Friday, March 16, 2012

KRITIK SASTRA


MAKNA DALAM PUISI


Karyasastra merupakan suatu hasil karya yang dibuat oleh seseorang yang bertujuan untuk dapat di nikmati oleh masyarakat. Karya sastra biasanya menceritakan pengalaman atau berdasarkan realita maupun berdasarkan imajinasi dari penulis itu sendiri. Suatu karya sastra dapat dikatakan memiliki nilai sastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk dan isi sebuah karya sastra harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya
Puisi merupakan bentuk karya sastra ungkapkan perasaan penyair secara realita maupun imajinasi yang dirangkai dengan kata-kata yang indah. Sebuah puisi memiliki sebuah makna yang tersirat, sehingga para pembaca merasa penasaran ingin menyelami arti dari puisi tersebut. Makna itu tidak hanya dilihat dari kata yang ditulis dalam puisi namun bisa dilihat dari bentuk penulisan atau tipografi puisi tersebut.
Pada puisi-puisi dibawah ini yang memiliki makna ganda walaupun ditulis dengan kata yang tidak asing. Misal puisi  aku ingin, pada sebuah bunyi, bulan yang sepotong, dan puisi doa.
Dalam puisi “ aku ingin “ Pengarang pandai dalam pemilihan kata, karena pada penulisannya hanya ditulis dengan kata-kata yang sederhana. Sehingga mudah dipahami dan kata yang ditulis dalam puisi itu tidak asing bagi pembaca. Misal pada baris satu dan dua:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Pengarang menuliskan syair dalam puisinya dengan kata-kata yang biasa di unggkapkan oleh seseorang, sehingga lebih mudah dipahami oleh para pembaca.
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikan abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono, ( 1989 )

Dalam puisi ini pengarang menceritakan sebuah penyesalan yangteramat dalam. Karena tidak sempat mencurahkan apa yang ingin disampaikan kepada seseorang yang disayanginya. Hal itu terlihat pada syair
“Kayu kepada api yang menjadikannya abu, Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada“.
Jika kayu yang dibakar sudah menjadi abu, maka  abu itu tidak akan bisa menjadi kayu kembali. Hal itu menunjukkan sebuah penyesalan sebuah kejadian yang telah berlalu dan tidak mungkin bias kembali lagi.
Aku
(Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Puisi “Aku” karya Chairil Anwar sebuah hasil karya yang sangat luar biasa, walau menggunakan kata- kata yang sederhana pula, namun memiliki makna yang mendalam.
Kata “aku ini binatang jalan dari kumpulannya terbuang” merupakan bentuk kerendahan hati sang penyair. Meski dari kalangan bawahan yang terpinggirkan, bukan berarti kita harus putus asa dan minder terhadap sesuatu yan mewah, namun sebaliknya. Kita harus termotifasi dan terus berjuang.

Namun pada bait Dan aku akan lebih tidak perduli, Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Terlihat jelas keangkuhan sang penulis, namun hal itu adalah sebuah motifasi hidup yang harus dmiliki oleh setiap manusia yang hidup didunia.
Sekilas, puisi ini dapat diartikan sebuah semangat dalam memperjuangkan sebuah hidup. Meski banyak rintangan dan cobaan, kita harus selalu berjuang, supanya segala hal yang telah dicita-citakan dapat tercapai.
Puisi “ pada sebuah bunyi “ memiliki perbedaan dari puisi yang lain karena dari segi bahasanya hanya menggunakan kata, yaitu “ ting tong”.
Pada Sebuah Bunyi
Ting…
Tong…
Ting…
Tong…
Tong…
Ting…
Ting…
Tong…
Tingtong…
Tong..
Tongting…

( si bendz )
Penulisan kata ting dan tong ditulis berulang-ulang seperti membentuk irama tersendiri. Pemilihan kata ini menimbulkan keanehan dan menimbulkan sebuah kebingungan dalam menentukan makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Misal pada baris satu sampai tiga:
Ting…
Tong…
Ting…
Kata dalam puisi itu bisa bermakna bahwa sifat atau watak manusia yang berubah-ubah tanpa henti.
Penulisan puisi pada baris ke sembilan sampai sebelas juga unik, karena penulisan puisi sebelumnya ditulis dengan satu kata. Namun sedikit mengalami perubahan bentuk, yaitu penggabungan kata :
Tingtong…
Tong..  
Tongting…
Penggabungan kata yang menjadi satu tersebut dapat bermakna bahwa dalam sifat baik dan buruk manusia bisa selaras atau seimbang dan kadang bisa itdak seimbang lalu kembali seimbang lagi. Penggambaran itu terlihat dalam penulisan puisi tersebut.
Pengarang sengaja menuliskan puisi seperti itu agar pembaca bisa mencari makna yang terkandung dalam puisi unik tersebut. Bagai memecahkan sebuah masalah yang rumit/ teka-teki yang membutuhkan pemahaman dan penalaran yang tinggi.
Dari pembahasan puisi diatas dapat disimpulkan bahwa setiap karya sastra memiliki sebuah perbedaan dari berbagai sudut pandang, namun perbedaa itu memiliki sebuah makna atau pesan yang terkandung didalam sebuah karya sastra tersebut. Kita selaku pembaca, sudah selayaknya untuk bias mengambil semua hikma dan dapat memberikan penilaian pada sebuah puisi atau karya sastra yan lain. Guna, menambah pengetahuan kita dalam bidang sastra.

No comments:

Post a Comment

JOGO TONGGO (GOTONG ROYONG SAK LAWASE)

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas program Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani Covid-19, yaitu p...