Tuesday, March 3, 2015

PERUBAHAN MAKNA



Makna sebuah kata secara sinkronis data berubah menyiratkan pula pegertian bahwa tidak setiap tata maknanya harus atau berubah secara diakronis. Makna kata dapat pula berbah berdasarkan sebab, berikut ini beberapa sebab perubahan wujud atau macam.

A.      Perubahan makna dari bahasa daerah ke bahasa indonesia
Perbuhan tatanan bahasa yang di mulai atau di transisikan dari daerah lokal menjadi bahasa nasional, kita mengetahui bahasa Indonesia terdapat tiga kelompok, yaitu bahasa daerah, bahasa indonesia, dan bahasa asing. Perubahan makna dari bahasa daerah ke bahasa indonesia misalnya kata seni.
Seni dalam KBBI bermakna ganda yaitu
1                    keahlian membuat karya yang bermutu tinggi.
2                    karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa.
Namun bagi masyarakat Melayu kata seni dihubungkan dengan air seni yang berarti air kencing, dalam bahasa melayu mengalami perubahan makna, sebab dalam bahasa indonesia seni dihubungkan dengan seni musik, seni lukis, seni tari yang lebih kepada hasil karya yang bemutu tinggi.
Contoh lain adalah kata butuh, dalam masyarakat Palembang, kata butuh bermakna sebagai alat kelamin laki-laki. Namun dalam bahasa indonesia kata butuh berarti diperlukan. Begitu juga dengan kata tele, dalam masyarakat Gorontalo tele bermakna alat kelamin perempuan. Sedangkan dalam bahasa indonesia dikenal kata bertele-tele, yang bermakna berlama-lama. Dari contoh tersebut ada perubahan dari bahsa daerah ke bahasa indonesia. Makna dari bahasa daerah bermakna X, tetapi dalam bahasa indonesia bermakna Y. Dalam hal ini masyarakat indonesia tidak merasa geli ketika memakai kata itu sebab ia tidak mengetahui maksud asal.

B.  Perubahan makna akibat perubahan lingkungan
Lingkungan masyarakat sebagai pengaruh terbesar dari perubahan makna. Masyarakat  dapat menyebabkan perubahan makna. Bahasa yang digunakan dalam masyarakat tertentu belum tentu maknanya sama  dengan masyarakat yang lain. Misalnya kata cetak. Perhatikan contoh berikut :
1.      Buku itu dicetak di Rineka Cipta, Jakarta.
2.      Cetakan batu bata itu besar-besar
3.      Pemerintah menggiatkan pencetakan sawah baru bagi petani.
4.      Ali mencetak lima gol dalam pertandingan itu.
Leksem cetak pada contoh diatas memperlihatkan makna yang berbeda karena lingkungan yang berbeda. Dengan kata lain, makna berubah jika terjadi lingkungan pemakaian. Contoh lain yaitu kata sumber, salin, langganan, operasi, dll.

C.      Perbedaan tanggapan indra
Setiap unsur leksikal atau kata sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna leksikal yang tetap. Namun karena pandangan hidup dan ukuran dalam norma kehidupan dimasyarakat, maka banyak kata yang menjadi memiliki nilai rasa yang “rendah”, kurang menyenangkan. Disamping itu ada juga yang menjadi memiliki nilai rasa yang “tinggi” atau mengenakan.Kata-kata yang nilainya rendah ini lazim disebut peyoratif, sedangkan yang nilainya naik menjadi tinggi disebut amelioratif.Misalnya kata bini dengan istri.Bini lebih dianggap peyoratif, sedangkan istri dianggap amelioratif. Begitu juga dengan kata bang dan bung, jamban dan kakus atau WC.
Pertukaran tanggapan indra pada perubahan makna ini yaitu pertukaran tanggapan antara indara yang satu dengan yang lain. Misalnya pada alat indra lidah kita dapat menangkap rasa pahit, manis, asin, pedas. Pada kulit kita bisa merasakan rasa dingin, panas, dan sejuk.begitu pula yang berkenaan dengan cahaya seperti gelap, terang, remang-remang akan ditangkap oleh indera penglihatan (mata). Dalam kasus ini sering terjadi pertukaran yang seharusnya ditanggap oleh indra perasa pada lidah, ditukar menjadi indra pendengaran. Contoh :
1.      kata-katanya pedas sekali.
2.      Suaranya sedap didengar
3.      Warnanya enak dipandang

D.      Perubahan makna akibat gabungan kata
Perubahan makna akibat gabungan leksem atau kata kita bisa ambil contohnya yaitu pada kata surat. Kata surat ternyata dapat digabungkan dengan kata yang lain dan tentu maknanya akan berubah. Kita mengenal dengan surat jalan, surat jual beli, surat kaleng, surat keterangan, surat perintah, surat sakit, dan surat permohonan.

E.       Perbedaan Bidang Pemakaian
Dalam setiap bidang kehidupan atau kegiatan memiliki kosa kata tersndiri yang hanya dan digunakan  dengan makna tertentu dalam bidang tersebut.Contoh dalam bidang kesehatan ada kata – kata dokter , suster, perawat , apotik, obat, opnam diagnosa, infus, koma,penyakit, rumah sakit , pasien. Dalam bidang olah raga ada kata – kata alit, renang, berlari , melempar, senam lantai, erobik, fitnes, bulu tangkis, sepak  bola, Voli, basket, melompat ,

F.       Adanya Asosiasi
Kata – kata yan digunakan diluar bidangnya,seperti yang sudah dibicarakan diatas masih behubungan maknanan dengan makna yang diguakan dalam bidang asalnya. Ada perbedaan dengan perubahan aknayan terjadi sebagai akbat penggunaan dalam bidang  yang lain,disini makna baru yang muncul adalah bekaitan dengan hal/ peristiwa yang lain yan berkeaan dengan kata tersebut.Contoh asosiasi antara dompet dengan uang inidimaksud adalah isinya yaitu uang,Contoh lain ada pula asosiasi yang berkanaan dengan waktu, misalnya  perayaan 21 april maksudnya tentu perayaan hari kartini. Karena hari kartini jatuh pada tanggal 21 april. Dengan kata lain di sini yang disebut waktunya, namun yang di maksud ialah peristiwanya.
Ada pula perbedaan makna akibat asosiasi yang berkenaan dengan tempat, contoh ayo kita bertamasya ke curug ceheng. Maksud dari kata curug ceheng, adalah mengasosiasikan tempat yang ada di desa ceheng.
Jenis- jenisnya
a)            Makna konotatif
Makna konotatif adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
b)           Makna stilistik
Makna stilistika ini berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubungan dengan adanya perbedaan sosial dan bidang kegiatan di dalam masyarakat.
c)            Makna afektif
Makna afektif adalah makna yang berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan
d)           Makna refleksi
Makna refleksi adalah makna yang muncul oleh penutur pada saat merespon apa yang dia lihat.
e)            Makna kolokatif
Makna kolokatif adalah makna yang berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya.

G.      Ambiguitas
Ketaksaan / ambiguitas adalah sebuah kata tertentu dipakai dalam dua makna, sementara makna ujaran secara keseluruhan tetap tak terpengaruh.
1.      Ketaksaan leksikal
Adalah Kegandaan makna karena ditimbulkan adanya butir-butir leksikal yang memiliki makna ganda baik karena penerapan pemakaian maupun hal-hal yang bersifat leksidental.
Contoh berdasarkan penerapan pemakaian:
a. Siang hari jalan Malioboro sangat ramai.
b. Corak kain yang dipakainya sangat ramai.
c. Pak guru memarahi siswa kelas V yang ramai dikelas.
Kata ramai pada contoh (a) berarti penuh dengan kendaraan.Sedang ramai pada contoh (b) berarti penuh dengan hiasan.Sedangkan ramai pada contoh (c) bermakna ribut atau gaduh.
Contoh berdasarkan Leksidental :
a.       Pertandingan semalam berakhir seri.
b.      Saya sudah menonto film itu sampai seri III.
Kata seri pada kalimat (a) bermakna imbang, sedangkan pada kalimat (b) bermakna sebagian atau jilid.
2.      Ketaksaan Gramatikal
Adalah kegandaan makna bentuk-bentuk kebahasan tidak semata-mata disebabkan oleh ketaksaan makna butir-butir leksikal yang menyusunnya, tetapi juga karena penggabungan bentuk kebahasaan itu dengan bentuk kebahsaan yang lain.
Ketaksaan Gramatikal dibagi menjadi
a.       Gramatikal berdasarkan ambiguitas
Ialah ketaksaan yang terbentuk karena proses lingual menurut sistem bahasa tertentu.
Contoh :
1.    Ini lukisan adik bukan milik saya.
2.    Lukisan adik yang berupa pemandangan ini sangat indah.
3.    Lukisan adik yang dipajang memakai kaca mata hitam.
Kata lukisan adik pada kalimat (1) bermakna lukisan milik adik, pada kalimat (2) bermakna lukisan yang dibuat oleh adik, sedangkan pada kalimat (3) bermakna lukisan yang ber objek adik.
b.      Gramatikal berdasarkan frasa
Contoh :
1.      Istri mentri yang tinggi itu berjalan menuju mimbar
Kata diatas dapat berarti yang tinggi adalah istrinya bahkan bisa berarti pula mentrinya yang tinggi.
c.       Gramatikal berdasarkan proses morfologi
Contoh :
1.      Kita butuh orang yang berpandangan luas!
2.      Ketika bertemu, mereka berpandangan.
Makna kata berpandangan pada kalimat (1) yaitu orang yang pintar atau cerdas.Sedangkan pada kalimat (2) bermakna saling menatap satu samalain.
d.      Gramatikal berdasarkan Idiom
Adalah kegandaan makna berdasarkan gabungan dua kata atau lebih yanag maknanya tidak dapat diidentifikasi atau ditafsirkan dari unsur-unsur yang membentuknya.
Contoh :
1.      Ia pergi ke kamar kecil untuk buang hajat.
2.      Paman mengontrak sebuah kamar kecil dijakarta.
Makna kata kamar kecil pada kalimat (1) berarti toilet, sedangkan pada kalimat (2) bermakna kamar yang ukurannya kecil.








Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.Jakarta : Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Wijaya, Dewa Putu & Mohamad Rohadi. 2011.Semantik :Teori dan Analisis. Purwakarta: Yuma Pustaka.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : Rineka Cipta

SEMANTIK DAN FILSAFAT



Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang di sini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik (Perancis: signe linguistique) seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1966), yaitu yang terdiri dari:
1.      Komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa.
2.      Komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
Kedua komponen ini merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangi adalah sesuatu yang berada diluar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang ditunjuk.
Filsafat dengan semantik memiliki hubungan sangat erat. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan merupakan dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Sementara pada sisi lain, aktivitas berpikir itu sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Dalam situasi tersebut, bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekadar media proses berpikir maupun penyampai hasil pikiran.
Filsuf Bertran Russel menyatakankan bahwa ketepatan menyusun symbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Sebab itu,kompleksitas symbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas itu sendiri sehingga antara keduanya dapat berhubungan secara tepat dan benar (Alston, 1964:2). Sehubungan dengan masalah tersebut, bahasa memang masih memiliki sejumlah kekurangan. Bahasa sehari-hari yang biasa kita gunakan, misalnya, bisa dikaitkan dengan kegiatan filsafat, mengandung kelemahan, antara lain dalam hal (1) vagueness, (2) inexplicitness, (3) ambiguity, (4) context-dependence, serta (5) misleadingness (Alston : 1964:6)
Bahasa memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung di dalam suatu bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar. Ambiguity berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Kata bunga, misalnya, dapat berkaitan dengan “bunga mawar”, “Bunga melati”, “bunga anggrek” maupun ‘gadis. Begitu juga untuk menentukan makna kata tinggi, bisa, mampu, seseorang harus mengetahui dimana konteks itu berada. Meskipun demikian, dalam dunia kepenyaian, kesamaran makna itu justru dimanfaatkan untuk memperkaya gagasanyang disampaikannya. Pernyataan penyair Goenawan Mohammad yang berbunyi :
Akupun tahu: sepi kita semula
Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
Mengekalkan yang esok mungkin tak ada
Pada sisi lain bukan hanya menggambarkan suasana sepi, dingin yang dibagi pohon-pohon maupun esok yang mungkin tidak ada, melainkan juga mampu membawa pembaca kepada pemikiran filosofis tentang hakikat keberadaan manusia serta kehidupan itu sendiri. Dari contoh itu juga dapat diambil kesimpulan bahwa kesamaran makna suatu bahasa sebenarnya juga akibat ‘kelebihan’ bahasa itu sendiri yang memiliki multifungsi, yakni selain sebagai berfungsi “simbolik”, bahasa juga memiliki fungsi emotif dan afekstif. Selain itu, adanya sinonimi, hiponimi, maupun polisemi juga menjadi factor penyebab kesamaran dan ketaksaan makna.
Akibat lebih lanjut dari adanya kekaburan dan ketaksaan makna adalah terjadinya inexplicitness, sehingga bahasa sering kali tidak mampu secara eksak, tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang sirepresemtasikannya. Selain itu, pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatik, social, serta konteks situasional dalam pemakaian, sehingga juga mengalami context-depent. Dari adanya sejumlah kekurangan di atas, tidak mengherankan apabila paparanlewat bahasa sering mengandung misledingness sehubungan dengan keberadaannya dalam komunikasi. Pernyataan seperti Wah, Ali sudah parah, misalnya, dapat saja dimaknai “Ali sakitnya sudah parah”, sementara yang dimaksud penutur mungkin, “nilai Ali sangat jelek”. “Ali sangat nakal dan sulit dinasihati”, “hubungan Ali dengan Ani sudah sedemikian jauhnya”, serta sejumlah maksud isi pesan lainnya. Dlam situasi demikian itulah, pemilihan kata, pengolahan dan penataan unsure gramatikal maupun konteks harus dilakukan secara tepat dan cermat.
Semantik telah melepaskan diri dari filsafat, tetapi tidak berarti filsafat tidak membantu perkembangan semantik. Pada tahun 1923 muncul buku The Meaning of Meaning karya Ogden & Richards yang menerangkan hubungan tiga unsur dasar, yakni ‘thought of reference’ (pikiran) sebagai unsur yang menghadirkan makna tertentu yang memiliki hubungan signifikan dengan referent(acuan). Pikiran memiliki hubungan langsung dengan symbol (lambang). Lambang tidak memiliki hubungan langsung dengan symbol (lambang). Lambang tidak memiliki hubungan yang arbitrer. Sehubungan dengan meaning, para pakar semantik biasa menentukan fakta bahwa asal kata meaning(nomina) dari to mean (verba), di dalamnya banyak mengandung ‘meaning’ yang berbeda-beda. Leech (1974) menyatakan bahwa ahli-ahli semantik sering tidak wajar memikirkan’the meaning of meaning’ yang diperlukan untuk pengantar studi semantik. Mereka sebenarnya cenderung menerangkan semantik dalam hubungannya dengan ilmu lain; para ahli sendiri masih memperdebatkan bahwa makna bahasa tidak dapat dimengerti atau tidak dapat dikembangkan kecuali dalam makna nonlinguistik.
Semantik maupun bahasa memiliki keterkaitan dengan filsafat seperti ontologi, epistomologi, metafisika yang berhubungan dengan logika. Semantik berperan aktif sebagai penentu baik dari pernyataan benar ataupun salah yang diberikan dari premis dan kesimpulan yang diberikan.

Friday, February 13, 2015

Gerakan ISIS



ISIS (Islamic State in Iraq and al-Sham) adalah organisasi islam dibawah pimpinan Ibrahim Awad Ibrahim Ali al-Badri al-Samarrai atau Abu Bakr al-Baghdadi. Kelompok Islam ini terkenal radikal karena menguasai banyak wilayah di Suriah timur serta Irak utara dan barat. Menggunakan strategi brutal dan melakukan pembunuhan massal serta penculikan anggota kelompok keagamaan dan suku. Anggota ISIS adalah kaum militan yang menginterpretasi Islam Sunni secara ekstrem. Mereka mengklaim bahwa dasar tindakannya berasal dari ayat-ayat Al-Quran.
Kelompok ini berkeinginan mendirikan sebuah "khilafah", sebuah negara yang dikuasai satu pemimpin keagamaan dan politik menurut hukum Islam atau syariah. Meskipun saat ini terbatas di Irak dan Suriah, ISIS bertekad akan menerobos perbatasan Yordania dan Lebanon dan memerdekakan Palestina.
Cikal bakal ISIS adalah almarhum Abu Musab al-Zarqawi, warga Yordania yang mendirikan Tawhid wa al-Jihad di tahun 2002. Setahun setelah invasi Irak yang dipimpin Amerika Serikat, Zarqawi menyatakan dukungan kepada Osama Bin Laden dan membentuk Al Qaeda di Iraq (AQI). Tahun 2006, AQI mendirikan organisasi Negara Islam di Irak (ISI) yang kemudian melemah karena peningkatan pasukan AS dan pendirian dewan Kebangkitan oleh suku Arab Sunni yang menolak kebrutalan. Tahun 2010, Baghdadi membangun kembali ISI. Mereka bergabung dalam pemberontakan menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad, mendirikan Front al-Nusra.
April 2013, Baghdadi mengumumkan penggabungan pasukannya di Irak dan Suriah dan diciptakannya Negara Islam di Irak dan Levant (ISIS). Juni 2014, ISIS menguasai kota Mosul, dan maju ke selatan menuju Baghdad. Setelah mengkonsilidasi penguasaan beberapa kota, ISIS menyatakan pendirian khalifah dan mengubah nama menjadi Negara Islam (Daulah Islamiyah). Sejumlah pihak memperkirakan ISIS dan sekutunya menguasai 40.000 km2 dari wilayah Irak dan Suriah. Kota-kota yang mereka kuasai diantaranya adalah Mosul, Tikrit, Falluja dan Tal Afar di Irak; Raqqa di Suriah.
ISIS di Indonesia
Seruan ISIS mengajak negara-negara islam lain tuk bergabung kedalam jihatnya juga sudah dilancarkan, salah satunya di Indonesia. Sekitar Agustus 2014 lalu, berita ISIS mewarnai media di Indonesia. Banyak kalangan menyebut bahwa ISIS bertindak berlebihan. Sebab mengajak untuk mendirikan negara yang di pimpin oleh Khalifah. Penolakan-penolakanpun terjadi dari berbagai kalangan. Baik dari pemerintah Indonesia ataupun dari beberapa ormas agama. Salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU, menolak tegas adanya ISIS di Indonesia.
Islam yang bergaris keras ini menjadi permasalahan tersendiri bagi bangsa Indonesia khususnya warga NU. Menurut KH. Abdul Manan (LTMNU), “ISIS selalu menyerang orang yang aqidahnya lemah. Dalam artian, keimanan dan penguasaan tentang agamanya masih mudah tergoyah. Jadi sangat mudah untuk dipengaruhi. Dengan dalih berjihat di jalan Allah dan mati syahid.” Tuturnya.
Kemulyaan setelah mati karena berperang demi membela Islam dan iming-iming masuk surga inilah yang mungkin menjadi motivasi tersendiri bagi para penganutnya. Peran serta masyarakat dikalangan satuan terkecil anggota NU yaitu ranting juga sangat di butuhkan dalam penanggulangan ISIS. Tugas dari ulama ataupun kyai setempat untuk menguatkan idiologi ala ahlussunah wal jama’ah bagi masyarakat khususnya generasi muda NU. Agama Islam tidak pernah membenarkan perilaku kekerasan. Sementara ISIS menghalalkan kekerasan bagi siapa saja yang bertentangan bagi paham yang mereka anut.
ISIS berkembang pesat dan besar karena memilki pendanaan yang sangat besar. Dana tersebut di sinyalir dari hasil rampasan atas penguasaan tambang minyak di syria dan keterlibatan Israel dan Yahudi. Hal tersebutlah yang menjadikan ISIS mampu melengkapi persenjataan mereka.
PBNU juga akan mengadakan pertemuan ulama muslim sedunia pada pada 29-30 Oktober di pesantren Al-Hikam Depok, International Conference of Islamic Scholar (ICIS) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri RI akan menggelar konferensi internasional Timur Tengah. Serta akan dihadiri oleh duta-duta besar Negara Timur Tengah untuk RI dan beberapa mufti dari Iraq , Syria, Mesir, Turki dan Yordania. Pertemuan yang bertujua untuk membentengi Indonesia agar tidak dimasuki ISIS dari luar negeri serta hubungan indonesia dan dunia islam di dunia.
Hal tersebut di sebabkan oleh saat ini diketahui berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), terdapat 34 orang Indonesia yang sudah dibaiat atau disumpah oleh ISIS. Sebagian besar merupakan tokoh-tokoh teroris yang telah beroperasi di Indonesia. Jumlah tersebut di harapkan tidak bertambah lagi.
Adapun ciri dari kelompok ini diantaranya berdasarkan ajaran yang mereka bawa, perilaku kebiasaan dan dapat pula dilihat dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka selalu membawa bendera hitam mungkin mereka mengira akan menjadi pengikut imam Mahdi yang membawa bendera hitam di akhir zaman dan pemegang Daulah Islamiyyah.

Monday, February 2, 2015

Khas Dukuh Randuatan Desa Sijambe Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan



Sijambe adalah desa di kecamatan Wonokerto, Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Memiliki luas 95.450 Ha dengan jumlah penduduk 4.316 Orang. Sijambe terbagi menjadi dua Padukuhan yaitu Dukuh Sijambe dan Dukuh Randuatan. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Wonokerto Weta, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bebel, sebelah Utara dengan Desa Api-Api dan sebelah Timur dengan Desa Pesanggrahan. Secara geografis mata pencaharian penduduk setempat adalah nelayan dan tani. Meski tak jarang pula yang berdagang, buruh dan menjadi pegawai.
Lebih khusus menilik di salah satu dusun/dukuh di desa Sijambe, yaitu dukuh Randuatan memiliki ciri khas tersendiri yaitu berupa sambal dari air endapat kuah ikan. sambal ini di sebut "Petis" oleh kebanyakan masyarakat sekitar. Di daerah Jawa Timur kita mengenal Petis Cumi, sedangkan di Wonokerto kita mengenal Petis Pindang (Kuah Ikan). Dengan rasa asin dan memiliki bau agak amis. Petis menjadi sambal yang biasa di sajikan dalam acara lotean.
Banyak masyarakat sekitar Wonokerto yang menyerbu dukuh Randuatan Desa Sijambe untuk berburu Petis sebagai sambal sajian dalam lotean. Sambal Petis bisa langsung di sajikan atau di cocol langsung dengan lotean/rujakan. Bisa juga di campur dengan sambal gula merah atau sambal kacang. jika yang suka pedas bisa di tambah dengan cabai rawit.Selain itu petis juga bisa menjadi sambal urap klubannan (daun pepaya yang direbus, mentimun, petai cina, tauge) di urap jadi satu dengan kelapa yang sudah di parut.
Karena sebagai daerah produsen Petis terbanyak di wilayah Wonokerto, menjadikan Desa Sijambe Dukuh Randuatan dengan sebutan kampung Petis. Petis sudah di bilang menguasai pasar sambal lotean di kawasan Wonokerto. Tak jarang pula pembeli dari daerah luar Wonokerto.
Jika pertama kali mencicipi akan terasa aneh, karena dengan bau amisnya dan rasa asin dari petis. Tetapi bila sudah terbiasa, rasanya sangat enak. Apalagi di tambah dengan gula merah dan kacang tanah yang sudah digoreng dan di tumbuk. Terlebuh disantap bersama teman-teman atau rombongan.
Bukan hanya itu, Randuatan juga terkenal sebagai desa kampung pengolahan ikan. Baik dalam bentuk Pindang, Ikan Asap/Panggang, dan Ikan Asin. Area pemasaran sendiri sampai keluar Pekalongan, bahkan untuk Ikan Asin banyak dikirim ke kota-kota Besar yang ada di pulau Jawa. cuman itu masih sekala Home Industri belum bebrbentuk PT.

JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...