Thursday, April 19, 2012

SINOPSIS DAN ANALISIS CERPEN



  SRI SUMARAH DAN BAWUK

SINOPSIS

Sri Sumarah bercerita tentang seorang perempuan yang menjadi istri seorang guru yang dipanggil bu guru pijit karena dia punya keahlian memijit. Dia bernama asli Sri sumarah yang memiliki arti pasrah. Dia terbiasa pasrah menjalani hidup sejak kecil. Dia selalu di didik dengan cara jawa oleh neneknya, dia di ajarkan untuk selalu patuh terhadap suaminya apapun perintahnya. Dia di ibaratkan sebagai Subadra  isrri arjuna yang paling setia dan selalu sabar meskipun suaminya menikah berkali-kali dengan perempuan lain. Hal ini pun sedikit banyak harus pula di alami Sri ketika suaminya di anjurkan oleh camat untuk menikah lagi bahkan pak camat pun telah menyiapkan calonnya.
Sri Sumarah mengisahkan jiwa seorang Jawa yang tumbuh dalam suatu lingkungan kebudayaan Jawa, menghadapi berbagai tantangan dan perubahan jaman, dengan lukisan-lukisan alam perasaan dan alam perkembangan sastra Indonesia. Nama tokoh ini berarti Sri yang menyerah, terserah, atau pasrah. Sikap ini diajarkan oleh neneknya dan ingin diajarkannya pada anaknya pula. Sikap sumarah diterjemahkan Sri sebagai kepasrahan ketika dijodohkan neneknya dengan Mas Marto, suaminya. Juga ketika ditinggal mati suaminya, ketika harus berjuang membesarkan Tun anaknya dan mendapatinya hamil di luar nikah, dan juga ketika menghadapi kematian Yos menantunya yang dibunuh dan Tun ditahan di penjara sebab terlibat gerakan PKI.
Setelah peristiwa tragedi Yos dan Tun itu, Sri lah yang mengurus Ginuk, cucu satunya-satunya. Sikap sumarah tetap dijalankannya. Sikap itu mengiringinya selama berusaha memenuhi hidup. Ia memilih menjadi tukang pijit. Memijit dipilihnya sebagai pekerjaan setelah mendapat wisik saat bertirakat. Sejak itu ia memulai perjalanan hidup baru dengan modal memijit. Pekerjaan memijit Sri dinilai bagus oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia mendapat cukup uang untuk menghidupi dirinya, Tun, dan Ginuk. Pekerjaan ini dijalani Sri dengan biasa-biasa saja, meskipun ia harus banyak melakukan kontak fisik dengan laki-laki. Sikap bakti berperan di sini. Namun, hatinya sempat goyah ketika suatu hari harus memijit seorang pelanggan pria muda yang tampan dan gagah.
Sri menghadapi masalah setelah Tun dipenjara. Saat itu Sri benar-benar mengalami kesulitan ekonomi. Sawah dan rumah telah dikuasai BTI (Barisan Tani Indonesia, gerakan yang dinaungi PKI), perhiasan habis untuk mengangsur utang, dan persediaan uang semakin menipis. Apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di saat seperti seperti itu? Jawabannya terlihat dalam kutipan berikut. Uang? Menipis dan menipis. Dalam satu-dua minggu pasti habis. Lantas? Sri sumarah, sumarah. Seperti biasa dalam keadaan begitu dia akan ingat embah dan suaminya.Sri kemudian bertekad untuk tirakat, tidur kekadar di luar, malamnya. Reaksi Sri dalam menghadapi masalah itu adalah dengan sumarah. Ia tidak menyerah begitu saja, melainkan ia mengambil langkah untuk bertirakat. Caranya dengan tidur sekadarnya dan menunggu datangnya wisik. Wisik adalah pitoedoeh (wewarah) atau gaib, artinya petunjuk gaib. Wisik itu diperoleh Sri kemudian, dan ditafsirkannya sebagai petunjuk bahwa ia harus bekerja sebagai tukang pijit demi melanjutnya hidupnya.
Bawuk, putri bungsu keluarga Suryo, putri seorang 'onder,' priyayi Jawa. Sejak kecil ia telah menumbuhkan sifat-sifat kerakyatan, berbeda denga keempat kakaknya. Hal ini tampak dalam sikapnya yang menghargai para pembantunya. Hanya Bawuk seorang yang memahami kepedihan ibunya, yang terpaksa melihat suaminya tenggelam dalam pelukan ledek (penari), dalam suatu pesta di Kabupaten. Setelah dewasa, Bawuk berkenalan dengan Hassan, seorang aktivis Partai Komunis. Kemudian mereka menikah dan mempunyai seorang putri dan putra. Ketika peristiwa G 30 S meletus, Hassan ikut terlibat dan terus dikejar tentara. Maka Bawuk beserta kedua anaknya terpaksa pindah dari satu kota ke kota lain, untuk mengikuti suaminya yang terpaksa terus melarikan diri dari kejaran tentara. Akhirnya, bawuk mengambil keputusan. Ia datang ke kota tempat tinggal ibunya, untuk menitipkan kedua anaknya. Tak mungkin ia membawa-bawa kedua anaknya dalam pelarian itu. Anak-anaknya butuh kehidupan yang layak dan bersekolah dengan tenang. Di rumah ibunya, Bawuk disambut oleh keempat kakak beserta ipar-iparnya yang telah mapan: seorang brigjen, dosen di ITB, dirjen di salah satu departemen, dan seorang dosen lagi di Gadjah Mada. Mereka terus membujuk Bawuk agar tetap tinggal di kota itu. Namun Bawuk telah berketetapan hati untuk terus mencari suaminya. Dengan tegar ia menjelaskan bahwa sebagai isteri, ia tetap harus menemui suaminya. Hanya saja kedua anaknya dititipkan kepada ibunya. Semua kakaknya sulit menerima keputusan itu. Hanya sang ibu yang dapat memenuhi keputusan Bawuk. Cerita ditutup dengan suara sayup anak-anak Bawuk yang sedang belajar mengaji. Bu Suryo membaca dalam surat kabar, bahwa G 30 S telah ditumpas dan Hassan, menantunya ialah salah seorang yang diberitakan tertembak mati. Tapi Bawuk tak ketahuan rimbanya.

c.       Unsur Intrinsik
1)      Tema
Dalam cerpen “Sri Sumarah dan Bawuk” bahwa tema yang dijadikan inspirasi oleh penulis adalah  mengangkat kehidupan tokoh (keluarga) Jawa. Karya-karya itu dipandang banyak kritikus “mewakili” citra manusia (wanita) Jawa. Disini penulis berusaha membandingkan berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tokoh utama wanita dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal perwatakan baik secara fisik, psikis, maupun sosial.
2)      Latar
Cerpen ini mengisahkan kehidupan mayarakat Jawa pada zaman orde baru dalam masa perkembangan sastra Indonesia. Pedesaan dijadikan tempat utama karena menurut pengamatan penulis dimana pedesaan tersebut merupakan setting dalam cerpen Sri Sumarah Dengan penggambaran Pedesaan yang memunculkan beberapa konflik antar tokoh yang di dasari kebudayaan setempat. Dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam menampilkan seorang tokoh yang hidup di Pedesaan  dan Perkoataan adalah setting kedua setelah Pedesaan, Perkotaan menjadi pusat segala pusat dalam berbagai hal. Banyak hal yang di alami Sri didesa akhirnya Sri pindah ketempat anaknya yaitu Tun. Kehidupan dikota jelas sekali berbeda dengan didesa nilai-nilai kebudayan jawa seperti (tata karama, bahasa jawa dan kebiasaan) sudah mulai luntur di gantinya dengan kebudayan yang semakin modern.
3)      Alur
Dilihat dari cerita cerpen ini,  “Sri Sumarah dan Bawuk” termasuk alur maju artinya kejadian dan urutan ceritanya disusun secara runtut dari awal sampai akhir.
4)      Gaya Penulisan
Cerpen ini merupakan karya Umar Kayam yang diterbitkan dalam satu buku berjudul Sri Sumarah dan Cerita Pendek Lainnya oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1986. Dalam gaya penulisan cerpen ini masih bersih dari dari istilah bahasa jawa, itu pun hanya sekedar pemanis yang dapat membawa pembaca lebih mendalami isi cerita. Seperti dapat di ambil contoh pada penulisan kata Wisik, Ledek, Nrima dan lain sebagainya. Mungkin untuk penulis cerpen angkatan sekarang ( muda ) kata itu di ganti dengan kata Petunjuk, Penari, Menerima dan lain sebagainya.
5)      Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara atau pandangan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dalam cerpen Sri dan Bawuk susut pandang yang di gunakan adalah pandangan orang pertama yaitu aku yang menjadi tokoh utama. Hal ini membuat para pembaca seolah ikut mengalami dan merasakan kehidupan si aku.
6)      Tokoh dan Penokohan
-          Sri        : Berusia hampir setengah abad; bersuara merdu; gaya bicaranya halus dan sopan; serta suka berpakaian kebaya. Secara psikis, Sri bersifat sumarah; amanat; jujur; memiliki tekad yang kuat; tidak mudah putus asa; tegar; patuh; memiliki keahlian menyanyikan tembang Jawa dan memijit. Secara sosial, Sri dari keluarga miskin; pendidikannya sampai tingkat SKP; bersuamikan guru; memiliki seorang anak; dan bekerja sebagai tukang pijit.
-          Bawuk : Bawuk berusia 35 tahun; gaya bicaranya bebas, banyak bicara, dan penuh humor; serta tidak lagi memakai kebaya. bersifat ceria; bersemangat tinggi; penuh vitalitas dan optimisme; pandai berbicara dengan kata-kata bijak; cerdas; disiplin dan mandiri; memiliki kecenderungan ‘bohemian’; dan tidak membeda-bedakan. Bawuk dari keluarga kaya; ia berpendidikan europeesch; bersuamikan tokoh PKI; memiliki dua anak; dan ikut organisasi Gerwani.
-          Mas Marto       : Suami Sri, Seorang Guru, baik hati, Penyayang, bertanggung jawab.
-          Tun      : Anak Sri, penyayang, penurut.
-          Yos      : Menantu Sri.
-          Ginuk  : Cucu Sri
-          Hassan : suami Bawuk, seorang aktivis partai komunis (PKI).
-          Bu Suryo         : Ibu Hassan
7)      Amanat
Banyaknya makna tersirat dengan berbagai kompleksitasnya menempatkan cerpen Sri Sumarah dan Bawuk tidak hanya kaya dengan makna-makna simbolik. Dapat dilihat dari perjuangan dan kepasrahan Sri ketika ditinggal mati suaminya, Dia membesarkan Tun seorang diri.
8)      Pencitraan

d.      Unsure Ekstrinsik
1)      Biografi Pengarang
2)      Nilai
-          Budaya
Nilai kebudayaan yang terdapat dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam adalah kebudayaan Jawa yang sangat melekat dalam tokoh utama yaitu Sri sebagai asli orang Jawa menurut garamsci konsep kebudayaan serupa itu sungguh-sungguh berbahaya, khususnya bagi kaum Proletariat (kelas bawah). Kebudayaan jawa lainnya adalah ketika Yos bermain teater mereka sengaja memainkan karakter kerajan-kerajaan pepunden yang harus kita hormati dijawa misalnya, ketoprak, tembang jawa(yen ing tawang ana lintang), rengeng-rengeng. Di cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam kebudayan Jawa mempresentasikan bagaimana kebudayaan Jawa mengikat seorang perempuan yaitu tokoh utama Sri Sumarah
-          Sosial
Secara sosial, Sri dari keluarga miskin; pendidikannya sampai tingkat SKP; bersuamikan guru; memiliki seorang anak; dan bekerja sebagai tukang pijit. Sedangkan Bawuk dari keluarga kaya; ia berpendidikan europeesch; bersuamikan tokoh PKI; memiliki dua anak; dan ikut organisasi Gerwani.
-          Agama
Kepercayaan populer yang terdapat dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam yaitu :
                                                                                    Sri diwajibkan minum jamu galian secara teratur agar badanya tetap singset dan sintal. Sri berpuasa sepasar lima hari: Berpuasa selama lima hari merupakan mitos orang jawa yang di percayai jika berpuasa lima hari maka ketika Sri mengadakan hajatan atau kerja mantu akan berhasil dan sukses karena Sri sebagai orang jawa yang percaya dengan adanya mitos tersebut Sri melakukan puasa pasar yang bertujuan menyukseskan acara hajatan

ANALISIS CERPEN SRI SUMARAH DAN BAWUK

 Cerpen yang berjudul “Sri Sumarah dan Bawuk” merupakan tema yang  di angkat dari kehidupan tokoh (keluarga) Jawa. Karya-karya itu dipandang banyak kritikus “mewakili” citra manusia (wanita) Jawa.  Cerita tersebut membandingkan hasil  analisis yang dapat disimpulkan bahwa tokoh utama wanita dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal perwatakan baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Pemilihan nama tokoh dalam cerita ini pun memperlihatkan unsur jawa yang sangat kental. Nama Sri misalnya, dalam masyarakat jawa tentu tidak asing lagi tentunya biasa kita dengar bahkan dalam lagu campur sari pun ada penyebutan nama “Sri”. Nama Bawuk sendiri merupakan sebuah panggilan akrab bagi seorang anak perempuan disuatu daerah tertentu di Jawa.
Cerpen ini mengisahkan kehidupan mayarakat Jawa pada zaman orde baru dalam masa perkembangan sastra Indonesia. Setting dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk Karya Umar Kayam, menampilkan seorang tokoh yang hidup di Pedesaan dan Perkoataan. Kisah Sri Sumarah ini menceritakan sebuah perjuangan seorang janda yang harus menghidupi keluarganya dengan kesederhanaan.
Dilihat dari cerita cerpen ini,  “Sri Sumarah dan Bawuk” termasuk alur maju artinya kejadian dan urutan ceritanya disusun secara runtut dari awal sampai akhir. Cerpen ini diterbitkan dalam satu buku berjudul Sri Sumarah dan Cerita Pendek Lainnya oleh penerbit Pustaka Jaya tahun 1986. Dalam gaya penulisan cerpen masih bersih dari istilah bahasa jawa, itu pun hanya sekedar pemanis yang dapat membawa pembaca lebih mendalami isi cerita. Seperti dapat di ambil contoh pada penulisan kata Wisik, Ledek, Nrima dan lain sebagainya. Mungkin untuk cerpen angkatan sekarang ( muda ) kata itu di ganti dengan kata Petunjuk, Penari, Menerima dan lain sebagainya.  Dalam menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita  Sri dan Bawuk sudut pandang yang di gunakan adalah pandangan orang pertama yaitu aku yang menjadi tokoh utama. Hal ini membuat para pembaca seolah ikut mengalami dan merasakan kehidupan si aku.
Tokoh Sri digambarkan dalam usia hampir setengah abad, bersuara merdu, gaya bicaranya halus dan sopan, serta suka berpakaian kebaya. Secara psikis, Sri bersifat sumarah,  amanat, jujur, memiliki tekad yang kuat, tidak mudah putus asa, tegar, patuh, memiliki keahlian menyanyikan tembang Jawa dan memijit. Secara sosial, Sri dari keluarga miskin, pendidikannya sampai tingkat rendah bersuamikan guru, memiliki seorang anak, dan bekerja sebagai tukang pijit.
Bawuk berusia 35 tahun, gaya bicaranya bebas, banyak bicara, dan penuh humor,  serta tidak lagi memakai kebaya. bersifat ceria, bersemangat tinggi, penuh vitalitas dan optimism, pandai berbicara dengan kata-kata bijak, cerdas, disiplin dan mandiri, memiliki kecenderungan ‘bohemian’ dan tidak membeda-bedakan. Bawuk dari keluarga kaya ia berpendidikan europeesch, bersuamikan tokoh PKI  memiliki dua anak dan ikut organisasi Gerwani.
Tokoh lainnya ada Mas Marto Suami Sri, Seorang Guru, baik hati, Penyayang, dan bertanggung jawab. Tun Anak Sri, penyayang, penurut.Yos Menantu Sri. Ginuk Cucu Sri dan Hassan suami Bawuk, seorang aktivis partai komunis (PKI).
Banyak  makna tersirat dengan berbagai kompleksitasnya menempatkan cerpen Sri Sumarah dan Bawuk tidak hanya kaya dengan makna-makna simbolik. Dapat dilihat dari perjuangan dan kepasrahan Sri ketika ditinggal mati suaminya, Dia membesarkan Tun seorang diri.
Nilai budaya dalam cerpen Sri Sumarah dan Bawuk adalah kebudayaan Jawa yang sangat melekat dalam tokoh utama yaitu Sri sebagai asli orang Jawa menurut garamsci konsep kebudayaan serupa itu sungguh-sungguh berbahaya, khususnya bagi kaum Proletariat (kelas bawah). Kebudayaan jawa lainnya adalah ketika Yos bermain teater mereka sengaja memainkan karakter kerajan-kerajaan pepunden yang harus kita hormati dijawa misalnya, ketoprak, tembang jawa(yen ing tawang ana lintang), rengeng-rengeng.
Secara sosial, Sri dari keluarga miskin, pendidikannya sampai tingkat SKP, bersuamikan guru, memiliki seorang anak, dan bekerja sebagai tukang pijit. Sedangkan Bawuk dari keluarga kaya, ia berpendidikan europeesch, bersuamikan tokoh PKI, memiliki dua anak, dan ikut organisasi Gerwani.

Itu aspek kebahasaan ya?
Sri selalu minum jamu galian secara teratur agar badanya tetap singset dan sintal. Selain itu juga Sri berpuasa sepasar lima hari. Puasa selama lima hari merupakan mitos orang jawa kuno. Konon jika berpuasa lima hari ketika mengadakan hajatan atau kerja mantu akan, berhasil dan sukses. Sebagai orang jawa yang percaya dengan adanya mitos tersebut, Sri melakukan puasa pasar yang bertujuan menyukseskan acara hajatan.
Dari cerpen “Sri Sumarah dan Bawuk”, dapat terlihat jelas bahwa kisah ini mengisahkan dua wanita yang sangat berbakti pada suaminya dan tegar terhadap kejadian-kejadian atau musibah yang mendera kehidupan mereka. Hal itu dijelaskan bahwa, “walaupun ditinggal mati suaminya, Sri masih tetap setia dan memilih hidup menjanda dan menggantikan kepala keluarga hingga akhir cerita.”. Sedangkan Bawuk, memilih mengikuti kemanapun suaminya pergi walaupun keluarganya meminta ia untuk tetap tinggal.
Cerpen ini sangat baik untuk kita baca, untuk menambah wawasan kita dibidang sastra. Banyak pesan yang dapat kita peroleh dari cerpen ini. Diantaranya, keteguhan dalam menjalani hidup, serta nilai-nilai moral dan tradisi kebudayaan yang kental diperlihatkan secara jelas. Namun dalam cerita ini tidak disampaikan bagaimana akhir hidup dari Sri dan Bawuk. Apakah Sri akhirnya jatuh cinta dengan laki-laki tampan yang ia pijat dan akhirnya menikah? Dan apakah Bawuk juga ikut meninggal dalam tragedi penumpasan G 30 SPKI?





Wednesday, March 21, 2012

ANAK-ANAK PELURU


ANALISIS Cerpen Anak-Anak Peluru Karya Damhuri Muhammad
DalamcerpenAnak-Anakpeluruinibanyakkalimatatau kata- kata yang menarik.Sang penulis membuat perumpamaan sebagai gambaran dan kiasan dalam penyampaiannya.Hal  itu terlihat jelas pada cerita pertama ketika sang ibu berbincang dengan anak ketiganya yang memiliki panggilan Ruz. Ibu mengharap kepada anaknya agar anaknya tidak pergi meninggalkan dirinya sedirian. Karena kedua kakaknya telah pergi merantau dan kini tanpa ada kabar. Hal itu menjadikan trauma kepada sang ibu. Sehingga ibu mengharap Ruz tidak melakukan hal yang sama persis seperti apa yang dilakukan oleh kedua kakaknya.
Pada kalimat lain jga disebutkan bahwa Ruz tidak akan meninggalkan Ibunya. Walau ia pergi jauh, ia aan tetap mengingat Ibunya dan pasti akan kembali pada Ibunya.  memastikananaknyapergidanakankembali, Kakak Ruz yang bernama Rehan pergi keJakarta. Ibunya telah mengorbankan hartanya untuk anaknya,hingga Rehan sukses dan menjadi saudagar kaya. Sedang Acin menjadi polisi dan berdinas di Aceh, hingga kini pun entah dimana Ibunya tidak tau keberadaan Acin. Semua pengorbanan Ibu hanya sia-sia belaka, sampai sekarang tiada kabar lagi dari mereka.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah ayah Ruz, yang sejak enam bulan terakhir ini selalu menemani dan merawat neneknya yang sakit-sakitan. Dari delapan bersaudara, hanya ayahnya saja yang bersedia merawat dan mengurus segala keperluan yang dibutuhkan oleh sang nenek. Hal itu menjadikan rumahnya semakin sepi, hanya dua orang yang tingal disana yaitu Ruz dan ibunya.
Sungguh malang nasib keluarga ini. Kepedihan ibu pun bertambah ketika Ruz memutuskan untuk bekerja diluar kota. Disinilah mulai adanya konflik percintaan dibalik hubungan kerja. Ruz mengenal Seorang wanita cantik yang bekerja sebagai seorang pelukis. Selain cantik, wanita itu juga cerdas dan berpengetahuan luas. Keakrapan mereka pun semakin lama semakin bertambah dekat. Pada sebuah janji maka malam, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartement Wafa.Ketika mereka hamper melakukan kencan pertama, tiba-tiba hasrat itu hilang, Ruz pun menggil. Ruz tersentak kaget ketika Wafa melucuti pakaiannya dan ditubuh Wafa penuh dengan bekas luka.
Ruz bertanya pada Wafa, tapi Wafa hanya terdiam dan menangis. Ruz pun bertanya kembali, mengharaf Wafa akan menceritakan semua kejadian apa yang telah membuat tubuhnya penuh dengan luka.Perlahan pun Wafa bercerita tentang kejadian yang tela menimpahnya. Ternyata Wafa adalah korban KDRT dari suaminya sendiri, Idra Setiawan namanya. Setahun lalu ketika Wafa masih berbisnia dan tinggal di Denpasar Bali bersama suaminya. Bahkan, suami Wafa juga pernah hamper membunuh wafa. Oleh sebab itu Wafa pergi atau melarikan diri dari Bali.Sejak itu Wafa menjadi wanita yang suka merokok dan gemar minum minuman ber alcohol alis mabuk.
Beberapa kali Wafa melakukan percobaan bunuh diri, hal itu dilakukannya jarena Wafa ingin menyudahi semua kepedihan dalam hidupnya. Namun Tuhan masih berkehendak lain, karena selalu diselamatkan oleh Ruz. Ruz pernah membawa ke psikiater, dan menanyakan kondisi kejiwaan Wafa. Ternyata Wafa mengalami tekanan batin hingga ia depresi berat.
Sejak kedekatannya dengan WAfa, konsentrasi Ruz hanya tertuju pada Wafa. Bahkan pekerjaannya menjadi tak karu-karuan.Suatu ketika, Wafa melakukan percobaan bunuh diri lagi. Mendengar hal itu Ruz langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Wafa di rawat. Bukannya bersyukur nyawanya masih bias selamat, Wafa malah mengeluh kenapa dia tidak mati saja. Ruz selalu memberikan semangat pada Wafa agar tidak menyerah dalam menjalani hidup ini.
Ruz ingin mengobati penyakit Wafa dengan caranya sendiri. Hal itu dilakukannya dengan memberikan perhatian lebih kepada Wafa. Ruz pun meng hubungi suami Wafa tanpa sepengetahuan dari Wafa. Ia meminta agar suaminya mau melepaskan WAfa dan bersedia menulis surat pernyataan jika Ruz dan WAfa menikah.
Ruz member kabar pada Ibunya dan saudaranya, guna memohon restu untuk menikah.Namun cilaka dua belas, Ibu Ruz bukannya merestui malah mencaci maki dan menyumpahi Ruz. Hal itu dilakukan Ibunya, karena Ibunya takut Ruz lupa kepada Ibunya setelah menikah dengan perempuan rantau seperti halnya kedua kakak Ruz, REhan dan Acin. Ibunya juga mengancam kepada Ruz, jika ia menikahi wanita rantau. Maka ia bukan anak Ibu lagi.
Ruz hanya bias mengurut dadanya, dia tidak pernah menyangka jika ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya berkata seperti itu kepada dirinya. Ruz terheran-heran dan bertanya-tanya kenapa wanita rantau dipermasalahkan, dan apa bedanya wanita rantau dengan wanita lainnya? Bingung, kesal namun tak menjadi halangan bagi Ruz untuk menikahi Wafa.
Selag berapa tahun Ruz menikah dengan Wafa, sejak itu Ruz tidak pernah kembali kerumah. Ruz menjadi anak peluru seperti kedua kakaknya. Peluru setelah ditembakkan, ia takkan pernah kembali kemoncong senapan. Hal itu yang di ibaratkan oleh penulis dalam cerpen ini.Itu aspek kebahasaan ya?
Setiap waktu Ibu selalu menanti dan mengharap kepulangan anak-anaknya. Dalam tiap doa serta selalu sang ibu menulis secarik surat untuk mereka, walau tanpa adabalasa dari mereka. Sampai kputus asaan menghampiri sang Ibu, namun atas dasar apa ibu harus putus asa dalam penantiannya? Sampai terucap kata “Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian!”.
Dalam cerpen ini menceritakan kisah seorang ibu yang selalu menanti dan menunggu serta mengharap kepulangan anak-anaknya yang tanpa kabar keberadaan mereka. Masalah ekonomi dan social selalu membuat manusia berubah hingga 100%. Dalam cerita bagian kedua mengankat persoalan masalah cinta dan serba-srbi dalam cinta. Disana mengisahkan sebuah pernikahan yang hancur karena KDRT dan istri menjadi korban, namun disisi lain ada pahlawan yang datang untuk menolong dan bersedia menjadi pendamping hidup dari wanita itu walau tanpa adanya restu dari orang tua Ruz. Namun dalam bagian terakhir, mengisahkan tentang anak yang tak kembali kerumah sejak menikah dengan wanita rantau. Sungguh kisah yang sangat senduh dan menyedihkan. Cerpen Anak-Anak peluru ini hampir sama dengan kisah malinkundang. Cuma yang membedakan adalah kutukan yang diucapkan oleh sang ibu berbeda dan anak-anaknya tidak menjadi batu, mereka hanya tidak pernah kembali kepada sang ibu.
Pesan yang ingin disampaikan oelh penulis adalah sebuah pengorbanan, harapan,amanat seseorang harus selalu kita jaga. Agar tidak menjadikan kekecewaan dari orang yang memberikan amanat serta kepercayaan kepada kita. Selain itu juga cerpen ini mengisahkan bahwa perjuangan, kemandirian, keuletan serta ketekunan akan membawa keberhasilan. Hal ini dilihat dari kisah dari orangtua Ruz yang selalu membiayai anak-anaknya hingga mereka berhasil menjadi orang-orang yang sukses. Selain itu, dalam cerpen ini juga menggambarkan tentang kisah bakti seorang anak yang mau mengurus orang tuanya walau harus mencuci dan memenuhi kebutuhan orang tua yang sedang sakit.
Kisah cinta kadang bisa membuat semuanya indah namun juga bisa membuat buta dan membuat melupakan semuanya yang telah berkorban demi kita selama ini. Kasih seorang ibu memang tak kan habis hingga akhir masa, namun bakti kita kepada orang tua belum tentu kita bisa melakukan atau mewujudkannya. Dari cerpen ini bisa diambil hikma dari setiap baris kata-katanya guna pembelajaran bagi kita untuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Ingat kawan, hidup ini bukan hanya sesaat dan kita jugu butuh bantuan darinorang lain.
Oleh karena itu, kita harus selalu saling berbagi dan mengerti satu sama lain. terlebih kepada orangtua kita! Karena kita ada didunia ini sebab adanya kedua orang tua kita yang telah melahirkan, mengasuh, membesarkan, mendidik dan mengajari kita tentang arti kehidupan. Sungguh besar jasa dari orang tua kita kepada kita. Namun kita takkan pernah bisa membalas atas apa yang mereka berikan kepada kita.
Seperti dalam cerita diatas sastra sangatlah penting dalam kehidupan setiap manusia. Karena satra adalah sebuah gambaran kehidupan manusia yang dicurahkan melalui pemikirannya menjadi sebuah karya yang indah dan dapat dinikmati oleh khayalak rame. Dalam sebuah cerita dapat kita ambil sebuah hikma dan pesan yang tersampaikan dalam sebuah cerita atau karya sastra.

JURNALISTIK


Pengertian Jurnalistik
Roland E. Wolseley dalam Understanding Magazines (1969:3), jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran.
A.W. Widjaja (1986: 27) menyebutkan bahwa jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual dan faktual dalam waktu secepat-cepatnya.
Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa jurnalistik ialah pencarian berita atau fakta suatu masalah dengan proses pengumpulan informasi untuk disampaikan kepada khayalak  ramai dengan menggunakan media tulis, lisan, cetak, audio ataupun video.
Peran dan Fungsi Jurnalistik
            Peran media  cetak semakin diperhitungkan oleh masyarakat karena memiliki fungsi dan perannya dalam pemberitaan. Achmadi menjelaskan bahwa  peran media masa penting karena : (1) daya jangkau (coverage) yang sangat luas dalam menyebarluaskan informasi, (2) kemampuan melipat gandakan pesan (multiplier of message) yang luar biasa, (3) media dapat mewacanakan sebuah peristiwa politik sesuai pandangan mereka masing – masing, dan (4) fungsi agenda setting yang dimiliki media massa.
            Sementara Dye dan Zeigler (Prawito, 2002 : 3) berpendapat yang mendukung paparan diatas bahwa fungsi pokok media masa antara lain : (1) News making (pemberitaan), media masa mengamati dan melaporkan peristiwa, (2) interpretation (interprestasi), media masa akan menganalisis dana dan member penilaian terhadap kejadian – kejadian , (3) socialization (sosialisasi), media masa berusaha mengindoktrinasi khalayak sehubungan dengan nilai – nilai yang berlaku, (4) persuasion (persuasi), media masa akan berusaha mempengaruhi khalayak, seperti dalam massa kampanye pemilu, (5) agenda setting yakni media massa menentukan apa – apa yang berkenan dengan isu – isu penting, mendefinisikan permasalahan, serta mengajukan saran pemecahan masalah.Dapat kita simpulkan bahwa fungsi dan peran jurnalistik ialah sebagai wadah pemberitaan dan media informasi, hiburan, dan control sosial secara luas kepada masyarakat.

PENGELOLAAN KELAS


1.      Pengertian pengelolaan kelas.
2.      Tujuan pengelolaan kelas.
3.      Berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas.
4.      Pengelolaan kelas yang baik.
5.      Ketrampilan pengelolaan kelas.
6.      Permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan kelas.
7.      Penataan ruang kelas yang kondusif dan menyenangkan.
8.      Penerapan pengelolaan proses belajar mengajar.

2.1 Pengertian pengelolaan kelas
Berdasarkan Otimologi Manajemen ialah “ Tangan” sedangkan dalam bahasa latin adalah “Manus” , “Manage” yang berarti melatih kuda. Dalam bahasa italia adalah “ Managiare” yang berarti melatihh kuda untuk menindak-nindakan langkah kakinya.
Menurut The Ling Gie yang dimaksud dengan managemen  ialah kemimpinan, ketatalaksanaan, pembinaan, penguasaan, pengurusan ( The Liang Gie. 1972 : 243 )
Menurut Suharmini Arikunto (1988) berpendapatbahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan kondisi belajar yang optimal.
Menurut definisi operasional, pengelolaan kelas merupakan penyedisan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar.memungkinkan blajar dan mengajar tercapainya suasana kelas yang memberikan kepuasan, disiplin, nyaman dan penuh semangat sehingga terjadi peerkembangan intelektual, emosional dan sikap serta operasional siswa ( Sudirman M : 1991 )
2.2 Tujuan pengelolaan kelas
Secara umum pengelolaan kelas adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran .
Karakter kelas yang dihasilkan karena proses pengelolaan kelas ada 3 ciri yakni :
1.      Speed, artinya anak dapat belajar dalam percepatan proses dan progras.
2.      Simple, artinya organisasi kelas dan materi menjadi sederhana, mudah dicerna dan situasi kelas kondusif.
3.      Self-confidence, artinya anak dapat belajar dengan penuh rasa percaya diri atau menganggap dirinya mampu mengikuti pelajaran dan belajar berprestasi
2.3 Berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas
Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan,hal tersebut bisa di telaah seperti uraian berikut.diantara pendekatan sebagai berikut :

1.      Pendekatan kekuasaan
Ciri yang utama pada pendekatan ini adalah ketaatan pada pemilik kekuasaan.
2.      Pendekatan bebas
Pengelolaan kelas bukan membiarkan anak belajar dengan Laissez- Faire, tapi memberikan suasana dan kondisi belajar yang memungkinkan anak merasa merdeka, bebas , nyaman, penuh tantangan dan harapan dalam melakukan belajar.
3.      Pendekatan keseimbangan peran
Pendekatan ini dilakukan dengan seperangkat aturan yang disepakati guru dan murid.
4.      Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini menghendaki lahirnya peran guru untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang menguntungkan prosespembelajaran.
5.      Pendekatan suasana emosi dan social
Pengelolaan dimana kelas merupakan proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan social yang positif dalam kelas.
6.      Pendekatan kombinasi
Pada pendekatan ini bisa menggunakan beberapa pilihan tindakan  untuk mempertahankan dan menciptakan suasana belajar yang baik

2.4 Pengelolaan kelas yang baik
Menurut Bobby De Potter Dkk. (2000) terdapat beberapa moralitas dalam reseppengelolaan pembelajaran dikelas, yakni sebagai berikut.
1.      Dari dunia mereka ke dunia kita
Prinsip menjembatani jurang antara siswa dan guru
2.      Cermati modalitas  V - A - K
Kebanyakan orang memiliki  akses tiga modalitas – visual , auditorial dan kinetic.
3.      Model kesuksesan dari sudut pandang perancang
Guru selalu mengelola  secara cermat rencana pengajaran untuk penuh kehangatan dan antusias
4.      Pertemuan kecerdasan berganda
Penemuan terkini tentang kecerdasan menunjukan bahwa ternyata setiap orang memiliki kecerdasan.
5.      Penggunaan metafora, perumpamaan dan sugesti.
2.5 Keterampilan pengelolaan kelas
Keterampilan pengelolaan kelas secara praktis berkaitan dengan usaha mempertahankan kondisi kelas dan mengembangkan iklim kelas.
1.      Usaha mempertahankan kondisi kelas
Tehnik mempertahankan kondisi kelas dilakukan denagn cara menunjukan sikap tanggap
2.      Usaha mengembangkan iklim kelas
Mengembangkan iklim kelas , memiliki arti penata ulang kondisi yang kurang akseptabel.
2.6  Permasalahan-permasalahan yang di hadapi dalam pengelolaan kelas
Menurut Made Pdarto, masalah-masalah pengelolaan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa seperti :
1.      kurangnya kesalahan antar siswa, karena perbedaan gender (jenis kelamin), rasa tidak senang, atau persainagn tidak sehat.
2.      Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya rebut, bercakap-cakap, pergi kesana kemari dan sebagainya.
3.      Terkadang timbul reaksi negative terhadap anggota kelompok
4.      Kelas mentolelir kekeliruan temannya
5.      Mudah mereaksi negative/ terganggu
6.      Moral rendah, permusuhan, sikap agresif.
7.      Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkunganyang berubah
Sedangkan beberapa sumber masalah yang datang dari pihak guru misalnya karena pikiran guru, banyak pekerjaan, gaya mengajar dan pengendalian emosi



2.7 Penataan ruang kelas yang kondusif dan menyenangkan
Nilai sebuah halaman sekolah
1.      ruang kelas
ruang kelas adalah dapur kreativitas yang harus mengalir inspirasi pikiran-pikiran brilian.
2.      Bangku belajar
Bangku merupakanfasilitas interaksi belajar terdekatdenga siswa, karena itu perlu ditata rapi agar dapat memberi kesegaran berfikir.
3.      Vas bunga
Bunga dapat di identikan dengankebahagiaan dan kesegaran.
4.      Hiasan dinding
Dinding merupakan pajangan pesan setiap hari yang bisa diubah, diganti sesuai pesan yang diinginkan.
5.      Music
Music ditata tepat waktu dan situasi dapat membantu menata suasana hati, mengubah keadaan mental dan dapat membantu belajar lebih baik dan mengingat lebih banyak
6.      Rak buku
Rak buku kelas merupakan miniature perpustakaan.





2.8  Penerapan pengelolaan proses belajar mengajar
Kemampuan mengelola proses belajar mengajara yang baik akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak untuk belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran.
Tugas dan peranan guru dalam implementasipengelolahan proses belajar mengajar menurut Syaiful Bahri Djamarah  (2002), adalah sebagai berikut :

1.      Perencanaan
·         menetapkan apa yang akan, kapan dan bagaimana cara melakukannya.
·         Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil maksimal melalui proses penentuan target.
·         Mengembangkan alternative-alternatif tindakan
·         Mengumpulkan dan menganalisis informasi
·         Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.
2.      Pengorganisasian
·         Menyediakan fasilitas, perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan
·         Mengelompokkan kelompok kerja kedalam struktur organisasi secar teratur.
·         Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi
·         Merumuskan , menerapkan metode dan prosedur
·         Memilih, mengadakan latihan dan kependidikan tenaga kerja serta mencari sumber sumber yang diperlukan.
3.      Pengarahan
·         Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci.
·         Memprakarsai dan menampilkan pelaksanaan rencana dan pengambilan keputusan.
·         Mengeluarkanintruksi –intruksi yang spesifik
·         Membimbing, memotivasi dan melakukan supervise
4.      Pengawasan
·         mengevaluasi pelaksanaan kegiatan
·         melaporkan penyimpangan dan merumuskan serta menyusun standar-standar dan sasaran-sasaran tindakan koreksi.
·         Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan.
Kesimpulan
Pengelolaan kelas sangat dibutuhkan guna menciptakan pendidikan yang lebih bermutu dan berkualitas.


Terima kasih








JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...