ibunya, untuk menitipkan kedua anaknya. Tak mungkin ia membawa-bawa kedua anaknya dalam pelarian itu. Anak-anaknya butuh kehidupan yang layak dan bersekolah dengan tenang. Di rumah ibunya, Bawuk disambut oleh keempat kakak beserta ipar-iparnya yang telah mapan: seorang brigjen, dosen di ITB, dirjen di salah satu departemen, dan seorang dosen lagi di Gadjah Mada. Mereka terus membujuk Bawuk agar tetap tinggal di kota itu. Namun Bawuk telah berketetapan hati untuk terus mencari suaminya. Dengan tegar ia menjelaskan bahwa sebagai isteri, ia tetap harus menemui suaminya. Hanya saja kedua anaknya dititipkan kepada ibunya. Semua kakaknya sulit menerima keputusan itu. Hanya sang ibu yang dapat memenuhi keputusan Bawuk. Cerita ditutup dengan suara sayup anak-anak Bawuk yang sedang belajar mengaji. Bu Suryo membaca dalam surat kabar, bahwa G 30 S telah ditumpas dan Hassan, menantunya ialah salah seorang yang diberitakan tertembak mati. Tapi Bawuk tak ketahuan rimbanya.

c.       Unsur Intrinsik
1)      Tema
Dalam cerpen “Sri Sumarah dan Bawuk” bahwa tema yang dijadikan inspirasi oleh penulis adalah  mengangkat kehidupan tokoh (keluarga) Jawa. Karya-karya itu dipandang banyak kritikus “mewakili” citra manusia (wanita) Jawa. Disini penulis berusaha membandingkan berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tokoh utama wanita dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal perwatakan baik secara fisik, psikis, maupun sosial.
2)      Latar
Cerpen ini mengisahkan kehidupan mayarakat Jawa pada zaman orde baru dalam masa perkembangan sastra Indonesia. Pedesaan dijadikan tempat utama karena menurut pengamatan penulis dimana pedesaan tersebut merupakan setting dalam cerpen Sri Sumarah Dengan penggambaran Pedesaan yang memunculkan beberapa konflik antar tokoh yang di dasari kebudayaan setempat. Dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam menampilkan seorang tokoh yang hidup di Pedesaan  dan Perkoataan adalah setting kedua setelah Pedesaan, Perkotaan menjadi pusat segala pusat dalam berbagai hal. Banyak hal yang di alami Sri didesa akhirnya Sri pindah ketempat anaknya yaitu Tun. Kehidupan dikota jelas sekali berbeda dengan didesa nilai-nilai kebudayan jawa seperti (tata karama, bahasa jawa dan kebiasaan) sudah mulai luntur di gantinya dengan kebudayan yang semakin modern.
3)      Alur
Dilihat dari cerita cerpen ini,  “Sri Sumarah dan Bawuk” termasuk alur maju artinya kejadian dan urutan ceritanya disusun secara runtut dari awal sampai akhir.
4)      Gaya Penulisan
Cerpen ini merupakan karya Umar Kayam yang diterbitkan dalam satu buku berjudul Sri Sumarah dan Cerita Pendek Lainnya oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1986. Dalam gaya penulisan cerpen ini masih bersih dari dari istilah bahasa jawa, itu pun hanya sekedar pemanis yang dapat membawa pembaca lebih mendalami isi cerita. Seperti dapat di ambil contoh pada penulisan kata Wisik, Ledek, Nrima dan lain sebagainya. Mungkin untuk penulis cerpen angkatan sekarang ( muda ) kata itu di ganti dengan kata Petunjuk, Penari, Menerima dan lain sebagainya.
5)      Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara atau pandangan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dalam cerpen Sri dan Bawuk susut pandang yang di gunakan adalah pandangan orang pertama yaitu aku yang menjadi tokoh utama. Hal ini membuat para pembaca seolah ikut mengalami dan merasakan kehidupan si aku.
6)      Tokoh dan Penokohan
-          Sri        : Berusia hampir setengah abad; bersuara merdu; gaya bicaranya halus dan sopan; serta suka berpakaian kebaya. Secara psikis, Sri bersifat sumarah; amanat; jujur; memiliki tekad yang kuat; tidak mudah putus asa; tegar; patuh; memiliki keahlian menyanyikan tembang Jawa dan memijit. Secara sosial, Sri dari keluarga miskin; pendidikannya sampai tingkat SKP; bersuamikan guru; memiliki seorang anak; dan bekerja sebagai tukang pijit.
-          Bawuk : Bawuk berusia 35 tahun; gaya bicaranya bebas, banyak bicara, dan penuh humor; serta tidak lagi memakai kebaya. bersifat ceria; bersemangat tinggi; penuh vitalitas dan optimisme; pandai berbicara dengan kata-kata bijak; cerdas; disiplin dan mandiri; memiliki kecenderungan ‘bohemian’; dan tidak membeda-bedakan. Bawuk dari keluarga kaya; ia berpendidikan europeesch; bersuamikan tokoh PKI; memiliki dua anak; dan ikut organisasi Gerwani.
-          Mas Marto       : Suami Sri, Seorang Guru, baik hati, Penyayang, bertanggung jawab.
-          Tun      : Anak Sri, penyayang, penurut.
-          Yos      : Menantu Sri.
-          Ginuk  : Cucu Sri
-          Hassan : suami Bawuk, seorang aktivis partai komunis (PKI).
-          Bu Suryo         : Ibu Hassan
7)      Amanat
Banyaknya makna tersirat dengan berbagai kompleksitasnya menempatkan cerpen Sri Sumarah dan Bawuk tidak hanya kaya dengan makna-makna simbolik. Dapat dilihat dari perjuangan dan kepasrahan Sri ketika ditinggal mati suaminya, Dia membesarkan Tun seorang diri.
8)      Pencitraan

d.      Unsure Ekstrinsik
1)      Biografi Pengarang
2)      Nilai
-          Budaya
Nilai kebudayaan yang terdapat dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam adalah kebudayaan Jawa yang sangat melekat dalam tokoh utama yaitu Sri sebagai asli orang Jawa menurut garamsci konsep kebudayaan serupa itu sungguh-sungguh berbahaya, khususnya bagi kaum Proletariat (kelas bawah). Kebudayaan jawa lainnya adalah ketika Yos bermain teater mereka sengaja memainkan karakter kerajan-kerajaan pepunden yang harus kita hormati dijawa misalnya, ketoprak, tembang jawa(yen ing tawang ana lintang), rengeng-rengeng. Di cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam kebudayan Jawa mempresentasikan bagaimana kebudayaan Jawa mengikat seorang perempuan yaitu tokoh utama Sri Sumarah
-          Sosial
Secara sosial, Sri dari keluarga miskin; pendidikannya sampai tingkat SKP; bersuamikan guru; memiliki seorang anak; dan bekerja sebagai tukang pijit. Sedangkan Bawuk dari keluarga kaya; ia berpendidikan europeesch; bersuamikan tokoh PKI; memiliki dua anak; dan ikut organisasi Gerwani.
-          Agama
Kepercayaan populer yang terdapat dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam yaitu :
                                                                                    Sri diwajibkan minum jamu galian secara teratur agar badanya tetap singset dan sintal. Sri berpuasa sepasar lima hari: Berpuasa selama lima hari merupakan mitos orang jawa yang di percayai jika berpuasa lima hari maka ketika Sri mengadakan hajatan atau kerja mantu akan berhasil dan sukses karena Sri sebagai orang jawa yang percaya dengan adanya mitos tersebut Sri melakukan puasa pasar yang bertujuan menyukseskan acara hajatan

ANALISIS CERPEN SRI SUMARAH DAN BAWUK

 Cerpen yang berjudul “Sri Sumarah dan Bawuk” merupakan tema yang  di angkat dari kehidupan tokoh (keluarga) Jawa. Karya-karya itu dipandang banyak kritikus “mewakili” citra manusia (wanita) Jawa.  Cerita tersebut membandingkan hasil  analisis yang dapat disimpulkan bahwa tokoh utama wanita dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal perwatakan baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Pemilihan nama tokoh dalam cerita ini pun memperlihatkan unsur jawa yang sangat kental. Nama Sri misalnya, dalam masyarakat jawa tentu tidak asing lagi tentunya biasa kita dengar bahkan dalam lagu campur sari pun ada penyebutan nama “Sri”. Nama Bawuk sendiri merupakan sebuah panggilan akrab bagi seorang anak perempuan disuatu daerah tertentu di Jawa.
Cerpen ini mengisahkan kehidupan mayarakat Jawa pada zaman orde baru dalam masa perkembangan sastra Indonesia. Setting dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam, menampilkan seorang tokoh yang hidup di Pedesaan dan Perkoataan. Kisah Sri Sumarah ini menceritakan sebuah perjuangan seorang janda yang harus menghidupi keluarganya dengan kesederhanaan.
Dilihat dari cerita cerpen ini,  “Sri Sumarah dan Bawuk” termasuk alur maju artinya kejadian dan urutan ceritanya disusun secara runtut dari awal sampai akhir. Cerpen ini diterbitkan dalam satu buku berjudul Sri Sumarah dan Cerita Pendek Lainnya oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1986. Dalam gaya penulisan cerpen masih bersih dari istilah bahasa jawa, itu pun hanya sekedar pemanis yang dapat membawa pembaca lebih mendalami isi cerita. Seperti dapat di ambil contoh pada penulisan kata Wisik, Ledek, Nrima dan lain sebagainya. Mungkin untuk cerpen angkatan sekarang ( muda ) kata itu di ganti dengan kata Petunjuk, Penari, Menerima dan lain sebagainya.  Dalam menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita  Sri dan Bawuk sudut pandang yang di gunakan adalah pandangan orang pertama yaitu aku yang menjadi tokoh utama. Hal ini membuat para pembaca seolah ikut mengalami dan merasakan kehidupan si aku.
Tokoh Sri digambarkan dalam usia hampir setengah abad, bersuara merdu, gaya bicaranya halus dan sopan, serta suka berpakaian kebaya. Secara psikis, Sri bersifat sumarah,  amanat, jujur, memiliki tekad yang kuat, tidak mudah putus asa, tegar, patuh, memiliki keahlian menyanyikan tembang Jawa dan memijit. Secara sosial, Sri dari keluarga miskin, pendidikannya sampai tingkat rendah bersuamikan guru, memiliki seorang anak, dan bekerja sebagai tukang pijit.
Bawuk berusia 35 tahun, gaya bicaranya bebas, banyak bicara, dan penuh humor,  serta tidak lagi memakai kebaya. bersifat ceria, bersemangat tinggi, penuh vitalitas dan optimism, pandai berbicara dengan kata-kata bijak, cerdas, disiplin dan mandiri, memiliki kecenderungan ‘bohemian’ dan tidak membeda-bedakan. Bawuk dari keluarga kaya ia berpendidikan europeesch, bersuamikan tokoh PKI  memiliki dua anak dan ikut organisasi Gerwani.
Tokoh lainnya ada Mas Marto Suami Sri, Seorang Guru, baik hati, Penyayang, dan bertanggung jawab. Tun Anak Sri, penyayang, penurut.Yos Menantu Sri. Ginuk Cucu Sri dan Hassan suami Bawuk, seorang aktivis partai komunis (PKI).
Banyak  makna tersirat dengan berbagai kompleksitasnya menempatkan cerpen Sri Sumarah dan Bawuk tidak hanya kaya dengan makna-makna simbolik. Dapat dilihat dari perjuangan dan kepasrahan Sri ketika ditinggal mati suaminya, Dia membesarkan Tun seorang diri.
Nilai budaya dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk adalah kebudayaan Jawa yang sangat melekat dalam tokoh utama yaitu Sri sebagai asli orang Jawa menurut garamsci konsep kebudayaan serupa itu sungguh-sungguh berbahaya, khususnya bagi kaum Proletariat (kelas bawah). Kebudayaan jawa lainnya adalah ketika Yos bermain teater mereka sengaja memainkan karakter kerajan-kerajaan pepunden yang harus kita hormati dijawa misalnya, ketoprak, tembang jawa(yen ing tawang ana lintang), rengeng-rengeng.
Secara sosial, Sri dari keluarga miskin, pendidikannya sampai tingkat SKP, bersuamikan guru, memiliki seorang anak, dan bekerja sebagai tukang pijit. Sedangkan Bawuk dari keluarga kaya, ia berpendidikan europeesch, bersuamikan tokoh PKI, memiliki dua anak, dan ikut organisasi Gerwani.

Itu aspek kebahasaan ya?
Sri selalu minum jamu galian secara teratur agar badanya tetap singset dan sintal. Selain itu juga Sri berpuasa sepasar lima hari. Puasa selama lima hari merupakan mitos orang jawa kuno. Konon jika berpuasa lima hari ketika mengadakan hajatan atau kerja mantu akan, berhasil dan sukses. Sebagai orang jawa yang percaya dengan adanya mitos tersebut, Sri melakukan puasa pasar yang bertujuan menyukseskan acara hajatan.
Dari cerpen “Sri Sumarah dan Bawuk”, dapat terlihat jelas bahwa kisah ini mengisahkan dua wanita yang sangat berbakti pada suaminya dan tegar terhadap kejadian-kejadian atau musibah yang mendera kehidupan mereka. Hal itu dijelaskan bahwa, “walaupun ditinggal mati suaminya, Sri masih tetap setia dan memilih hidup menjanda dan menggantikan kepala keluarga hingga akhir cerita.”. Sedangkan Bawuk, memilih mengikuti kemanapun suaminya pergi walaupun keluarganya meminta ia untuk tetap tinggal.
Cerpen ini sangat baik untuk kita baca, untuk menambah wawasan kita dibidang sastra. Banyak pesan yang dapat kita peroleh dari cerpen ini. Diantaranya, keteguhan dalam menjalani hidup, serta nilai-nilai moral dan tradisi kebudayaan yang kental diperlihatkan secara jelas. Namun dalam cerita ini tidak disampaikan bagaimana akhir hidup dari Sri dan Bawuk. Apakah Sri akhirnya jatuh cinta dengan laki-laki tampan yang ia pijat dan akhirnya menikah? Dan apakah Bawuk juga ikut meninggal dalam tragedi penumpasan G 30 SPKI?





No comments:

Post a Comment

JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...