Sunday, February 21, 2016

KONFERANCAB; Tonggak Estafet Kepengurusan Organisasi IPNU-IPPNU Wonokerto



“Jihat di jalan Allah sangatlah di anjurkan, tetapi mati di jalan Tamrin dengan mengatasnamakan jihat adalah tindakan konyol”, tandas Kyai Fauzan.

foto sambutan Kyai Fauzan (Ketua MWC NU Wonokerto)

Pekalongan- Pengurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan laksanakan Konferensi Anak Cabang (KONFERANCAB) VII di MI ANNUR Desa Bebel (19/2). Tak kurang 90 peserta hadir dari 10 ranting dalam hajat akbar dari banom NU ini. Tampak pula pengurus MWC NU, Muslimat NU, Ansor dan Fatayat.
Kyai Fauzan (Ketua MWC NU Wonokerto) dalam sambutannya, banyak sekali macam Jihat di jalan Allah, salahsatunya dengan ngurep-ngurep (menghidupi) ajarannya (agama islam), IPNU-IPPNU dalam hal ini juga harus bisa mengembangkan ajaran islam yang berhaluan Ahlussunah Wal Jamaah, karena ini ijuga termasuk jihat fisabilillah.
“Melalui Konferensi Anak Cabang, menandakan kepengurusan periode ini telah berakhir dan akan di gantikan oleh kepengurusan di periode selanjutnya, setidaknya harus ada langkah-langkah dan strategi yang jitu agar IPNU-IPPNU kepengurusan selanjutnya tidah mudah terbawa arus bahkan di grogoti oleh aliran diluar kita, sehingga perlu di ingat bahwa jihat di jalan Allah bukan melalui hal-hal yang membahayakan kita, tapi justru membawa kearah kebaikan,” tuturnya.
Selain itu NU juga salahsatu pilar besarnya dan tegaknya NKRI yang mana telah di dirikan oleh para ulama demi kemaslahatan Bangsa dan Negara, sudah sepatutnya jika NU harus di perjuangkan sebagai bagian dari Nusantara.
“NU sebagai salahsatu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia itu masih banyak kelemahannya. Salahsatunya orang-orang didalamnya yang belum mau mengakui bahwa dirinya adalah NU, sifat inilah yang harus kita tanamkan sebagai warga NU terutama di wilayah Wonokerto,” imbuhnya.
Seecara terpisah, menurut Adib Ahkami (ketua panitia Konferancab), NU adalah organisasi besar tapi kebesaran itu harus dilandasi dengan pondasi yang besar pula bagi generasi selanjutnya.
“IPNU-IPPNU adalah organisasi banom NU yang anggotanya paling muda, karena itu perlu adanya penguatan sejak dini agar kelak ketika masuk NU mereka semakin kuat, tapi fenomena yang terjadi saat ini adalah orangtuanya aktif di NU ataupun banomnya, tetapi anak-anaknya belum tentu mau ikut IPNU-IPPNU, ini yang harus menjadi sorotan dan perlu adanya dorongan dari para orangtua untuk mengajak dan mendidik anak-anaknya untuk sama-sama ngurip-ngurip NU dan mau berorganisasi dalam wadah IPNU-IPPNU” ungkapnya.

No comments:

Post a Comment

JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...