Tuesday, March 3, 2015

SEMANTIK DAN FILSAFAT



Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang di sini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik (Perancis: signe linguistique) seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1966), yaitu yang terdiri dari:
1.      Komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa.
2.      Komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
Kedua komponen ini merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangi adalah sesuatu yang berada diluar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang ditunjuk.
Filsafat dengan semantik memiliki hubungan sangat erat. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan merupakan dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Sementara pada sisi lain, aktivitas berpikir itu sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Dalam situasi tersebut, bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekadar media proses berpikir maupun penyampai hasil pikiran.
Filsuf Bertran Russel menyatakankan bahwa ketepatan menyusun symbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Sebab itu,kompleksitas symbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas itu sendiri sehingga antara keduanya dapat berhubungan secara tepat dan benar (Alston, 1964:2). Sehubungan dengan masalah tersebut, bahasa memang masih memiliki sejumlah kekurangan. Bahasa sehari-hari yang biasa kita gunakan, misalnya, bisa dikaitkan dengan kegiatan filsafat, mengandung kelemahan, antara lain dalam hal (1) vagueness, (2) inexplicitness, (3) ambiguity, (4) context-dependence, serta (5) misleadingness (Alston : 1964:6)
Bahasa memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung di dalam suatu bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar. Ambiguity berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Kata bunga, misalnya, dapat berkaitan dengan “bunga mawar”, “Bunga melati”, “bunga anggrek” maupun ‘gadis. Begitu juga untuk menentukan makna kata tinggi, bisa, mampu, seseorang harus mengetahui dimana konteks itu berada. Meskipun demikian, dalam dunia kepenyaian, kesamaran makna itu justru dimanfaatkan untuk memperkaya gagasanyang disampaikannya. Pernyataan penyair Goenawan Mohammad yang berbunyi :
Akupun tahu: sepi kita semula
Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
Mengekalkan yang esok mungkin tak ada
Pada sisi lain bukan hanya menggambarkan suasana sepi, dingin yang dibagi pohon-pohon maupun esok yang mungkin tidak ada, melainkan juga mampu membawa pembaca kepada pemikiran filosofis tentang hakikat keberadaan manusia serta kehidupan itu sendiri. Dari contoh itu juga dapat diambil kesimpulan bahwa kesamaran makna suatu bahasa sebenarnya juga akibat ‘kelebihan’ bahasa itu sendiri yang memiliki multifungsi, yakni selain sebagai berfungsi “simbolik”, bahasa juga memiliki fungsi emotif dan afekstif. Selain itu, adanya sinonimi, hiponimi, maupun polisemi juga menjadi factor penyebab kesamaran dan ketaksaan makna.
Akibat lebih lanjut dari adanya kekaburan dan ketaksaan makna adalah terjadinya inexplicitness, sehingga bahasa sering kali tidak mampu secara eksak, tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang sirepresemtasikannya. Selain itu, pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatik, social, serta konteks situasional dalam pemakaian, sehingga juga mengalami context-depent. Dari adanya sejumlah kekurangan di atas, tidak mengherankan apabila paparanlewat bahasa sering mengandung misledingness sehubungan dengan keberadaannya dalam komunikasi. Pernyataan seperti Wah, Ali sudah parah, misalnya, dapat saja dimaknai “Ali sakitnya sudah parah”, sementara yang dimaksud penutur mungkin, “nilai Ali sangat jelek”. “Ali sangat nakal dan sulit dinasihati”, “hubungan Ali dengan Ani sudah sedemikian jauhnya”, serta sejumlah maksud isi pesan lainnya. Dlam situasi demikian itulah, pemilihan kata, pengolahan dan penataan unsure gramatikal maupun konteks harus dilakukan secara tepat dan cermat.
Semantik telah melepaskan diri dari filsafat, tetapi tidak berarti filsafat tidak membantu perkembangan semantik. Pada tahun 1923 muncul buku The Meaning of Meaning karya Ogden & Richards yang menerangkan hubungan tiga unsur dasar, yakni ‘thought of reference’ (pikiran) sebagai unsur yang menghadirkan makna tertentu yang memiliki hubungan signifikan dengan referent(acuan). Pikiran memiliki hubungan langsung dengan symbol (lambang). Lambang tidak memiliki hubungan langsung dengan symbol (lambang). Lambang tidak memiliki hubungan yang arbitrer. Sehubungan dengan meaning, para pakar semantik biasa menentukan fakta bahwa asal kata meaning(nomina) dari to mean (verba), di dalamnya banyak mengandung ‘meaning’ yang berbeda-beda. Leech (1974) menyatakan bahwa ahli-ahli semantik sering tidak wajar memikirkan’the meaning of meaning’ yang diperlukan untuk pengantar studi semantik. Mereka sebenarnya cenderung menerangkan semantik dalam hubungannya dengan ilmu lain; para ahli sendiri masih memperdebatkan bahwa makna bahasa tidak dapat dimengerti atau tidak dapat dikembangkan kecuali dalam makna nonlinguistik.
Semantik maupun bahasa memiliki keterkaitan dengan filsafat seperti ontologi, epistomologi, metafisika yang berhubungan dengan logika. Semantik berperan aktif sebagai penentu baik dari pernyataan benar ataupun salah yang diberikan dari premis dan kesimpulan yang diberikan.

Friday, February 13, 2015

Gerakan ISIS



ISIS (Islamic State in Iraq and al-Sham) adalah organisasi islam dibawah pimpinan Ibrahim Awad Ibrahim Ali al-Badri al-Samarrai atau Abu Bakr al-Baghdadi. Kelompok Islam ini terkenal radikal karena menguasai banyak wilayah di Suriah timur serta Irak utara dan barat. Menggunakan strategi brutal dan melakukan pembunuhan massal serta penculikan anggota kelompok keagamaan dan suku. Anggota ISIS adalah kaum militan yang menginterpretasi Islam Sunni secara ekstrem. Mereka mengklaim bahwa dasar tindakannya berasal dari ayat-ayat Al-Quran.
Kelompok ini berkeinginan mendirikan sebuah "khilafah", sebuah negara yang dikuasai satu pemimpin keagamaan dan politik menurut hukum Islam atau syariah. Meskipun saat ini terbatas di Irak dan Suriah, ISIS bertekad akan menerobos perbatasan Yordania dan Lebanon dan memerdekakan Palestina.
Cikal bakal ISIS adalah almarhum Abu Musab al-Zarqawi, warga Yordania yang mendirikan Tawhid wa al-Jihad di tahun 2002. Setahun setelah invasi Irak yang dipimpin Amerika Serikat, Zarqawi menyatakan dukungan kepada Osama Bin Laden dan membentuk Al Qaeda di Iraq (AQI). Tahun 2006, AQI mendirikan organisasi Negara Islam di Irak (ISI) yang kemudian melemah karena peningkatan pasukan AS dan pendirian dewan Kebangkitan oleh suku Arab Sunni yang menolak kebrutalan. Tahun 2010, Baghdadi membangun kembali ISI. Mereka bergabung dalam pemberontakan menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad, mendirikan Front al-Nusra.
April 2013, Baghdadi mengumumkan penggabungan pasukannya di Irak dan Suriah dan diciptakannya Negara Islam di Irak dan Levant (ISIS). Juni 2014, ISIS menguasai kota Mosul, dan maju ke selatan menuju Baghdad. Setelah mengkonsilidasi penguasaan beberapa kota, ISIS menyatakan pendirian khalifah dan mengubah nama menjadi Negara Islam (Daulah Islamiyah). Sejumlah pihak memperkirakan ISIS dan sekutunya menguasai 40.000 km2 dari wilayah Irak dan Suriah. Kota-kota yang mereka kuasai diantaranya adalah Mosul, Tikrit, Falluja dan Tal Afar di Irak; Raqqa di Suriah.
ISIS di Indonesia
Seruan ISIS mengajak negara-negara islam lain tuk bergabung kedalam jihatnya juga sudah dilancarkan, salah satunya di Indonesia. Sekitar Agustus 2014 lalu, berita ISIS mewarnai media di Indonesia. Banyak kalangan menyebut bahwa ISIS bertindak berlebihan. Sebab mengajak untuk mendirikan negara yang di pimpin oleh Khalifah. Penolakan-penolakanpun terjadi dari berbagai kalangan. Baik dari pemerintah Indonesia ataupun dari beberapa ormas agama. Salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU, menolak tegas adanya ISIS di Indonesia.
Islam yang bergaris keras ini menjadi permasalahan tersendiri bagi bangsa Indonesia khususnya warga NU. Menurut KH. Abdul Manan (LTMNU), “ISIS selalu menyerang orang yang aqidahnya lemah. Dalam artian, keimanan dan penguasaan tentang agamanya masih mudah tergoyah. Jadi sangat mudah untuk dipengaruhi. Dengan dalih berjihat di jalan Allah dan mati syahid.” Tuturnya.
Kemulyaan setelah mati karena berperang demi membela Islam dan iming-iming masuk surga inilah yang mungkin menjadi motivasi tersendiri bagi para penganutnya. Peran serta masyarakat dikalangan satuan terkecil anggota NU yaitu ranting juga sangat di butuhkan dalam penanggulangan ISIS. Tugas dari ulama ataupun kyai setempat untuk menguatkan idiologi ala ahlussunah wal jama’ah bagi masyarakat khususnya generasi muda NU. Agama Islam tidak pernah membenarkan perilaku kekerasan. Sementara ISIS menghalalkan kekerasan bagi siapa saja yang bertentangan bagi paham yang mereka anut.
ISIS berkembang pesat dan besar karena memilki pendanaan yang sangat besar. Dana tersebut di sinyalir dari hasil rampasan atas penguasaan tambang minyak di syria dan keterlibatan Israel dan Yahudi. Hal tersebutlah yang menjadikan ISIS mampu melengkapi persenjataan mereka.
PBNU juga akan mengadakan pertemuan ulama muslim sedunia pada pada 29-30 Oktober di pesantren Al-Hikam Depok, International Conference of Islamic Scholar (ICIS) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri RI akan menggelar konferensi internasional Timur Tengah. Serta akan dihadiri oleh duta-duta besar Negara Timur Tengah untuk RI dan beberapa mufti dari Iraq , Syria, Mesir, Turki dan Yordania. Pertemuan yang bertujua untuk membentengi Indonesia agar tidak dimasuki ISIS dari luar negeri serta hubungan indonesia dan dunia islam di dunia.
Hal tersebut di sebabkan oleh saat ini diketahui berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), terdapat 34 orang Indonesia yang sudah dibaiat atau disumpah oleh ISIS. Sebagian besar merupakan tokoh-tokoh teroris yang telah beroperasi di Indonesia. Jumlah tersebut di harapkan tidak bertambah lagi.
Adapun ciri dari kelompok ini diantaranya berdasarkan ajaran yang mereka bawa, perilaku kebiasaan dan dapat pula dilihat dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka selalu membawa bendera hitam mungkin mereka mengira akan menjadi pengikut imam Mahdi yang membawa bendera hitam di akhir zaman dan pemegang Daulah Islamiyyah.

Monday, February 2, 2015

Khas Dukuh Randuatan Desa Sijambe Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan



Sijambe adalah desa di kecamatan Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Memiliki luas 95.450 Ha dengan jumlah penduduk 4.316 Orang. Sijambe terbagi menjadi dua Padukuhan yaitu Dukuh Sijambe dan Dukuh Randuatan. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Wonokerto Weta, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bebel, sebelah Utara dengan Desa Api-Api dan sebelah Timur dengan Desa Pesanggrahan. Secara geografis mata pencaharian penduduk setempat adalah nelayan dan tani. Meski tak jarang pula yang berdagang, buruh dan menjadi pegawai.
Lebih khusus menilik di salah satu dusun/dukuh di desa Sijambe, yaitu dukuh Randuatan memiliki ciri khas tersendiri yaitu berupa sambal dari air endapat kuah ikan. sambal ini di sebut "Petis" oleh kebanyakan masyarakat sekitar. Di daerah Jawa Timur kita mengenal Petis Cumi, sedangkan di Wonokerto kita mengenal Petis Pindang (Kuah Ikan). Dengan rasa asin dan memiliki bau agak amis. Petis menjadi sambal yang biasa di sajikan dalam acara lotean.
Banyak masyarakat sekitar Wonokerto yang menyerbu dukuh Randuatan Desa Sijambe untuk berburu Petis sebagai sambal sajian dalam lotean. Sambal Petis bisa langsung di sajikan atau di cocol langsung dengan lotean/rujakan. Bisa juga di campur dengan sambal gula merah atau sambal kacang. jika yang suka pedas bisa di tambah dengan cabai rawit.Selain itu petis juga bisa menjadi sambal urap klubannan (daun pepaya yang direbus, mentimun, petai cina, tauge) di urap jadi satu dengan kelapa yang sudah di parut.
Karena sebagai daerah produsen Petis terbanyak di wilayah Wonokerto, menjadikan Desa Sijambe Dukuh Randuatan dengan sebutan kampung Petis. Petis sudah di bilang menguasai pasar sambal lotean di kawasan Wonokerto. Tak jarang pula pembeli dari daerah luar Wonokerto.
Jika pertama kali mencicipi akan terasa aneh, karena dengan bau amisnya dan rasa asin dari petis. Tetapi bila sudah terbiasa, rasanya sangat enak. Apalagi di tambah dengan gula merah dan kacang tanah yang sudah digoreng dan di tumbuk. Terlebuh disantap bersama teman-teman atau rombongan.
Bukan hanya itu, Randuatan juga terkenal sebagai desa kampung pengolahan ikan. Baik dalam bentuk Pindang, Ikan Asap/Panggang, dan Ikan Asin. Area pemasaran sendiri sampai keluar Pekalongan, bahkan untuk Ikan Asin banyak dikirim ke kota-kota Besar yang ada di pulau Jawa. cuman itu masih sekala Home Industri belum bebrbentuk PT.

Tuesday, January 6, 2015

Ki Bahu Rekso (Joko Bahu)



Berawal dari kisah kerajaan Mataram islam yang dipimpin oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (Bahasa Jawa: Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, adalah Sultan ke-tiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu.
Di sisi lain Ki Ageng Cempaluk yang merupakan mantan prajurit mataram yang kemudian mengasingklan diri di daerah Kasisian (Pengasingan) atau yang sekarang lebih di kenal dengan sebutan daerah Kesesi memerintahkan anaknya yang bernama Joko Bahu utuk mengapdikan diri kepada kerajaan Mataram.
Konon kesaktian Ki Ageng Cempaluk sudah lama terdenar oleh kerajaan Mataram, sehingga Joko Bahu di terima di Kerajaan Mataram. Namun bukan berarti Joko Bahu tidak di uji. Dalam ketentuan kerajaan bahwa tiap prajurit yang akan mengapdikan diri pada Kerajaan harus melalui beberapa tahap ujian.
Pendadaran tahap pertama yang diberikan Sultan Agung adalah: membendung kali Sambong, karena setiap musim kemarau selalu saja sawah-sawah rakyat disepanjang aliran sungai itu sering mengalami kekeringan. Dengan membendung kali sambong di Kabupaten Batang diharapkan air dapat naik dan mengairi sawah-sawah disekitar tempat itu, sehingga hasil panen akan meningkat. Hal itu adalah salah satu kebijakan raja mataram untuk meningkatkan kemakmuran negerinya di bidang pertanian.
Sedang Kali sambong sendiri terkenal angker, dan sudah beberapa kali di lakukan pembendungan namun selalu mengalami kegagalan. Joko Bahu berangkat untuk membendung kali sambong, dengan perbolehkan membawa beberapa orang prajurit. Setelah pembendungan dimulai sedikit demi sedikit, ditengah berlangsungnya proyek pembendungan terjadilah keanehan-keanehan. Setiap pagi ketika para prajurit hendak melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai, mereka mendapati tanggul yang mereka kerjakan kemarin telah rontok dan rusak kembali.
Kejadian itu terus berulang-ulang sampai tiga hari berturut-turut. Tentu saja hal itu membuat Joko Bahu menjadi bingung bukan kepalang. Hingga akhirnya Joko Bahu melakukan tapa brata dan bertemu dengan siluman yang menunggui kali itu. Konon siluman itu adalah welut putih, hingga terjadi tawar-menawar kepentingan antara kedua belah pihak. Namun tak ada mendapat kata sepakat alias buntu. Maka terjadilah perkelahian sengit antara dua belah pihak dan di menangkan Joko Bahu.Keberhasilan Joko Bahu menjalankan pendadaran tahap pertama ini di sambut gembira oleh Sultan Agung.
Pendadaran tahap kedua yakni membuka lahan baru di tepi pantai utara sebelah Kabupaten Batang, yakni alas GAMBIRAN (gambaran) letaknya disekitar jembatan Anim dan desa Sorogenen, Waktu itu alas gambiran adalah alas yang sering dihindari oleh para rombongan pedagang yang melakukan pejalan jauh karena keadaannya yang angker dan tak tersentuh. Para rombongan pedagang yang melakukan pejalan jauh lebih memilih lewat daerah sebelah selatan yang lebih aman.
Karena konon setiap orang yang masuk kehutan gambiran pasti dia hanya akan berputar-putar didalamnya dan tak pernah bisa kembali keluar lagi dengan selamat. Begitupun yang di alami para prajuritnya Joko Bahu yang memasuki hutan itu dan mereka tak kembali lagi. Mereka hanya berputar-putar tak tentu.
Kemudian al-kisah Joko Bahu melakukan tapa brata yaitu tapa ngidang atau meniru sifat kidang. Akan tetapi Joko Bahu tetap tak mampu untuk mengalahkan raja siluman penunggu hutan itu. maka dengan sigap Joko Bahu segera pulang ke padepokan kesesi untuk mengadukan hal tersebut pada ki ageng cempaluk. Atas saran Ki Ageng Cempaluk, Joko Bahu di sarankan untuk melakukan "Tapa Ngalong" tapa brata yang menirukan posisi Kalong, yaitu dengan tidur kaki dengan menggantung di pohon tiap siang selama 40 hari.
Dalam pertapaannya diceritakan bahwa Joko Bahu digoda dan diganggu Dewi Lanjar beserta para prajurit siluman yang merupakan pengikutnya. Namun semua godaan Dewi Lanjar beserta para pengikutnya dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Joko Bahu.
Setelah empat puluh hari berlalu, seselesailah tapa-ngalongnya, singkat cerita Joko Bahu dapat mengalahkan raja siluman itu dan bisa melanjutkan menebang kayu-kayu di daerah tersebut tanpa ada satu hambatanpun sampai selesai dan dapat pulang ke mataram dengan membawa hasil.
Sultan Agung gembira dengan pencapaian yang di lakukan oleh Joko Bahu. Setelah Joko Bahu kembali ke Mataram, Sultan Agung langsung menganugrahkan gelar Adipati dengan julukan KI-JOKO BAHU dan sekaligus di tempatkan sebagai bupati kendal.
Sultan Agung kemudian mengirim Joko Bahu yang telah menjadi bupati Kendal untuk menaklukkan Sukadana (Kalimantan sebelah barat daya) tahun 1622 dan berhasil menyelesaikan misi tersebut dengan baik. Akan tetapi cerita tak berakhir sampai di situ karena masih ada tugas yang terbengkalai, yaitu pendadaran tahap ke tiga. Maka belumlah sempurna Joko Bahu menjadi prajurit Mataram kalau belum menjalankan tugas ketiga. Ia di tugaskan untuk melamarkan seorang putri cantik dari Kali Salak yang bernama Nyi Rantang Sari.
Singkat cerita Nyi Rantang Sari yang hendak dipersembahkan Sultan Agung justru jatuh cinta pada Joko Bahu dan tak mau dibawa untuk di persembahkan ke Mataram. Maka timbulah inisiatif dari Joko Bahu untuk mengganti dengan seorang putri yang tak kalah cantiknya yaitu Endang Kalibeluk, seorang putri anak penjual srabi di desa Kali Beluk (sampai sekarang Kali Beluk terkenal dengan kue Surabi/Srabi)
Akan tetapi sungguh sial, setelah disandingkan dengan Sultan Agung Endang Kalibeluk tak kuasa menahan luapan kegembiraannya dan akhirnya dia mengaku kalau dirinya bukan Rantang Sari yang dimaksud Sultan Agung. Hal ini tentu membuat Sultan marah besar. Dia merasa telah di tipu oleh Joko Bahu. Hingga Sultan memutuskan untuk meringkus Joko Bahu dan akan di jatuhi hukuman mati.
Akan tetapi keputusan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Joko Bahu, dapat di cegah oleh patih Singaranu dan dia menyarankan agar Sultan mengganti dengan tugas pendadaran ketigannya dengan tugas yang sangat berat agar Joko Bahu terbunuh dengan sendirinya.
Maka Sultan Agung menugaskan Joko Bahu tugas yang sangat berat yaitu menyerang Belanda di Batavia (Jaya Karta) sekarang menjadi kota Jakarta. Singkat cerita berangkatlah Joko Bahu menyiapkan armada perang menuju Batavia (Jaya Karta). Dia memilih melewati jalur laut, atas saran Ki Cempaluk sebap jalan darat konon senjata pusaka apapun akan hilang tuah atau kesaktiannya jika melintasi kali Ci-Pamali Brebes. Joko Bahu mempersiapkan tentaranya di sebuah desa yang bernama Ketandan daerah Wiradesa "wira" artinya prajurit , "desa" itu kampung jadi Wira-Desa adalah perkampungan prajurit dari situlah Joko Bahu bertolak ke Batavia (Jaya Karta). pada 27 Agustus 1628 pasukan Mataram dipimpin Joko Bahu tiba di Batavia.
Di Batavia (Jaya Karta) konon pasukannya dikumpulkan di sebuah daerah yang sekarang bernama Matraman yang artinya mataram-man dan membendung sungai ciliwung hingga Gubernur jenderal VOC yaitu J.P. Coen meninggal terserang kolera. Akan tetapi Belanda tak kehabisan akal mereka membakar lumbung-lumbung makanan tentara mataram sehingga mereka kehabisan perbekalan dan Joko Bahu menderita kekalahan.Kekalahan itu membuat Joko Bahu tak berani pulang ke Kadipaten Kendal dia memilih mendirikan kraton ke Kadipatenan yang letaknya di sebelah selatan Wiradesa tepatnya yang sekarang bernama desa Kadipaten (yang artinya di situ pernah akan di jadikan kadipaten).

JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...